Vimax
Breaking News

Pengalaman Berkunjung Heboh Menyenangkan

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Pengalaman Berkunjung Heboh Menyenangkan-kisah bokep 2016, kisah bokep terbaru, kisah bokep, kisah ngentot 2016, kisah ngentot terbaru, kisah ngentot,Aku tertarik memenuangkan pengalaman ketika aku masih rajin berkelana. Hobby aku mengunjungi daerah-daerah, melihat suasana dan berdialog dengan orang-orang di daerah itu. Makanya aku menguasai beberapa istilah dari daerah-daerah yang berbeda. Kebetulan aku bekerja di bidang yang memberi kebebasan bagi aku berkunjung ke banyak daerah. Tidak sombong, tetapi hampir semua kabupaten di Indonesia sudah aku kunjungi.

kisah bokep 2016, kisah bokep terbaru, kisah bokep, kisah ngentot 2016, kisah ngentot terbaru, kisah ngentot,Kisah Bokep

Banyak teman aku menyebut aku cukup ganteng, bukan GR, tetapi untuk memberi gambaran saja siapa gerangan aku. Kehidupan aku tidak berlebihan, tetapi memadai. Satu kali aku mendapat tawaran dari bos di kantor untuk melihat kondisi masyarakat di pantai Utara Karawang. Waktu itu dikabarkan sedang dicekam kegagalan panen, sehingga dilanda kelaparan. Karena dari Jakarta tidak terlalu jauh dan aku berpikir akan lebih leluasa keluar masuk kampung, maka sepeda motor jadi pilihan aku.

Sampai Rangkas Dengklok, aku tidak menemukan sesuatu yang aneh. Keadaan masyarakatnya biasa-biasa saja. Wilayah itu bagi aku masih baru dan aku belum mempunyai bayangan bagaimana situasinya. Lewat Rangkas aku lanjutkan ke arah yang ngawur saja. Kondisi jalan mulai parah. Aku keluar masuk kampung-kampung sambil memperhatikan kehidupan masyarakatnya. Kelihatannya memang sangat memprihatinkan.

Siang itu tiba-tiba mendung, aku segera mengarahkan kendaraan ke jalan raya. Hujan mulai turun, sementara aku mencari warung untuk tempat berteduh, tidak juga ketemu. Lalu terlihat rumah sederhana dengan teras agak besar, aku beranikan masuk halaman rumah itu, lalu segera berteduh. Tidak lama kemudian seerang bapak tua keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang ke rumahnya. Aku pun segera minta izin untuk berteduh sejenak. Belum selesai aku bicara, muncul ibu tua yang aku duga istri Pak tua itu. Dia langsung mempersilakan aku masuk.
“Mangga Nak masuk saja, di luar dingin.”

Tentunya tidak penak juga, orang hanya numpang berteduh kok malah suruh bertamu.
“Ngak apa-apa Bu, biar saja aku tunggu hujan di sini, lagian baju aku agak basah, biar cepet kering di sini banyak angin.”
“Udah atu di luar kan dingin, masuk Den, nggak apa-apa, nanti juga kering,” kata ibu itu berusaha mengajak aku masuk ke ruang tamu.
Aku jadi makin tidak penak. Apalagi ibu itu tadi menyebut aku Aden, yang aku rasa merupakan panggilan terhormat.

Aku putuskan memenuhi keinginan ibu itu, lalu aku langkahkan kaki memasuki ruang keluarga. Ruangannya agak gelap, dan tampaknya rumah itu belum dialiri listrik karena aku tidak melihat ada lampu listrik di ruang tamu. Rumahnya kelihatan sangat sederhana, berlantai pelsteran semen dan berdinding setengah tembok setengahnya lagi anyaman bambu.

Sang bapak lalu menemani aku, dan seperti biasa menanyakan aku dari mana. Aku karena tidak ingin membuka diri, aku katakan saja aku baru dari kelurahan yang baru saja aku lalui tadi. Penjelasan aku tampaknya masuk akal bapak itu.

Tidak lama kemudian muncul seorang gadis yang aku perkirakan baru berumur sekitar 15 tahun, polos, sederhana,cantik tapi lumayan manis. Ia membawa dua cangkir teh hangat. Aku segera meminum teh hangat itu, eh ternyata tidak manis. Dalam hati agak kecewa, tetapi aku segera memaklumi bahwa ini bukan di Jakarta.

Hujan makin deras, padahal hari sudah mulai gelap. Aku panik juga, karena malam dan hujan begini aku sulit menembus jalan desa yang licin dan kurang aku kuasai. Karawang mungkin jauhnya sekitar dua jam setengah dari posisi aku. Aku ingat di luar ada semacam amben atau bale-bale yang dapat aku pergunakan untuk menginap. Aku minta izin kepada bapak dan ibu tua tadi yang ikut nimbrung mengobroldengan aku untuk menginap di amben di teras itu, karena aku merasa kurang aman jalan malam hari.

Serta merta ibu dan bapak tadi menawarkan agar aku tidur saja di dalam rumah. Aku tidak kuasa menolak tawaran yang setengah memaksa itu. Padahal aku merasa makin tidak penak. Kenal saja tidak, kok tega-teganya menerima tawaran menginap di rumah itu.

Hari mulai gelap, dan aku mulai lapar. Aku beri ibu tadi uang seingat aku pada waktu itu sekitar seratus ribu lah.
Aku katakan, “Bu tolong masak seadanya Ibu bisa..,”
Aku tahu untuk ukuran di desa itu, uang sebanyak itu mungkin dapat untuk belanja setengah bulan. Aku berikan uang sebesar itu, juga untuk menutupi rasa tidak penak aku dan untuk membantu ala kadarnya.

Sepemberian aku, ibu tadi lalu menghilang, sehingga aku ngobrol tidak ketentuan arah dengan bapak. Untungnya aku banyak membaca, sehingga topik pembicaraan bapak tentang pertanian dapat aku sambung. Nekatnya bahkan aku berani memberi saran-saran. Padahal aku belum pernah bertani. Pengetahuan aku melulu dari majalah dan bacaan-bacaan. Namun bapak tadi mengangguk-agguk, tampaknya saran aku cukup masuk akal.

Tiba-tiba ibu tadi mempersilakan aku makan di meja makan bersama dengan seisi rumah, selain bapak ibu tadi juga anak gadisnya. Menunya bagi aku biasa saja, ayam goreng, sambel, lalap dan semangkuk mi instan.

Habis makan, ngobrol kembali sambil ngopi dan merokok. Sekitar pukul 10 malam aku dipersilakan masuk kamar tidur. Aku sungguh tidak menyangka, ternyata kamar yang disiapkan untuk aku mungkin merupakan kamar terbaik di rumah itu. Ruangannya sekitar 3×3 m dengan sebuah tempat tidur besi berkelambu ukuran bed-nya dapat ditiduri untuk dua orang, cukup lega. Ada meja kecil dengan sebuah kendi dan gelas di atasnya serta lampu tempel yang sinarnya redup.

Aku termangu-mangu sejenak sambil berpikir kenapa aku dapat tempat tidur yang sebagus ini di rumah sederhana. Ah, mungkin karena seratus ribu tadi. Ya sudahlah. Aku ganti celana panjang yang masih agak lembab dengan celana pendek dan kaos oblong. Aku keluar sejenak untuk buang air kecil di kamar mandi yang letaknya agak terpisah dari rumah induk.

Sekembali aku ke kamar, aku terkejut, karena ada putri pemilik rumah sedang duduk sambil menuang air ke gelas.
Aku tanya, “Bapak dan Ibu tidur di mana.. dek?”
“Di kamar belakang,” katanya.
“Kamu tidur di mana..?” tanya aku penasaran.
“Di sini,” katanya sambil menunduk.
“Weleh-weleh, bagaimana caranya tidur, orang tempat tidurnya cuma satu.”
“Kamu tidur di sini bersama aku..?” tanya aku kurang yakin.
Dia hanya mengangguk.

Aku jadi berdebar-debar memikirkan berbagai kemungkinan negatif yang dapat saja menjebak akunanti. Tapi aku mau protes tidak kuasa, karena kedua orang tua tadi sudah menghilang di kamarnya. Aku pikir aku harus berhati-hati, jangan sampai terjebak. Jadi aku berniat untuk tidur saja baik-baik.

Anak manis itu lalu aku tawarkan untuk naik dahulu ke tempat tidur. Maksud aku untuk memastikan di sebelah mana aku tidur nanti. Ternyata dia mengambil tempat di tengah, dekat ke dinding. Aku mengambil tempat di sebelahnya. Jantung ini berdebar-debar, karena selain takut, juga merasa ada kesempatan besar.

Aku lama sekali tidak dapat tidur. ruang yang tadinya gelap, jadi terang. Aku lalu memperhatikan patner tidur aku. Gadis manis yang mulai tumbuh, tidur telentang seakan pasrah. Aku panggil nama anak itu. Ternyata dia menyahut. Rupanya dia juga belum dapat tidur. Untuk mengatasi kebekuan, aku tanya macam-macam sambil sedikit-dikit aku goda. Dia kadang-kadang mencubit bagian lengan aku jika kena goda.

Dari upaya mengatasi kebekuan, aku mendapat kesimpulan bahwa keadaan aman-aman saja, dan ini bukan jebakan. Yang mengagetkan aku, ternyata anak ini sudah janda. Aku jadi makin berani, aku miringkan posisi menghadap kepadanya sambil terus melancarkan godaan-godaan kecil sambil berbisik. Maklumlah suasananya senyap sekali.

Aku pegang tangannya, dia diam saja. Aku cium rambutnya terasa aroma minyak kelapa. Lama-lama aku merangsang aku makin meningkat, tetapi aku belum punya niat untuk memulainya secara heboh, maklumlah diplomasi kotaan tidak nyambung di desa.

Lampu tempel aku kecilkan sampai minimal. Selain untuk menggelapkan ruangan, juga agar sekitar lubang hidung ini tidak hitam jika bangun besok pagi. Jarak pandang jadi makin pendek, sehingga aku yakin jika pun diintip tidak akan kelihatan.

Aku mulai bergrilya tanpa kata-kata. Tidak nyambung sih. Aku cium keningnya, pipinya, dia diam saja. Aku kecup bibirnya, tapi tidak ada reaksi. Mungkin anak ini belum kenal soal ciuman. Kebetulan aku pun kurang menyukai ‘cipokan’, abis ‘cipokan’ bagi aku tidak menggairahkan. Selama ini aku gunakan hanya untuk menjajagi kemungkinan seorang cewek itu, apakah ia mau dicumbui lebih jauh atau tidak.

Tangan aku mulai memeluk dan meremas-remas buah dadanya, pelan-pelan menjalar ke perut, mengusap-usap. Dia diam saja, pasrah. Keberanian bertambah, dan aku mulai menyentuh bagianluar dadanya, dan dengan gerakan halus aku mulai meremas. Reaksinya minim sekali, hanya kepalanya saja yang bergerak agak mendongak.

Tangan aku menemukan jalan masuk di balik bajunya, dan terus merayap mencari bukit yang belum tumbuh sempurna. Aku remas sebentar dari luar BH, lalu berusaha mencopot kutang gadis cilik ini. Kenyal sekali buah dadanya, meski tidak terlalu besar. Besarnya kira-kira sebesar kemampuan telapak aku dengan jari merapat. Aku cari putingnya, ternyata belum berkembang, jadi kurang lebih sama dengan puting susu aku. Terus terang aku suka sekali dengan gadis-gadis yang beginian ini.

Puas mengetahui bagian atas, aku penasaran situasi di bawah sana. Tangan aku mulai mengelus-elus paha. Dia ternyata penggeli, sehingga gerakannya agak menggelinjang kegelian. Segera aku tangkap gundukan segitiga di selakangannya yang masih tertutup celana. Menurut rabaan tangan aku, celana itu dibuat sendiri dari kain blacu, sehingga terkesan agak kasar. Hikmahnya, celah di bagian kakinya tidak ketat, sehingga memudahkan jari aku menyelundup ke dalam.

Jari tengah yang terlatih segera menemukan celah agak basah. Tapi aku tunda sejenak untuk mengenali wilayah sekitarnya. Ternyata belum berbulu. Bagi pedagang terutama keturunan Cina, jika menemukan cewek yang gundul ini dianggap menyebabkan kesialan. Aku berbeda, justru untung, karena aku memang menyenangi yang gundul. Alasannya, bila dilihat bentuk kemaluan itu kelihatan aslinya, mentul dan celahnya tertutup rapat, atau kadang ada daging kecil yang muncul dari celahnya.

Bertumbuh mulai berani, sehingga tangan kanan aku mulai menyelusup dari atas celana dalamnya. Gerakannya jadi makin leluasa, dan kesempatan ini aku manfaatkan untuk memicu gairahnya melalui perangsanganpasti. Dia makin terangsang ditandai dengan desisan pelan serta gelinjang-gelinjang merangsang.

Aku teruskan pada gerakan yang paling kuat responnya. Maksudnya, aku akan menghantar dia sampai pada titiklemahnya. Tidak lama kemudian dia mendesis panjang dan mengejang, lalu kemaluannya berdenyut-denyut seperti denyutan kemaluan kalau melepas mani. Dia lalu menarik nafas panjang.

“Mas nakal,” katanya sambil memeluk erat.
Aku jadi ingin menjilati kemaluan anak ini. Pelan-pelan aku turunkan celananya, dan aku sibak roknya ke atas. Aku ciumi dadanya, menjilati putingnya yang masih kecil tapi sudah mengeras. Aku mulai menciumi sekeliling kemaluannya. Dia menggelinjang geli sambil mendorong kepala aku agar menjauh dari kemaluannya.

Tolakannya itu tidak aku turuti, tetapi aku malah mulai mengecup belahan kemaluannya yang basah, dan segera lidah ini menemukanpastinya. Begitu tersentuh, dia menggelinjang terkejut dan tangannya tetap mendorong aku untuk menjauhi lubang kemaluannya. Aku makin berusaha mencari posisi yang tepat, lalu mulai menjilatipastinya yang mulai bangun. Dorongan tanggananya mulai melemah. Bahkan kini tangannya mulai menarik kepala aku agar lebih merapat ke bibir kemaluannya. Dia terangsang hebat sekali, karena kakinya kelojotan tidak karuan.

Sambil menjilati, jari tengah aku pelan-pelan mulai menyelinap ke dalam lubang kemaluannya. Tiba-tiba dia mengejang sambil mendesis panjang. Kemaluannya kembali berdenyut. Aku lepas jilatan di kemaluan, tetapi jari tengah aku tetap di dalam lubang kemaluan sambil terus mencari titik G. Bulatan kecil di langit-langit kemaluan akhirnya aku temukan, dan dengan gerakan halus aku usap-usap titik G itu. Dia makin kelojotan dan tidak begitu lama kemudian diraihnya bantal, ditutupkan ke mulutnya, dan dia menjerit sambil badannya meregang. Ia mencapai kelemasan tertinggi.

Beberapa saat aku biarkan ia istirahat. Kesempatan itu aku pergunakan untuk mengambil kaos bekas aku pakai tadi siang. Kaos bekas itu aku letakkan di bawah selangkangannya. Dia diam saja. Rupanya dia sudah tertidur kecapaian.

Perlahan-lahan aku turunkan celana aku, lalu mulai menindihnya. Batang kejantanan yang sudah keras dari tadi pelan-pelan aku susupkan ke celah liang kemaluan yang sudah basah kuyup. Agak susah masuknya, sehingga memerlukan waktu sekitar 3 menit untuk meneroboskan seluruh batang ini. Setelah berhasil, pelan-pelan aku pompa. Dia hanya diam saja, mungkin dalam situasi antara sadar dengan ngantuk berat. Baru sekitar 2 menit mani aku sudah hampir meledak. Mungkin karena tertahan begitu lama dalam rangsangan puncak. Aku cabut segera dan ditumpahkan ke kaos bekas aku. Aku pun beristirahat sebentar sambil kembali merapihkan celana aku.

Dia masih tertidur pulas. Tidak sampai 5 menit, batang kemaluan aku mulai mengeras kembali. Pelan-pelan aku mulai menindihnya, dan kembali berusaha menyusupkan batang kemaluan aku ke celah kemaluannya. Memasukkan yang kedua ini tidak terlalu sulit. Sementara kondisi aku sudah mulai stabil. Aku pompa dia pelan-pelan, takut tempat tidurnya berderit.

Dia mulai bangun dan menikmati persetubuhan. Buktinya dia mulai mendesis-desis lagi. Cukup lama aku bertahan pada posisi biasa itu. Lalu aku raih dia agar dia berganti posisi di atas. Dia menurut dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke atas ke bawah. Gerakan ini kurang terkontrol, sehingga batang kemaluan aku sering lepas. Aku ajari agar gerakannya tidak naik turun, tetapi maju mundur dengan hanya menggerakkan bagian panggul saja. Hasilnya nikmat sekali, dan kejantanan aku seperti ditarik-tarik.

Dia tidak tahan karena lelah. Akhirnya aku sarankan agar telungkup saja sambil menungging. Posisi siap ini aku lakukan dengan hati-hati. Rupanya dia menikmati posisi ini, karena dia kembali mendesis-desis. Aroma kemaluannya yang khas bagaikan menguap, sehingga tertangkap hidung aku.

Posisi ini rupanya menyenangkan, sehingga ia akhirnya mengambil posisi seperti merangkak sambil mendongakkan kepala. Tidak lama kemudian dihunjamkan kepalanya ke bantal dan kembali menjerit di balik bantal, lalu lelah.

Aku lagi setengah jalan, lalu badannya aku balikkan sehingga ia telentang. Hunjaman kembali bertubi-tubi sampai ia merangkulkan kakinya ke badan aku. Aku kini konsentrasi pada posisi yang dapat mempercepat ejakulasi. Namun rupanya dia pun menikmatinya, sehingga tidak lama kemudian kemaluannya berdenyut-denyut dan kakinya menahan gerakan.

Merasa dipilin-pilin keteganganku makin memuncak. Beberapa detik sebelum puncak aku cabut kembali dan aku muntahkan ke kaos bekas aku tadi. Setelah itu kami berbenah dan merapihkan pakaian, sehingga seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Paginya aku sempat main satu ronde lagi.

Dia keluar kamar duluan langsung ke kamar mandi, setelah itu giliranku membersihkan seluruh tubuh. Pagi itu ibunya menyiapkan nasi goreng lengkap dengan kopi. Aku bagaikan tamu agung di rumah itu, semua suguhan terbaik diberikan.

Sebelum aku pamit, pada siangnya aku sempat orientasi, dan ternyata tetangganya berjarak sekitar 10 rumah juga menyimpan gadis manis, bahkan tampaknya lebih “culun” (innocent). Aku seperti disodorkan kepada tetangganya itu. Ketika kami bertamu, orang tuanya tampak sangat tidak tau ktemu. Aku lalu berjanji seminggu lagi akan datang. Janji ini disambut sangat hormat oleh mereka sekeluarga.

Aku pulang ke Jakarta dengan aman, dan kelak akan mempraktekkan teori domino di desa itu. Aku dengar dari pembicaraan mereka, ada pula orang tua yang mau menyerahkan kegadisan anaknya dengan imbalan yang tidak terlalu mahal bagi ukuran Jakarta. Bagi pembaca jangan tanya dimana tempatnya, karena sekarang situasinya sudah jauh berbeda, dan tawuran antar kampung di wilayah itu sangat berbahaya.

TAMAT

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.