Cerita Sex cerita ngentot Cerita Dewasa thor hammer Cerita Sex cerita dewasa terbaru
Cerita Bokep, Cerita Bokep Terbaru
Breaking News
cerita dewasa Cerita Mesum Cerita Mesum Cerita Dewasa Cerita Sex

Bercinta Dalam Gua

Cerita Ngentot

Bercinta Dalam Gua –  Aqu memang bekerja di suatu Bank yg berpusat di seputaran segitiga emas Jakarta. Sebelum ini, aqu menjabat sebagai Head di Dept. Customer Care (bukan Customer Service lho!). Tugas dept ini
khususnya untuk melayani complain customer yg kurang puas dgn pelayanan maupun product
corporate kita. Sebagai petugas di CC, tentu aja dipilih perempuan-perempuan yg smart, ayu, enak
dipandang, berpengetahuan luas, keep smile dan perfect dalem penampilan. Tak direferensikan
perempuan yg berpenampilan terlalu sexy dan genit-genit (ini kalau di dalem jam kerja lho!). Sebab
perempuan semacam itu dikalangan Top Managemen perusahaan-perusahan besar termasuk MNC
(Multi National Corporation) malah dipandang sebagai norak dan katrok.

Nah, perkenalanku dgn Sesha (masih inget, kan? Itu, kawan aqu yg bersebadan secara three in one
dgn Rado dan waktu itu masih cupu dalem blantika perselingkuhan), juga dimulai dari sini. Sebagai
Prime Customer di Bank kita (saldonya di tabungan waktu itu sebesar 10 digit mid – tanya ndiri ama
kawan kamu yg karyawan bank, kira kira berapa itu) dia sering mengajukan complain terutama
mengenai bunganya yg dipandang terlalu rendah (tentu aja, kerana ditaruh di tabungan sih.) Kerana
anak buahku mulai kuwalahan menghadapi dia, maka akhirnya aqu sendiri yg menemui. Aqu
anjurkan kalau ingin dananya cepat berkembang, dipindahkan aja ke money market/bursa saham.

Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Terbaik, Cerita Dewasa Nyata, Cerita Dewasa HotCerita Dewasa

Rupanya Sesha tertarik akan anjuranku, sehingga nyaris seluruh dananya dipindahkan ke money
market/bursa saham melalui Treasury Dept di Bank kita juga. Mungkin kerana keberuntungan
sedang menaungi Sesha, maka dalem kurun waktu tak sampai 1 bulan dananya melejit sampai
sebesar 11 digit low. Cuma, kerana terjadi gonjang ganjing di money market/bursa saham (kalau
tak salah inget, ini akibat George Bush ngotot mau nyerang Korea Utara, akibat masalah peluru
kendali berhulu ledak nuklir itu – ini kalau tak salah inget lho. Jadi kalau salah jangan di complain),
maka buru buru aqu hubungi Sesha, supaya dananya ditarik semua dan ditaruh lagi di rek tabungan.
Walaupun pihak Treasury nyap nyap ke aqu, Sesha setuju dan makin berjayalah dia dgn saldo
tabungan yg nyaris 2 kali lipat dari uangnya semula dalem kurun waktu kurang dari 1 bulan. Tentu
saja Sesha sangat berterima kasih atas jasaqu (padahal yg berjasa, kawan-kawan di treasury dept
sana).

Sejak waktu itu hubungan kita menjadi amat erat sampai seperti saudara, termasuk soal curhat
mengenai masalah kehidupan sexnya, dan sebagai tanda terima kasih aqu dibelikan sebuah mobil
Honda Jazz warna Pink kesukaanku sebagai ganti mobil Toyota Starletku yg sudah uzur. Eit…, tapi
nanti dulu, kalau kalian melihat perempuan nyetir Honda Jazz warna Pink, belum tentu itu aqu,
kerana aqu sekarang ini malah jarang sekali memakai mobil itu. Kenapa? Nanti kalian akan tahu
sendiri di akhir cerita ini. Maka, baca terus ya? Jadi sebenarnya ceritaqu ini benar-benar true story.
Cuma, untuk lebih memanaskan situasi, aqu bumbuin dgn bumbu-bumbu disana sini.

Nah, sekarang mengenai Ki Gendhing Tresno (Sesha dan Gendhing Tresno bukan nama sebenarnya).
Dari beberapa kawan suamiku, aqu mendapat kabar dia sekarang pindah ke desa terpencil di lereng
utara gunung Lawu, namanya desa Jnw. Disana, disamping berprofesi sebagai dukun, dia rajin
membudidayakan tanaman hias yg harganya tak masuk akal itu, semacam antharium, jemani dan
tanaman lain yg aqu lupa namanya. Singkat kata, kerana dia masih aqu anggap sebagai “suhu” dalem
kehidupan sex ku, aqu kangen sekali untuk menemuinya sekali-sekali. Maka pada akhir Januari
sampai awal Februari 2007 lalu, aqu menyempatkan diri untuk mengambil cuti tahunan selama 12
hari kerja supaya bisa berlibur ke dekat-dekat sana yaitu daerah wisata Tawangmangu. Kerana Dept
CC tak banyak membuat laporan bulanan Bank pada akhir bulan, maka cutikupun disetujui Boss.

Sengaja aqu mengambil penerbangan ke kota Yogya, kerana ingin melihat-lihat obyek wisata disana,
maka aqupun berangkat sendiri. Tapi yaitu coy, penerbangannya ditunda sampai 2 jam! Kesel deh!
Pantesan penerbangan Indonesia dilarang terbang ke Uni Eropa sekarang ini! Habis brengsek sih!
Akhirnya, setelah menunggu, sampai juga aqu ke kota budaya tersebut. Sehari disana, esoknya dgn
menyewa sebuah mobil dari kota tersebut, dibekali dgn map wisata, aqu tancap gas menuju kearah
tujuan. Jalannya mulus lho, nggak nygka. Singkatnya, setelah bertanya-tanya di tempat tujuan, dgn
diringi pandangan aneh aqu ditunjukkan rumah Ki Gendhing Tresno (aqu lupa bahwa aqu
perempuan kota yg cakep, bermobil, dan Ki Gendhing Tresno adalah dukun sex. Pantesan orang-
orang pada memandang curiga).

“Selamat siang, Ki …….” sapaqu pada Ki Gendhing Tresno yg sedang sibuk menyiangi tanaman.
“Selamat siang, cari siapa mbak ?”
“Lho, Aki lupa ya, aqu kan Mia dari Jakarta yg pernah Aki obati dulu” keterlaluan ini Aki, mosok dgn
aqu, perempuan segini cakep yg pernah disebadani dulu, bisa dilupakan begitu saja.
“Oh, maap neng, mari… mari … silahkan masuk” jawabnya mempersilahkan aqu masuk rumahnya yg
lumayan asri kerana terletak di daerah ketinggian lebih dari 1000 m dpl dikelilingi perkebunan teh yg
indah.

Setelah basa basi sebentar sambil mengeluarkan oleh-oleh dari kota, aqu mengatakan bahwa aqu
cuma kangen aja ama dia.

“Begini neng, kebetulan sekali hari ini Kitas wage malam Jum’at kliwon, kebetulan bulan Suro
ditahun Be (aqu baru tahu kalau tahun Jawa ada namanya), jadi Aki agak menahan diri dalem hal
persebadanan. Tapi kebetulan malam ini Aki akan menjalankan ritual di desa Bbr (lebih tinggi lagi
dari desa Jnw ini, sekitar 2000 m dpl) disebuah goa yg bernama goa Gelap Ngampar yg angker (gelap
berarti geledek, ngampar berarti menyambar, setahuku goa tersebut merupakan mata air sebuah
sungai yg legendaris dan terletak di lereng selatan gunung ini, bukan disini. Tapi biarlah, apalah
artinya sebuah nama).

“Kalau neng berminat bisa ikut Aki, disana neng bisa melaqukan ritual, yaitu mengajukan
permohonan sambil bersebadan dgn penunggu goa tersebut yg bernama Kanjeng Pangeran Kudo
Narpati. Saratnya, supaya permohonan dikabulkan, neng harus bisa membuat Kanjeng Pangeran
klimaks. Tapi neng tak boleh klimaks lebih dari 3 kali”

Mendengar ini jiwa petualanganku seperti tertantang, maka tantangan itu aqu sanggupi.
“Tapi kemaluannya besar sekali neng, jauh lebih besar dari kemaluan Aki”
Tambah tertantang aqu untuk merasakan seberapa besar kemaluan orang yg disebut Kanjeng
Pangeran ini. Maka, singkat kata, kita berdua menuju tempat tersebut dgn menyewa 2 buah ojek,
kerana daerahnya tak bisa dilalui mobil. Sampai didekat desa tersebut kita turun.

“Dari sini harus jalan kaki neng, kerana kita harus menuju bukit didepan itu dan tak ada jalan yg
menuju kesana”

Mati aqu, padahal jalan ke bukit yg ditunjuk itu menanjak dan aqu taksir jaraknya sekitar 4 km atau
lebih. Tapi kerana sudah kepalang basah, aqu turuti juga Ki Gendhing Tresno ini. Benar juga, setelah
berjalan sekitar 2 jam, kita sampai didepan mulut goa. Sepertinya bukan goa ya, kerana diatas goa
ditumbuhi beberapa pohon beringin yg besar sekali, dan akarnya seperti mencengkeram cadas
berlobang dibawahnya (aqu tersenyum sendiri, inget waktu kemaluanku mencengkeram kemaluan
Rado erat-erat). Sebuah akar besar menjulur membelah mulut goa sehingga membuat bentuk mulut
goa tersebut seperti dua buah mata jin yg menatap tajam kearah aqu. Kerana hari mulai gelap dan
keadaan sepiiii sekali ditambah hawa yg dingin menusuk tulang membuat situasi menjadi bernuansa
mistis sekali. Hampir saja aqu balik kanan untuk pulang. Tapi aqu pikir lagi, kenapa taqut? Apa yg
ditaqutkan? Taqut diperkosa oleh Ki Gendhing Tresno? Atau oleh orang yg disebut Pangeran Kudo
Narpati? Bukankan kedatanganku kesini justru untuk mencoba dan merasakan kehebatan kemaluan
mereka? Memikir itu maka dgn mantap kuikuti langkah Ki Gendhing Tresno memasuki mulut goa.
Ternyata goa itu seperti terbagi 2 bagian. Bagian yg aqu masuki agak lebar lalu menyempit lagi
membentuk seperti sebuah pintu yg agak rendah. Dekat dinding goa yg aqu masuki terdapat sebuah
balai-balai dari bambu yg dilapisi dgn tikar dari daun pandan. Dan anehnya diruangan ini hawanya
agak hangat. Ki Gendhing Tresno segera menyalakan dua buah obor bambu yg rupanya disediakan
disitu, entah oleh siapa. Setelah dinyalakan, suasana malah jadi romantis sekali, seperti candle light
party. Tapi suasana itu langsung berubah menjadi mistis setelah Ki Gendhing Tresno membakar
kemenyan pada tempat arang yg dinyalakanya (orang sini menyebutnya anglo) sambil menabur
bunga setaman yg dibawa dari rumah.

“Neng harus menunggu sampai menjelang tengah malam kerana Njeng Pangeran baru kerso tedak
(mau datang) pada tengah malam nanti” kata Ki Gendhing Tresno memecah kesunyian.
“Sebelum itu neng harus sesuci dulu” lanjutnya.

Ternyata yg dimaksud dgn sesuci adalah dimandikan dgn air kembang setaman, dan perempuannya
harus tak dalem keadaan sedang menstruasi. Tentu saja aqu tak! Sebab kalau sedang menstruasi,
ngapain aqu kesini? Acara selanjutnya, aqu dimandikan oleh Ki Gendhing Tresno dgn air yg mengalir
dari dalem goa dicampur dgn kembang setaman. Wuih, duingin sekali coy, sampai mengkerut semua
peralatan badanku. Termasuk bibir kemaluan dan buah dadaku, bahkan pentil buah dadaku mengkerut
dan menjadi keras sekali. Aqu berpikir, beruntung sekali Ki Gendhing Tresno ini, entah berapa
perempuan yg sudah diraba-raba badan telanjangnya dan disebadaninya (orang sini menyebut
dianceli). Tapi kerana keinginanku untuk segera mencoba kehandalan kemaluan Njeng Pangeran
tersebut. Maka perasaan dingin tersebut tak kuhiraukan. Menjelang tengah malam, Ki Gendhing
Tresno memberi aqu segelas ramuan yg harus kuminum dan lalu menyuruh aqu memasuki
pintu tersebut untuk bersemedi didekat batu rata yg katanya terdapat diruangan itu.

Maka dgn badan telanjang bulat dan hati berdebar-debar, aqu lalui pintu tersebut dan langsung
menuju ke batu rata yg ternyata luas sekali, hampir seluas tempat tidur no 1. Disampingnya terdapat
batu yg agak kecil. Aqu segera tahu bahwa batu tersebut buat duduk orang yg bersemedi. Segera
aqu duduk dan… nyeessss….. bokongku langsung dirasuki perasaan dingin seperti menduduki
sebongkah es batu. Dgn menguatkan diri aqu langsung diam bersemedi. Entah kerana pengaruh
minuman yg diberikan Ki Gendhing Tresno atau pengaruh lainnya, badan telanjangku perlahan-lahan
merasa hangat dan nyaman sekali. Tetapi tiba-tiba badanku terasa makin ringan dan ruangan
disekitarku terasa bernuansa aneh sekali. Lalu badanku terasa berputar kencang dan……
bummm…. Badanku terpental dan tahu-tahu aqu sudah terlentang di tempat tidur yg empuk dan
wangi. Aqu perhatikan tempat tidur tersebut berkelambu tapi kelambunya sudah disibakkan dan
tiang-tiang kelambunya berukir kepala kuda warna kuning yg menurut pendapatku, itu emas. Sedang
spreinya terbuat dari kain semacam sutera dan bau wanginya ternyata berasal dari bunga-bunga yg
ditaburkan keatasnya. Yg dominan adalah bunga melati, lalu sedikit mawar dan bunga agak
panjang putih kekuningan, kalau tak salah namanya kantil. Belum sempat aqu mengamati semua
keanehan ini tiba-tiba dari arah dalem goa datang seorang laki-laki yg… alamak! Tadinya aqu kira
Rado adalah cowok yg paling maco dan menarik di seluruh dunia. Tapi yg ini, jauh lebih menarik.
Badannya tinggi dan kekar. Lebih tinggi sedikit dari Rado, kulitnya kelihatan mulus kuning langsat
keputihan dan bersinar ditimpa sinar yg entah berasal dari mana. Rambutnya kelihatan halus
tergerai sampai ke bahu, hidungnya mancung dan matanya, aqu baru ingat pesan Ki Gendhing
Tresno bahwa aqu tak boleh menatap matanya. Itu tak sopan, katanya. Jadi bertentangan dgn
pelajaran Effective Comunication yg pernah aqu dapat. Jadinya aqu lantas menunduk, sedang
mataqu tetap melirik kearahnya. Dia memakai semacam kimono dari sutera dan (ini aqu yakin) dia
tak memakai pakaian dalem! Kerana jelas sekali kemaluannya menyeruak sehingga kimono
terangkat ke depan. Membayg besar sekali kemaluannya. Kemaluanku langsung berdenyut
membaygkan kemaluan itu memasuki kemaluanku. Wuih, sudah kebayg betapa nikmatnya.

“Diajeng …… “ mati aqu, suaranya lembut sekali tapi amat berwibawa.
Aqu pun gemetar sekali seperti seorang perawan yg baru pertama kali berdiri telanjang dihadapan
kekasihnya. Tak tahu aqu harus menjawab apa.
“Diajeng,…… coba tolong buka pakaian kanda ini”

Dgn gemetar aqupun berdiri untuk menanggalkan pakaiannya. Ternyata kulitnya halus sekali, tapi
seluruh badannya ditumbuhi rambut yg amat halus. Tambah berdenyut kemaluanku membaygkan
betapa nikmatnya nanti seluruh badanku digesek-gesek rambut ini. Sampai pada kancing paling
bawah (kancingnya emas coy, emas beneran!), tanpa sengaja tanganku menyentuh kemaluannya.
Secara reflek kutarik tanganku, tapi tiba-tiba tangannya (yg ternyata juga amat halus) menarik
tanganku kembali dan berkata:

“Pegang saja diajeng, tak apa apa …….”
Maka setelah kutanggalkan pakaiannya, sambil jongkok kuraih kemaluannya. Begitu terpegang dan
kuamati dgn seksama langsung aqu terpekik
“Mamamia……” pekikku menyebut namaqu sendiri.

Ternyata kemaluan itu benar-benar besar dan panjang sekali, hampir tak dapat kupercaya. Mungkin
hampir 30 cm, dan besarnya, jari-jari tanganku sama sekali tak bisa melingkari seluruh besar
batang kemaluannya. Hanya anehnya, dia tak mempunyai jembut. Ada sih, bulu-bulu halus
disekitarnya, tapi bukan jembut. Aqu membaygkan, apa bisa kemaluan sebesar ini masuk ke
kemaluanku? Tapi setelah kupikir lagi, baby saja bisa melalui kemaluanku, masa kemaluan ini tak
bisa? Maka dgn keberanian yg luar biasa kuelus-elus kemaluan itu dan secara reflek kucium-cium
juga. Rupanya dia keenakan juga kerana lalu dia elus-elus rambutku. Bertambah berani aqu.

Maka selanjutnya kucoba untuk mengisapnya. Ternyata tak masuk ke mulutku. Akhirnya setelah
kucoba lagi tetap tak bisa, kemaluan itu hanya aqu jilat-jilat saja. Tiba-tiba dia membungkuk dan
langsung memondong badan telanjangku. Sambil dipondong dihisap-hisapnya buah dadaku, tentu
saja aqu menggelinjang-gelinjang kegelian kerana nafsuku sudah tambah memuncak. Tak lama
lalu badan telanjangku dibaringkan telentang di tempat tidur tersebut. Aqu tentu saja sudah
tahu acara selanjutnya. Maka kutekuk kakiku sambil mengangkangkan pahaqu lebar-lebar. Dan
benar saja, tak berapa lama kemaluan itu menghampiri tepat dilobang kemaluanku. Tapi acara
selanjutnya membutuhkan perjuangan hebat. Soalnya kemaluan sebesar itu benar-benar susah
sekali untuk memasuki kemaluanku. Untunglah, kemaluanku sudah mulai banjir dan aqu termasuk
sudah piawai dalem blantika persebadanan. Maka sedikit demi sedikit walau dgn rasa sakit yg agak
lumayan, berhasil juga kemaluan itu kutelan dgn kemaluanku. Tapi ya ampun, ternyata tak
seluruhnya masuk, hanya sekitar tiga per empatnya, itupun sudah kuusahakan sedapatnya dan
dinding kemaluanku sebelah dalem rasanya sudah mentok oleh kemaluannya. Rupanya dia maklum
juga akan hal ini. Kerana ternyata, pelan-pelan dia mulai memompa kemaluanku. Tentu saja mula-
mula pelan-pelan, setelah dirasa kemaluanku tambah membanjir maka pompaan kemaluannya jadi
semakin cepat. Celakanya, saudara-saudaraqu sebangsa, setanah air dan sehobby, dgn penuhnya
kemaluanku diisi oleh kemaluan besarnya, otomatis daerah sensitive didalem kemaluanku (G-Spot)
bolak balik tergesek oleh kemaluannya. Sudah barang tentu aqu menggelinjang-gelinjang hebat
menerima gesekan-gesekan tersebut. Dan benar saja, tak sampai setengah jam, mulutku sudah
mulai meracau tak keruan :

“Ooocchh, kanjeng……. akkuuu mmauuuu… kkeeluaarrrrr….” Mendengar rintihanku makin gencar
dia memompakan kemaluannya ke kemaluanku sampai-sampai aqu lupa bahwa aqu harus membuat
dia klimaks dan ….
“Oouuccgghhh…. mmmhhhhhh…. aacchhh… uuggcchhhh…. mmmhhhhh…… kkannjjeeengggggggg…..
aakkuuu mmaauuu….” dan ……….. wuuusssshhhhh .. sampailah aqu pada klimaksku yg pertama
malam itu sambil kurengkuh erat-erat badan halusnya.

Rupanya dia mengerti keadaanku, buktinya walaupun tak mencabut kemaluannya yg masih
ngaceng tegar dari kemaluanku, dia menghentikan kegiatannya. Sambil tetap membiarkan
kemaluannya tertancap di kemaluanku, tangannya meraih kesamping dan tahu-tahu tangannya
sudah memegang cangkir kuning berpahatkan kepala kuda berisi semacam ramuan. Aqu sama sekali
tak tahu siapa yg meletakkan ramuan itu. Lalu tangan satunya mengangkat kepalaqu dan
menyuruh aqu meminum ramuan tersebut. Rasanya agak-agak manis keaseman begitu, tapi kutelan
juga, siapa tahu berkhasiat. Benar juga tak sampai 5 menit, badanku sudah mulai hangat dan segar
sekali, maka segera kugoyg-goygkan bokongku dan kuempot-empotkan kemaluanku untuk
mencengkeram kemaluannya. Rupanya dia mengerti isyaratku tersebut dan dgn perlahan dia mulai
memompakan kemaluannya kembali. Kali ini aqu mulai bisa menguasai keadaan. Kugoyg goyg dan
kuputar-putar bokongku, sehingga ketika tak sengaja kutatap matanya, kulihat dia mulai merem
melek keenakan. Tapi lagi-lagi aqu mulai menggelinjang-gelinjang hebat ketika daerah G-spot ku
tergesek-gesek kemaluannya. (Mestinya aqu cari tahu dulu bagaimana cara menutup daerah itu).

Bagaimanapun aqu harus berusaha keras membuat dia klimaks sebelum aqu mencapai klimaksku
yg ketiga. Begitulah, setelah persebadananku yg kedua ini berlangsung hampir satu jam, kulihat
matanya tambah merem melek dan nafasnya mulai mendengus-dengus. Kutarik lehernya supaya
aqu bisa mencium bibirnya. Selanjutnya sambil aqu menggoyg-goygkan bokongku, aqu mulai
menyedot-nyedot bibirnya dan lidahku mencari-cari daerah yg paling sensitive dirongga mulutnya.
Rupanya daerah itu ada disekitar langit-langit rongga mulutnya. Terbukti, setiap kali kusentuh
daerah itu dgn lidahku, badannya terasa bergetar. Maka tambah beringas aqu menggoyg-goygkan
bokongku sambil lidahku menggesek-gesek langit-langit rongga mulutnya. Berhasil! Dia tambah
bernafsu memompakan kemaluannya kekemaluanku sambil mendengus-dengus dan merem melek.

“Uucchhhh….. eeccchhhh… mmmmmhhhhh…… heh, heh, dddiajjeengggg……” rintihnya.
Tapi aqu sendiri ternyata lupa menjaga daerah G-Spotku, sehingga kerana tergesek-gesek begitu
hebat oleh kemaluannya yg luar biasa besar itu, aqu duluan tak tahan lagi.
“Oocchhh, kkaannjjeeennggg…. Aakkkkkuuuuu…. Kkkeellluuaaarrrrrrrr……… ooocccchhhhhhhh……..”
jeritku tak tertahan dan sampailah aqu pada klimaksku yg kedua, sedang dia kulihat agak kecewa
melihat aqu terbaring lemah sambil masih menjepit kemaluannya yg masih ngaceng tegar itu.

Selanjutnya, seperti tadi, dia mengambilkan aqu ramuan yg harus aqu minum. Kali ini dua cangkir
sekaligus. Kerana penasaran, aqu meminta secangkir lagi yg diturutinya sambil tersenyum manis.
Akibatnya, tak terbaygkan. Badanku terasa amat panas, tapi badanku amat segar seperti belum
mengalami klimaks, sedang gairahku untuk bersebadan memuncak tinggi sekali. Belum pernah aqu
merasakan gairah seperti itu. Maka tanpa sungkan-sungkan kugoyg lagi bokongku dan kuempot-
empotkan kemaluanku sejadi-jadinya. Anehnya, kemaluannya yg luar biasa panjang dan besar itu
bisa tertelan seluruhnya kedalem kemaluanku. Mungkin kemaluanku yg melar atau kemaluannya yg
mengkerut aqu tak memikirkannya lagi. Dalem benakku hanya terpikir bahwa aqu harus berhasil
mengeluarkan sperma dari kemaluannya dgn kemaluanku ini sebelum aqu mengalami klimaks yg
ketiga.

Dia pun melayani gairahku dgn hebat. Dihunjam-hunjamkannya kemaluannya dgn keras dan
bernafsu sambil mendengus-dengus hebat dan matanya tambah merem melek tak karuan. Mungkin
pengaruh ramuan tadi atau kerana sudah klimaks dua kali, daerah G-Spot ku seperti tertutup dan
tak terasa geli lagi digesek-gesek oleh kemaluannya. Dia malah sebaliknya, nafasnya tambah
mendengus-dengus tak karuan, matanya tambah merem melek, malah cenderung mendelik-delik,
dan genjotan kemaluannya di kemaluanku tambah bersemangat dan keras. Dan akhirnya, sekitar
dua jam lalu, seiring dgn makin kencangnya jepitan kemaluanku pada kemaluannya, dan seiring dgn
makin kerasnya hunjaman kemaluannya pada kemaluanku, sampai juga dia pada puncaknya
dan………

“Aaaarrrrggggccchhhh…….. ddiiaaajjjeennngggg………. aarrgggcccchhh……….
Hhhiiiieeeeeeeeccchhhhh……..”
Aqu kaget setengah mati ketika dia mengeluarkan spermanya di kemaluanku dia meringkik mirip
kuda dgn kuat sekali sehingga seluruh ruangan ini bergoncang hebat seakan ada geledek yg
menyambar. Lalu walaupun belum tuntas mengeluarkan spermanya didalem kemaluanku, buru-buru
dia mencabut kemaluannya lalu meloncat pergi begitu saja sehingga spermanya tercecer dimana-
mana. Sedang aqu sendiri lalu merasakan badan telanjangku menjadi amat ringan lalu berputar
hebat dan melayg lalu terpental dan….. bukkkkk…..

Kaget sekali aqu ketika tersadar bahwa aqu kembali ditempatku tadi, yaitu diatas batu datar yg
dingin sekali. Aqu pikir ini semua mimpi, tapi ketika kuraba kemaluanku, masih tersisa banyak sekali
sperma yg tadi dikeluarkan olehnya. Bahkan di badanku, didekat pentil buah dadaku, sampai di
wajahkupun ada tersisa cipratan spermanya akibat dia mencabut dgn tergesa-gesa kemaluannya
tadi. Bahkan rasa manis-manis asem ramuan tadi masih terasa dimulutku. Lalu, dgn tertatih-tatih
akibat terlalu lelah dan badan terasa sakit semua, aqu keluar melalui pintu tadi, menemui Ki
Gendhing Tresno yg dgn setia masih menunggu disitu. Ternyata ada dua perempuan lagi ikut
menunggu disitu. Semuanya telanjang bulat.

“Aduh, badanku sakit semua ki …..” rintihku lemah
“Tidurlah diamben (balai balai) ini neng, nanti aqu pijat dan aqu baluri dgn ramuan-ramuan” katanya
Lalu tanpa sungkan terhadap kedua perempuan itu, aqu banting badan telanjangku berbaring
telentang di balai-balai.

Selanjutnya, seluruh badanku dibaluri dgn semacam minyak kelapa yg dicampur dgn ramuan yg
menurut baunya kayaknya minyak sereh, diurut-urut mulai dari kaki, naik keatas, berhenti sebentar
membelai-belai jembutku, lalu lama sekali dia meremas-remas buah dadaku sambil memelintir-
melintir pentilnya. Lama-lama badanku menjadi hangat lagi dan rasa sakit berkurang banyak sekali.

“Bagaimana neng, sudah baikan?”
“Lumayan ki, sudah mulai naik lagi nafsuku” jawabku tanpa menaruh rasa sungkan terhadap dua
perempuan yg juga telanjang bulat tadi.

Lalu sambil masih merasa keenakan buah dadaku diremas-remas Ki Gendhing Tresno, aqu ceritakan
bahwa aqu berhasil membuat Kanjeng Pangeran Kudo Narpati klimaks setelah aqu mengalami
klimaks yg kedua.

“Jadi neng berhasil membuat beliau klimaks?” tanyanya kaget sambil melepaskan tangannya dari
buah dadaku.
“Memang kenapa, ki ?” tanyaqu heran

“Berarti dgn demikian neng telah menjadi selir Njeng Pangeran Kudo Narpati, dgn gelar Raden Ayu,
dan keinginan Den Ayu akan segera terpenuhi” katanya. (Aqu memang mempunyai keinginan untuk
segera naik gaji, pangkat dan jabatan).
“Perlu Den Ayu ketahui, dalem persekutuan dgn jin-jin disini pangkatku hanyalah Demang, jadi jauh
lebih rendah dari Den Ayu, dan aqu tak boleh sembarangan memegang-megang badan Den Ayu”
katanya sambil beringsut menjauh.

Tentu saja hal ini sangat mengecewakan diriku, kerana kedatanganku kesini antara lain untuk
menunjukkan padanya bahwa aqu sekarang tak cupu lagi seperti ketika dia menyebadani diriku
dulu.

“Jadi beliau ini benar-benar raja?”
“Betul Den Ayu.”

“Tapi kenapa tingkahnya aneh sekali ya, waktu klimaks tadi beliau mengeluarkan ringkikan seperti
kuda” gumamku lirih
“Memang beliau ini kuda!”
“Mak!!!!” jeritku kaget sehingga badanku terlonjak duduk.
“Betul-betul kuda?”
“Begini Den Ayu” jelasnya dgn amat santun.

“Beliau ini adalah jelmaan dari kuda kesaygan Gusti Ayu Endang Retno Dumilah, jin perempuan yg
amat cantik penguasa salah satu puncak gunung ini, yaitu Argo Dumilah (argo berarti gunung). Den
Ayu mungkin belum tahu gunung ini mempunyai 3 puncak, salah satunya adalah Argo Dumilah tadi.
Kerana kuda tersebut juga bangsa jin, beliau menaruh hati pada Gusti Ayu Endang Retno Dumilah.
Tentu saja Ibu dari Gusti Ayu yaitu Kanjeng Ratu Kidul marah sekali. Beliau lantas mengusir kuda itu
yg lantas bermukim disini dan bergelar Pangeran Kudo Narpati. Beliau ini mempunyai sisihan (isteri)
yg bergelar Raden Ayu Sekar Turonggoningsih. Inilah yg melayani para peziarah pria yg datang kesini.

“Ampuuunnn, berarti aqu ini jadi selir kuda“ gumamku lirih.
Pantas seluruh badannya ditumbuhi rambut dan dia tak mempunyai jembut. Kemaluannyapun
sebesar kemaluan kuda.
“Jadi aqu harus melayaninya setiap beliau datang?” tanyaqu cemas.
“Jangan khawatir Den Ayu, beliau hanya menyebadani sekali saja pada tiap-tiap selirnya, dan itu
sudah dilaqukannya pada Den Ayu. Den Ayu pasti bertanya-tanya mengapa beliau cepat-cepat pergi
setelah klimaks? Ini dikeranakan setelah klimaks beliau akan berubah wujud menjadi seekor kuda.
Dan beliau tak ingin hal ini dilihat para selirnya.”

Lega hatiku mendengar keterangannya.
“Tapi kenapa Aki tak mau lagi menyentuh aqu ?”
“Bukan tak mau Den Ayu, tapi tak berani”
“Kalau begitu, Aki aqu ijinkan untuk mengurut aqu lagi” kataqu mantab
“Baik, Den Ayu, tapi Aki akan menjalankan ritual untuk minta ijin dulu” katanya sambil pergi kearah
dalem goa.

Aqupun semakin menjadi tak sabaran. Untuk sekedar membunuh waktu, aqupun menyapa kedua
perempuan telanjang tadi. Ternyata mereka adalah pedagang-pedagang kain dari sebuah pasar
terkenal yg berinisial pasar Klw. Walaupun menurut pengaquannya mereka belum pernah bertemu
dgn Njeng Pangeran, mereka tetap datang kesini. Siapa tahu suatu waktu berhasil, harapnya. Paling
tak untuk refresing dgn Ki Gendhing Tresno, daripada tiap kali menghadapi suami-suami mereka yg
katanya lemes-lemes. Aqu tersenyum mendengarnya. Tak lama lalu Ki Gendhing Tresno datang.

“Silahkan Den Ayu”

Aqupun segera berbaring telentang lagi dibalai-balai tanpa merasa sungkan walaupun dilihat oleh
dua perempuan tadi. Toh mereka juga mendambakan persebadanan juga, pikirku. Lalu Ki Gendhing
Tresno mulai mengurut badanku lagi. Tapi kali ini dgn sangat hati-hati dan pakai bilang nuwun sewu
segala bila mau menyentuh bibir kemaluan atau buah dadaku. Tentu saja ini membikin aqu tak
sabaran, dan setengah memaksa aqu suruh dia membuka seluruh pakaiannya. Ternyata
kemaluannya sudah ngaceng juga. Segera kutarik dia untuk menindihku dan kupegang kemaluannya
untuk kumasukkan kedalem lubang kemaluanku. Kusuruh dia mulai menggenjot. Tapi genjotannya
terasa sangat hati-hati dan pelan sekali. Baru setelah kuancam akan kuadukan pada Njeng Pangeran,
dia mulai menggenjot sejadi-jadinya. Nah, begitu dong. Aqu sangat enjoy dibuatnya. Kugoyg
bokongku sambil kuempot-empotkan kemaluanku menghisap kemaluannya yg cukup besar itu.

Mungkin kerana pengaruh ramuan tadi masih tersisa, aqu tak merasa kewalahan menghadapi Aki
yg berpengalaman ini. Setelah berlangsung sekitar setengah jam, dia memanggil dua perempuan
tadi. Ternyata mereka disuruh menghisap-hisap buah dadaku kiri dan kanan. Tentu saja hal ini
sangat menggembirakanku dan menambah semangatku. Sambil menghisap-hisap pentil buah
dadaku yg makin mengembang keenakan, tangan merekapun menjalar membelai-belai rambutku,
dan bahkan seluruh permukaan kulitku yg bisa mereka gapai. Hal ini makin membuatku melayg.
Kerana selain kemaluanku keenakan dipompa Ki Gendhing Tresno, pentil buah dadaku dihisap-hisap
sambil digigit-gigit kecil oleh mereka, seluruh badanku pun dibelai-belai dan dicubit-cubit kecil,
sehingga semakin membuatku melayg-layg.

Untunglah aqu masih terpengaruh oleh ramuan tadi, sehingga tak segera mengalami klimaks. Kerana
dua perempuan tadi menghisap-hisap buah dadaku sambil nungging dari arah kanan dan kiriku,
maka jari-jari kedua tangankupun segera bergerak menggosok-gosok itil mereka sambil sebentar-
sebentar memencet-mencetnya. Kerana aqu sudah makin piawai dalem hal persebadanan, maka
menghadapi tiga orang demikian tak membuatku jadi keder. Maka sambil melayani enjotan-enjotan
kemaluan Ki Gendhing Tresno, jari-jari kedua tangankupun segera kumasukkan kedalem lubang
kemaluan mereka. Mendapat perlaquanku itu, mulut mereka segera mendesis-desis keenakan. Tapi
sialnya, gigitan mereka ke pentil buah dadaku jadi makin agak keras. Untunglah mereka segera
menyadari hal ini, dan sambil mendesis-desis, mereka tetap menghisap-hisap pentil buah dadaku,
sambil matanya merem melek keenakan kerana itil dan lubang kemaluannya semakin ganas aqu
gosok-gosok. Tiba-tiba salah seorang dari mereka yg itilnya kugosok-gosok dgn jari tangan kananku,
mengejang sambil merintih :

“Aaacchhh…. ouucchhhh…. mmmmhhhhhh….. ooouuuccchhhhh……….” lalu badannya terguling
lemas disamping kananku, sehingga tinggal dua orang lagi yg harus kulayani.

Melihat orangnya “gugur” satu, maka Ki Gendhing Tresno semakin mempercepat pompaan
kemaluannya kedalem kemaluanku. Mungkin untuk membuatku segera klimaks. Tapi dia lupa bahwa
aqu bukan Mia yg disebadaninya dulu, tapi Mia yg sudah berhasil membuat Njeng Pangeran klimaks
dan mengeluarkan spermanya didalem kemaluanku. Maka, sambil tetap menggosok gosok itil dan
lubang kemaluan perempuan satunya tadi, kemaluanku pun aqu empot-empotkan menghisap
kemaluan Ki Gendhing Tresno sambil menggoyg-goyg bokongku sejadi-jadinya. Dan setelah kira-kira
satu jam lalu mengejanglah badan Ki Gendhing Tresno sambil mulutnya mendesis gemetar :

“Dddeennn…. Ayyuuuuuuu……. Akki mmaaauuu kkkeluuaaarrrrrrrrr……….” Dan menyemburlah
sperma Ki Gendhing Tresno didalem kemaluanku sejadi-jadinya, banyak sekali.

Setelah badannya melemas dan kemaluannya dicabut dari kemaluanku, menggelosolah dia di dekat
selangkanganku. Kini tinggal satu orang saja yg harus kulayani. Maka aqu segera bangkit dan
menelentangkan perempuan tadi. Dia agak kaget tapi menyerah saja kuperlaqukan demikian. Segera
kuhisap-hisap pentil buah dadanya dan kugosok-gosok itil maupun lubang kemaluannya yg ternyata
sudah banjir itu. Hanya membutuhkan waktu sekitar seperempat jam, mulutnya sudah mulai
merintih rintih:

“Aaaakkkggghhh……… ucchhh……… mmmmhhhhh…….”
Dan tak berapa lama lalu badannya mulai mengejang, sambil mengangkat angkat bokongnya dia
menceracau :
“Oouuucccchhhhh…….. aaaaccchhhhhhhh………… aaaacccchhhhhhhhhh…….”

Sampailah dia pada puncak klimaksnya. Lalu terbaring lemaslah dia menyusul kawannya dan Ki
Gendhing Tresno. Anehnya, walaupun tak mengalami klimaks, aqu merasa puas dan bangga sekali
melihat itu semua, bisa “mengalahkan” empat orang sekaligus dalem satu malam! Baygkan! Hal ini
tak pernah aqu impikan sebelumnya. Maka dgn senyum penuh kemenangan aqu menyusul mereka
tidur dibalai-balai yg sama. Jadilah empat orang dgn bertelanjang bulat tidur berdesakan di satu
balai-balai.

Kerana didalem goa, aqu tak tahu kalau hari sudah pagi. Tapi berhubung ngantuk sekali, aqupun
terlelap tidur.
Siangnya kita mandi bersama di pancuran dekat mulut goa. Segar sekali. Lalu setelah turun ke dekat
desa kemarin, kita mencari ojek, yg ternyata ada beberapa yg sengaja menanti para peziarah turun.
Sesampai di rumah Ki Gendhing Tresno, kita berbasa-basi sebentar lalu pamitan pulang. Ternyata
kedua perempuan itu membawa mobil sendiri, sehingga aqupun sorangan menyetir kembali ke kota
Yogya. Oh ya, mereka tak meneruskan untuk berziarah kepada Kanjeng Pangeran Kudo Narpati,
kerana setelah mengalami klimaks, beliau hanya kerso tedak (mau datang) pada malam Jum’at
Kliwon berikutnya. Jadi harus menunggu 35 hari lagi. Itupun kalau mujur.

Sebulan setelah peristiwa itu, aqu dipanggil oleh Big Boss, diberi tahu bahwa pangkatku dinaikkan
menjadi AVP. Gajiku otomatis juga naik, sedang tugasku dipindahkan menjadi Kepala Cabang disuatu
kantor masih diseputaran Jabodetabek. Tentu saja berita gembira itu aqu sampaikan pada Sesha
sahabat kentalku, sambil meminta supaya rekeningnya dipindahkan ke Cabang yg aqu pimpin. Tentu
saja dia sangat setuju. Oh ya, aqupun diberi mobil dinas yg jenis dan warnanya aqu rahasiakan
kepada kalian, supaya jati diriku tetap terjaga kerahasiaanya. Penasaran kan? Nah, jadi kalian
sekarang tahu mengapa sekarang ini aqu jarang sekali memakai mobil Honda Jazz warna pink
pemberian Sesha.

Dgn kedudukan baruku, aqu jadi sering bergaul dgn banyak Top Managemen perusahaan-
perusahaan besar yg mempunyai hoby yg sama antara lain hoby pesta orgy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.