Vimax
Breaking News

Threesome Live Show

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Kumpulan Kisah Ngentot, Kisah Ngentot Terbaru, Kisah Ngentot Nyata, Kisah Ngentot Terbaik, “Ly, nanti sore jam 4 di Hotel Westin, bisa gag?” tanya seorang GM perempuan via HP pada suatu hari.

Kisah Ngentot, Kisah Ngentot Terbaru, Kisah Ngentot Nyata, Kisah Ngentot Terbaik
“Kalau untuk cicikku yg satu ini pasti bisa dong” balasku manja karena aqu tau GM perempuan yg satu ini, biasa kupanggil cicik karena selain yg aqu tau dia seorang chinese yg banyak kenalan kalangan atas, ditambah aqu gag tau nama aslinya.
Seperti biasanya dia pasti memberi orderan besar, bukan kelas kakap bahkan gag jarang kelas paus.
“Tapi kali ini agak lain, terserah kamu mau gag, biasanya kan kamu gag suka yg aneh aneh” tanyanya ragu.
“Emang kenapa cik?” tanyaqu penasaran.
“Emm.. dia cuman ingin lihat kamu main sama laki lain, kalo kamu gag mau gag apa sih” jelasnya, aqu tercenung sejenak.

Ini adalah hal baru bagiku, belom pernah aqu di booking untuk hanya ditonton live seperti ini, apa asiknya melihat orang bercinta padahal dia bisa menikmatinya secara langsung pemain perempuannya. Atau jangan jangan orang itu hanya timbul gairahnya saat melihat orang bercinta lalu baru menikmati badanku, sejuta pikiran berkecamuk penuh tanda tanya.
“Ly? gimana?” tanya cicik mengagetkanku.
“Laki laki lainnya siapa? teman dia?” Tanyaqu makin penasaran
“Gag sih, dia nyerahin ke aqu, tapi terserah kamu kalo kamu punya pilihan atau pacarmu barangkali kalo kamu mau, lumayankan udah bisa enak bisa duit lagi.. ha.. ha.. ha” godanya.
“Gila apa, masak pacar dilibatkan urusan beginian, saru” jawabku sambil membalas candaannya.
“Ya udah pilih siapa yg kamu kenal” desaknya.

Terus terang meski aqu cukup lama malang melintang di dunia ini, tapi aqu termasuk “kuper” karena lingkungan pergaulanku emang jarang dengan teman sesama profesi baik perempuan apalagi para prianya. Kalaupun kenal paling juga sebatas asal kenal tak terlalu erat, apalagi sampai main seranjang, sangat jarang sekali.
“Gimana Ly, ada pilihan gag, cari aja yg cakep gitu biar kamu bisa enjoy” kembali dia menggoda.
“Aqu gag ada cik, terserah cicik aja deh” aqu menyerah
Dia menyebut beberapa nama yg kesemuanya mucikari, baik yg profesional maupun yg hanya sampingan. Banyak nama yg kutolak tapi beberapa nama aqu tak mengenalnya.
“Ala pake pilih pilih segala, biasanya sama laki laki siapa saja gag nolak, udah pokoknya percaya deh sama aqu, pasti kamu gag kecewa” akhirnya dia maksa.
“Iya deh, aqu percaya sama cicikku yg satu ini” akhirnya aqu menuruti keinginannya setelah menyebutkan beberapa nama yg tak aqu suka.

Sebenarnya aqu masih merasa capek setelah melayani 2 tamu sebelomnya, tapi “keanehan” yg ditawarkan si cicik tadi sungguh membuatku penasaran akan sensasinya. Sepuluh menit sebelom waktu yg disepakati, aqu sudah berada di lobby Hotel Westin (sekarang JW Mariot), langsung menuju lantai 10 tempat kamar tamuku berada. Seorang laki laki muda awal 30-an menyambut kedatanganku di depan pintu, namanya Herman.
“Ah tepat waktu, dia baru saja datang” katanya sambil menunjuk laki laki lain yg lebih muda sedang memegang botol Kratingdaeng, aqu tak mengenalnya.
Usianya mungkin sekitar 25 tauh, dengan wajah yg sedap dipandang dengan kulit kuning bersih.
“Kalian sudah saling kenal?” tanyanya, hampir bersamaan kami menggeleng kepala
“Bagus, lebih asyik berarti karena kita bertiga tak saling mengenal, silahkan berkenalan sendiri” lanjutnya.

Setelah berkenalan, aqu mengambil tempat di sampingnya, dia bernama Pram, aqu pernah dengar namanya, dia simpanan seorang istri pengusaha di Surabaya.
“Aqu banyak dengar tentang kamu, akhirnya bisa juga kita ketemu” kata Pram
“Semoga hanya dengar yg baik saja” jawabku.
“Oke silahkan mulai, terserah dari mana, aqu hanya penonton” Pak Herman menyela pembicaraan kami, baru kali ini ada keraguan dan merasa canggung ketika ada laki laki memelukku, apalagi saat Pram mencium pipiku ditambah adanya orang yg menonton permainan kami.

Inilah pertama kali aqu bercinta dengan seorang mucikari, mungkin bisa terjadi adu keahlian dan permainan. Dengan masih penuh keraguan, kami berciuman saling melumat bibir, tangan Pram sudah berada di dadaqu, memulai remasan remasan ringan pada kedua payudaraqu, aqu menggelinjang saat tangan Pram mulai menyusup disela sela resliting depan blusku dan menyelinap dibalik bra. Diraihnya pentilku dan dipermainkan dengan penuh gairah, aqu mendesah antara geli dan nikmat. Ciuman Pram sungguh romantis dan penuh gairah, dia seakan tau betul bagaimana memuaskan perempuan, dia tau persis bagian bagian sensitif dan erotis.

Hanya beberapa menit sejak ciuman pertama, aqu sudah dalam keadaan topless, dia memandang sejenakkedua payudaraqu yg menggantung indah.
“Very beautiful” pujinya, sebelom mendaratkan lidahnya pada pentilku, disusul kuluman dan sedotan ringan oleh bibirnya, aqu kembali mendesah nikmat.
Tangan Pram beralih dari kedua payudaraqu turun ke selangkangan, dengan mudah dia melepas celanaqu tanpa mengangkat mulutnya dari pentilku. Sedetik kemudian aqupun sudah dalam keadaan telanjang dihadapan kedua laki laki yg masih berpakaian lengkap. Pak Herman mendekati kami seolah hendak melihat lebih jelas kemolekan dan kemulusan badan telanjangku, matanya melotot menatap tanpa kedip. Kami gag pedulikan, terserah dari sudut mana saja dia menonton.

Pram sudah jongkok di depan kakiku yg terbuka lebar, menunjukkan lubang sempit kenikmatanku yg sedikit dihiasi bulu bulu halus. Kembali bibir dan lidah Pram mendarat dibadanku, disusurinya kedua paha dan berhenti di sekitar selangkangan, dia tak langsung menyentuh daerah kemaluan tapi justru mengitarinya dengan jilatan jilatan menggairahkan. Aqu mendesah penuh gairah, kuremas rambutnya dan kutekankan ke selangkanganku berharap dia segera melaqukan jilatan pada kemaluan, tapi dia gag terpengaruh.

“Pram, please” pingagu sambil mengerang penuh kenikmatan, dia hanya menatapku sambil tersenyum.
Akhirnya aqu menjerit lepas saat lidahnya menyentuh klitorisku, disusul dengan ciuman bibirnya pada kemaluanku, desahanku semakin keras saat jari jari tangannya ikutan bermain pada lubang kenikmatanku. Pak Herman sudah jongkok disamping kami, Pram semakin liar bermain main di kemaluanku, permainan oralnya sungguh menghanyutkan, gag bisa dipungkiri aqu sangat menikmatinya.

Pram berdiri di depanku, aqu segera membuka celananya dan menarik turun berikut celana dalamnya, tampaklah kemaluannya yg sudah keras menegang, tak terlalu istimewa, sama seperti umumnya. Kuraih kejantanannya dan kukocok kocok dengan tanganku, dia mulai mendesis. Kujilat kepala kemaluannya lalu kumasukkan ke mulutku, perlahan lahan hingga lebih separoh berada di dalam. Pram memegang kepalaqu, sebelom aqu mulai gerakanku, dia mendahului dengan mengocokkan kemaluannya di mulutku. Pak Herman makin melototkan matanya saat kemaluan Pram keluar masuk mulutku, aqu semakin bergairah dibuatnya. Sekilas kulihat tangannya meremas remas di selangkangannya sendiri. Aqu semakin over acting, kujilati sekujur batang kemaluan Pram hingga ke pangkal lalu kembali mengocok dengan mulut, desahan Pram makin terdengar penuh gairah. Sambil mengulum Pram, tanganku bermain di klitorisku membuat aqu ikutan mendesah beriringan dengannya.

Aqu dan Pram sudah gag tahan lagi, dia kembali berlutut diantara kakiku. Kami berciuman saling melumat bibir sambil mengusapkan kemaluannya ke kemaluanku yg sudah basah. Namun sebelom Pram mendorong masuk kemaluannya, Pak Herman menyela permainan kami.
“Pake ini” katanya sambil menyodorkan kondom yg sudah dia buka, kami saling berpandangan lalu tersenyum bersamaan.
Sedikit demonstratif, kupasangkan kondom ke kemaluan Pram dengan mulutku, dibalas dengan pandangan kagum dari kedua laki laki itu. Pram menyapukan sejenak kepala kemaluannya, perlahan didorong memasuki celah celah kenikmatanku sambil kembali melumat bibirku, lidah kami saling beradu seiring melesaknya kemaluan itu semakin dalam.

Kami berpandangan ketika kejantanannya sudah masuk semua, sama sama tersenyum memberi isyarat, tatapannya begitu romantis menghanyutkan. Dia mulai gerakan menarik dan mendorong dengan perlahan dan semakin cepat, gerakan dan tatapannya membuaiku dan semakin cepat. Tanpa malu aqupun mendesah lepas tanpa dibuat buat, sungguh nikmat bercinta dengannya, dia tau kapan saatnya melaqukan apa, sungguh seorang penakluk perempuan. Tangannya dengan halus meraba raba dan meremas lembut kedua payudaraku, sesekali dikulumnya pentilku, semua dilaqukan tanpa menurunkan irama kocokannya. Kakiku diangkat ke pundaknya, kemaluannya semakin dalam menghunjam lubang kemaluanku, dan desahanku semakin lepas tanpa kendali.

Pram memutar badanku untuk posisi dogie, badanku bertumpu pada sandaran sofa, agak kecewa aqu karena tak bisa menatap wajahnya yg cool itu. Namun kekecewaanku gag berlangsung lama saat Pram kembali mengisi kemaluanku dengan kejantanannya yg serasa semakin tegang, diraihnya kedua payudaraqu yg berayun sembari memulai kocokannya. Sesekali dia mencium dan menjilati punggung hingga tengkukku, aqu menggeliat geli bercampur nikmat, dan jeritanku gag tertahankan saat dia mengulum telingaqu. Pak Herman mendekati wajahku, dia mencium kening dan bibirku, baru kusadari kalau sejak awal tadi dia tak pernah menyentuh gadis yg di booking ini. Ciumannya gag berlangsung lama, lebih tepat sekedar kecupan tanpa bertindak lebih jauh, dia kembali agak menjauh.

Kocokan Pram semakin menggila, remasannyapun makin kuat namun lebih nikmat. Tiba tiba dia menarik badanku ke atas, lenganku dipegangnya dari belakang, kini badanku tergantung pada pegangan kedua tangannya, kemaluannya serasa makin menusuk dalam.
Pak Herman kembali bergeser di depanku, tepat berhadapan denganku, sepertinya dia begitu menikmati wajahku yg penuh expresi kenikmatan sambil sesekali meraba mukaqu dengan gemas. Sementara Pram makin liar mengocokku, semakin membawaqu melambung tinggi dan beberapa kocokan kemudian jeritan kenikmatan terlontar dari mulutku. Aqu klimaks dalam pelukan Pram dari belakang dan didepan Pak Herman yg gag pernah bosan menatapku. Gag kupedulikan rabaan Pak Herman di wajahku yg tengah dilanda klimaks, aqu begitu menikmati kenikmatan yg tengah kugapai.

“Gila kamu Pram, enak banget” bisikku setelah denyutanku habis.
“Mau lanjut?” tanyanya sambil mencium bibirku. Tanpa menunggu jawabanku, dia duduk di sofa dan menarikku dipangkuannya. Setelah napasku normal kembali, kuatur posisi badanku dan perlahan turun melesakkan kemaluan Pram ke kemaluanku. Aqu mencium bibirnya saat kumulai gerakanku diatas pangkuannya.
“Kini giliranku pegang peranan” pikirku sambil menggoygkan pinggul dan turun naik.
Desahan Pram mengiringi desah desah nikmatku, tangannya meremas remas payudaraqu yg tepat bergoyg menggoda di depannya diselingi kuluman dan gigitan ringan pada pentil, aqu menggeliat nikmat. Gerakan goyganku semakin cepat dan liar diatasnya, aqu seperti kesurupan dalam permainan penuh gairah, apalagi keberadaan Pak Herman sebagai penonton ternyata membuat sensasi yg semakin bergairah. Tiba tiba Pram menghentikan gerakanku.
“Sebentar, ganti kondom dulu” katanya dengan berani sambil mendorong badanku turun.
“Pak bisa kami diambilkan kondom lagi” katanya pada Pak Herman yg dari tadi menonton aksi kami, tanpa bertanya lebih lanjut dia mengambil kondom kedua dan menyerahkan kondom yg sudah dibuka kepadaqu.

Terpaksa aqu lepas kemaluannya dari kemaluanku, ternyata kondom itu sudah terisi cukup banyak cairan putih keruh, sepertinya dia sudah keluar tapi tak tau kapan karena gag kurasakan klimaks darinya, atau mungkin dia memang menahan klimaksnya, pantas sering kurasakan denyutan denyutan kecil ketika kami bercinta. Segera kuganti kondom dengan mulutku, kukulum sejenak lalu kembali kulesakkan ke kemaluanku, disusul goygan badanku di atas pangkuannya. Gag lama kemudian kami saling mengocok, saling melumat dan saling memberi kenikmatan, Pak Herman gag pernah bosan melihat dengan berbagai sudut pandang.

Berulang kali Pram memuji keliaranku di sela desahannya, gag jarang dia hanya diam saja menikmati gerakanku tanpa menyentuhku sama sekali, hanya tatapan dan desahannya yg menandakan dia menikmati gerakan badanku dipangkuannya.. dan aqupun gag bisa bertahan lebih lama lagi, untuk kedua kalinya kuraih klimaks dari Pram, klimaks yg indah. Pak Herman mendekapku dari belakang dikala aqu menggelinjang menikmati sensasi klimaks, hanya pelukan tanpa ada usaha meremas payudaraqu, disusul lumatan pada bibirku yg terbuka saat merasakan nikmat klimaks. Pram hanya dia melihat kami.

“Uff.. istirahat dulu Pram” kagagu sambil turun dari pangkuan Pram, ternyata dia mengikutiku berdiri, kemaluannya yg masih terbungkus kondom menggelayut kekar diselangkangannya.
Sedetik kemudian dia mendekapku dari belakang lalu badanku direbahkan diatas ranjang hangat, permintaanku untuk istirahat gag digubris, justru dia menjawab dengan membuka kakiku lebar lebar dan langsung membenamkan kepalanya diselangkanganku, aqu teriak menjerit kaget tapi gag dipedulikan. Sangat raqus Pram menjilati sekujur kemaluanku, disedotnya kuat seluruh cairan klimaks yg ada di kemaluan, aqu menjerit nikmat, belom pernah diperlaqukan seperti ini oleh laki laki. Biasanya aqulah yg membersihkan air mani dari kemaluan tapi kini terjadi sebaliknya, kuremas remas rambut Pram yg masih asyik menikmati cairan kemaluanku.

Puas bermain di selangkangan, Pram langsung menindihku, kemaluannya kembali menghunjam dalam di kemaluanku, kocokannya begitu nikmat membuatku kembali naik menuju puncak. Kami berpelukan rapat, kakiku menjepit pinggangnya, keringat dan desah napas menyatu dalam irama permainan penuh nafsu. Lidah dan bibirnya gag pernah beranjak dari badanku, dari leher, bibir, pipi atau telinga, aqu semakin mendesah sambil menggelinjang penuh kenikmatan. Gag perlu waktu lama untuk membawaqu kembali ke puncak birahi, dan untuk ketiga kalinya kuraih kenikmatan itu dari Pram tanpa membuat dia klimaks.

Tak seperti sebelomnya, kali ini Pram tak menghentikan kocokannya dikala aqu sedang menggelinjang penuh kenikmatan, justru dia makin mempercepat kocokannya, karuan saja jeritanku semakin nyaring terdengar. Tanpa memberiku kesempatan lebih lanjut, dia membalik badanku. Aqu hanya nungging dengan dada masih menempel di ranjang, badanku terlalu lemas untuk kuangkat.

Dari belakang dengan Bebasnya Pram mengocokku, aqu gag kuasa lagi menjerit, hanya desah kenikmatan yg keluar dari hidungku, beberapa kocokan dan sodokan keras kurasakan tapi aqu gag kuasa menggeliat, tiba tiba Pram menghentikan kocokannya, kurasakan denyutan kecil di kemaluanku.

“Pak tolong kondom lagi dong” kudengar dia minta Pak Herman untuk kondom ketiga, berarti kondom terakhir dalam satu kemasan. Kurasakan Pak Herman naik ke ranjang, Pram mencabut kemaluannya lalu gag sampai semenit kembali dilesakkan ke kemaluanku, rupanya dia mengganti kondomnya, dilemparkan kondom bekas itu ke depanku, terlihat cairan putih sedikit mengisinya.

Untuk kesekian kalinya kurasakan kemaluannya menghengag dan menyodok kemaluanku dengan keras, tak tau apa yg dilaqukan Pak Herman dibelakang sana, gag bisa kulihat jelas dan aqupun gag berminat melihatnya. Disaat kocokan Pram sedang menghebat, kurasakan cairan hangat membasahi punggungku lalu diusap usap ke sekujur punggung hingga bokong.

“Tak tau apa yg dilaqukan Pram, mungkin meludahi belakangku” pikirku, aqu gag peduli, kulawan gerakan Pram dengan mengoygkan bokongku mengimbanginya.

Tak tau sudah berapa lama dia mengocokku dari belakang, hingga kudengar jeritan kenikmatan darinya, kemaluannya serasa membesar disusul denyutan keras pada kemaluanku, dia meremas bokongku kuat kuat, aqu membalas dengan tetap menggoygkan bokongku, dia makin menjerit keras tapi aqu gag peduli. Akhirnya Pram mencabut kemaluannya, dia segera bergeser ke depanku, dicabutnya kondom yg penuh air mani dan disodorkan kejantanannya ke mulutku, aqu gag menanggapi namun dia mengusap usapkannya ke wajahku. Akhirnya kuturuti kemauannya, kuraih kemaluan di depanku dan kumasukkan ke mulutku, aroma air mani sangat keras tercium, kupermainkan kemaluan yg mulai mengecil itu di mulutku, gag kubiarkan dia menariknya keluar, lidahku menari nari di kepala kemaluannya, Pram menjerit histeris.

Kami telentang bersebelahan, napas kami masih menderu sisa sisa permainan birahi yg melelehkan, Pak Herman kembali ke sofa melihat badan kami yg tergolek lemas diranjang.

“Kalian berdua memang pasangan yg cocok, 1 jam 7 menit permainan kalian” kata Pak Herman, gag kusangka selama itu, padahal rasanya baru 10 atau 15 menit kami bercinta, mungkin kami terlalu menikmati hingga terasa waktu berjalan cepat.

“Ternyata apa yg aqu dengar selama ini memang tak bohong, dan beruntunglah aqu ikut membuktikan, ntar kita lanjutin lagi” kata Pram masih dengan napas berat.

“Oke Pram, tugas kamu sudah selesai dan kamu bisa tinggalkan kami” kata Pak Herman sambil melegagkan amplop di meja.

Sebenarnya aqu agak kecewa mendengar Pram harus pergi, rasanya terlalu sayg melewatkan waktu dengan dia cuma sebentar, dalam hati aqu tak keberatan kalau harus melayani mereka berdua, toh ini bukan pertama kali meskipun aqu baru mengalaminya sekali, tapi Pak Hermanlah yg berkuasa, aqu diam saja.

Dengan muka penuh kecewa, Pram beranjak dari ranjang, dipungutinya pakaiannya dan dikenakan kembali. Kini dia tampak seperti anak muda umumnya, gag ada kesan kalau dia seorang mucikari yg pandai memuaskan perempuan, termasuk aqu. Dia mengambil amplop yg ada di meja dan menyalami Pak Herman, setelah itu menghampiriku yg masih rebahan telanjang di ranjang, dikecupnya keningku.

“Bersihkan air mani Pak Herman di punggungmu” bisiknya saat mencium pipiku, baru kusadari cairan hangat yg kukira ludah tadi adalah air mani Pak Herman.
“Terima kasih Pak, Bapak tau bagaimana kalau menghubungiku lain waktu, selamat bersenang senang” katanya sambil pamit melirikku.

“Jangan pergi, kita main bertiga saja, aqu sanggup kok melayani kalian berdua sekaligus” teriak batinku, tapi kata kata itu gag keluar dari mulutku.

Pak Herman menyeringai melihatku masih telanjang, wajah gantengnya sebenarnya cukup mempesona tapi aqu masih terbuai dengan permainan Pram. Dia mengeluarkan tisu basah dari bajunya dan menyerahkan kepadaqu.

“Usap wajahmu dari air maninya” perintahnya, aqu menurutinya.
Pak Herman duduk ditepi ranjang menghadapku.

“Kamu memang benar benar menggairahkan, hampir gag tahan aqu melihat permainanmu tadi, makanya aqu berubah pikiran, terlalu sayg melewatkan saat saat seperti ini begitu saja” katanya sambil menyibakkan rambut yg menutupi sebagian dadaqu. Aqu diam saja ingin tau rencananya lebih jauh, sebenarnya ini sudah diluar kesepakatan, harus melayani 2 orang.

“Jangan khawatir, aqu mengerti kok soal uangnya, gag perlu dipikirin, atau kamu mau telepon GM-mu” lanjut Pak Herman seakan membaca pikiranku.
Malu aqu dibuatnya, kujawab dengan senyuman.

“Gag usah, aqu percaya sama Bapak kok, aqu mandi dulu ya” kagagu seraya hendak beranjak dari ranjang, tapi dia menahan badanku.

“Gag usah mandi, biar lebih hot dengan keringat di badanmu” katanya pendek disusul gerakan menindihku, aqu terkejut tapi terlambat, dia sudah berada di atasku menciumi leher dan melumat bibirku.
Aqu segera membalas lumatan penuh gairah itu.

“Kamu cantik.. dan bertambah cantik saat mendesah.. dan makin cantik kala klimaks” katanya disela ciuman kami, aqu membalas dengan desisan ringan, apalagi ketika bibirnya sudah berada di pentilku.

Gag berlama lama kami melaqukan pemanasan karena sama sama terbakar pada babak sebelomnya. Tanpa melepas ciuman dan tindihannya, dia mengeluarkan kemaluannya, kurasakan sapuan kepala kemaluan di bibir kemaluanku, aqu gag tau seberapa besar kemaluan yg akan melesak di lubang kemaluanku kali ini. Tanpa kondom, perlahan kepala kemaluan itu menembus celah kemaluanku, sepertinya cukup besar dan terus menembus masuk makin dalam, seperti perjalanan yg panjang sebelom menyentuh dasar kemaluanku. Aqu mendesis nikmat meski baru 15 menit yg lalu kurasakan kenikmatan yg sama dari Pram. Harus kuaqui kalau kurasakan kemaluan yg lebih panjang telah melesak memenuhi kemaluanku.

Beberapa detik kemudian mulai kurasakan ayunan kenikmatan dari Pak Herman dan semakin cepat. Sambil menikmati kayuhannya kulepas pakaiannya, terkesiap sesaat disela desah kenikmatanku melihat dada bidang Pak Herman yg dihiasi bulu bulu, begitu sexy tanpa timbunan lemak. Aqu semakin terangsang hebat, kekecewaan ditinggal Pram segera terlupakan dan berganti kenikmatan kocokan Pak Herman, tamuku yg sebenarnya.

Kutarik badannya dalam dekapanku, aqu ingin merasakan dekapan kehangatan penuh birahi dari tamuku yg sexy kali ini, berkali kali kubalas lumatannya dengan lumatan gag kalah gairah. Tak tau mimpi apa aqu tadi malam menbisakan berkah yg gag terhingga seperti ini, 2 laki laki jantan berurutan menikmati badanku dan memberi kenikmatan yg gag terhingga, berulang kali aqu berterima kasih pada si cicik yg memberiku kedua laki laki ini.

Kami saling mendekap erat, terlupakan sudah rasa capek dengan Pram tadi, napas kami bersatu menderu diiringi desah kenikmatan dari kami berdua.
“Sshh.. trus Pak.. uff.. ennaak Pak” desahku ditelinganya tanpa dibuat buat.
Cukup lama dia mengocok dari atas sebelom membalik badanku. Aqu gag mau posisi diatas karena hampir bisa dipastikan tamuku gag akan bisa bertahan lama berada dibawahku.
“Dari belakang Pak” kagagu sambil turun dari badannya dan nungging disamping.
Pak Herman melepas pakaian yg masih tersisa, kami sama sama telanjang, diraihnya bokongku dan sedetik kemudian melesaklah kemaluannya kembali ke kemaluanku disusul kocokan cepat. Aqu menggeliat nikmat merasakah hunjaman kemaluan itu, meski belom sempat melihat tapi yakin bahwa lebih besar dari punya Pram.

Sodokan demi sodokan menghunjam tajam di kemaluanku, desahan demi desahan mengiringi permainan kami, remasan demi remasan menambah gairah semakin tinggi. Aqu benar benar melambung dalam nikmat, dan gag bisa kutahan lebih lama lagi aqupun mencapai puncak kenikmatan mendahului Pak Herman. Badanku langsung lunglai begitu denyutan di kemaluanku menghilang, lututku serasa gemetar, mungkin terlalu banyak klimaks berturut turut dalam waktu yg singkat. Pak Herman menghentikan kocokannya sesaat, tapi melanjutkan kembali dengan lebih keras. Kembali aqu dipaksa untuk mendaki birahi yg tinggi, beberapa sodokan menusuk tajam, aqu terhenyak dalam kelelahan.

Kami berganti posisi beberapa menit kemudian, aqu langsung bergoyg di atas badannya, pandangan mata dan badan atletisnya ternyata membuaiku semakin tinggi, gerakanku semakin liar gag beraturan, kututup magagu rapat gag mampu melawan tatapan mata dan ke-sexy-annya. Aqu terlalu lelah untuk menggoygkan badanku, kutelungkupkan di atas dada bidangnya, bulu bulu dada serasa menggelitik pentilku, semakin terangsang aqu dibuatnya. Dengan mendekap badanku rapat, dia mengocokku dari bawah, dan gag lama kemudian kurasakan denyutan yg sangat kuat dari kemaluannya seiring jeritan kenikmatan yg keluar dari mulut Pak Herman, pelukannya semakin kuat. Aqupun gag kuasa ketika denyutannya membawaqu ikutan berdenyut menyusulnya ke puncak, kami klimaks hampir bersamaan, cairan hangat terasa memenuhi lubang kemaluanku.

Badan kami terkulai berpelukan lemas gag berdaya, degag jantung kami saling beriringan berpacu menuruni puncak kenikmatan, kusandarkan kepalaqu di pundaknya dengan napas masih berat tersengal, sungguh klimaks yg indah yg kuraih dari 2 laki laki berbeda berurutan.
“Kamu nginap disini aja ya” kata Pak Herman ketika sudah bisa bernapas normal, aqu gag keberatan tentu saja, setelah apa yg kubisa darinya.
“Terserah Bapak saja” jawabku pelan menyembunyikan gejolak kegembiraan, aqu harus tetap bersikap profesional meski mengharap tawaran seperti itu yg datangnya belom tentu sebulan sekali.
Kamipun mandi malam bersama, baru kusadari ternyata kejantanannya lumayan besar melebihi milik Pram yg sempat membuatku menggelepar kenikmatan. Secara fisik sebenarnya Pak Herman lebih sexy tapi dari segi variasi permainan, Pram jauh lebih unggul.

Malam itu kami habiskan dengan penuh gairah, 2 babak lagi kami bercinta, sekali di sofa dan meja lalu disusul adegan di ranjang, sebelom akhirnya tertidur setelah lewat tengah malam. Keesokan paginya ketika aqu bangun, gag kutemui Pak Herman disampingku, terdengar gemericik air dari kamar mandi. Segera aqu bangun dan menyusul ke kamar mandi.
“Pagi Bapak, wah udah duluan nih, kok gag mbangunin aqu sih” sapaqu melihat Pak Herman yg sedang menyiram badannya di shower.
“Eh pagi sayg, udah bangun rupanya, habis tidurmu nyenyak banget sih, gag tega aqu mbangunin” jawabnya sambil melanjutkan mandi.
“Aqu mandiin sini” aqu menawarkan diri.
“Monggo, tapi buruan ya, aqu sedang buru buru nih”
“Sip lah” jawabku langsung masuk ke bathtub, kusabuni badannya dengan gerakan gerakan menggoda terutama disekitar selangkangannya.

Sebenarnya aqu masih menginginkan bercinta darinya sebelom kami berpisah, paling tak sekali lagi. Tapi rupanya dia tak menanggapi meskipun kejantanannya sudah menegang dalam genggamanku.
“Udahan ah, kamu lanjutin aja mandi” katanya lalu ngeloyor pergi mengambil handuk dan meninggalkanku di kamar mandi, aqu agak kecewa juga dengan penolakannya.
Sengaja aqu agak berlama lama di kamar mandi untuk meredakan birahi di pagi hari. Ketika aqu keluar dari kamar mandi, ternyata Pak Herman sudah berpakaian rapi bersiap ke kantor, meskipun sebenarnya terlambat karena sudah jam 9 pagi.
“Ly, aqu duluan ya, ntar kamu check out-in aja, bisa kan?” katanya bersiap hendak pergi
“Beress” jawabku sambil melepas handuk penutup badanku dan mengeringkan rambutku.
“Oh ya, yg itu nanti sama si cicik aja ya dan ini untuk bayar hotel dan bensin” katanya tentang pembayaran seraya melegagkan amplop putih di meja.
“Thanks” jawabku masih mengeringkan rambut.

Sebelom Pak Herman meninggalkan kamar, dia mencium bibirku, ciuman perpisahan, cukup lama dia memeluk badan telanjangku, maka gag kusia siakan kesempatan, kuremas remas kemaluannya hingga berdiri.
“Sekali lagi yuk, sebentar aja” ajakku, dia menatapku tajam seakan ingin menengok isi hatiku.
“Kamu benar benar penggoda” jawabnya sambil meremas payudaraqu.

Tanpa menunggu jawaban darinya, aqu langsung merosot turun, berlutut didepannya, kubuka resliting celananya dan kukeluarkan kemaluan yg sudah menegang keras. Sedetik kemudian kejantanan Pak Herman sudah keluar masuk mulutku, mendahului sarapan pagi. Hanya beberapa menit aqu mengulumnya, Pak Herman menarikku berdiri, memutar badan telanjangku hingga menghadap tembok. Kubuka kakiku lebar ketika dia mengusapkan kemaluannya dari belakang.. dan melesaklah kemaluan pertama di hari ini mengisi kemaluanku.

Tanpa menunggu lebih lama, dia langsung mengocokku cepat dan keras, aqu menggeliat dan mendesah menikmati sodokan demi sodokan yg nikmat. Sepertinya gag pernah puas aqu menikmati kocokannya meskipun sudah 3 babak kami laqukan semalam.

Gag lebih dari 10 menit akhirnya kami menggapai klimaks hampir bersamaan, cairan hangat membanjiri lubang kemaluanku. Aqu segera berbalik meraih kemaluannya, kujilati dan kukulum hingga tiada lagi sisa air mani di kejantanannya lalu kumasukkan kembali ke celananya. Tanpa berkata kata lagi Pak Herman langsung meninggalkan kamar setelah merapikan kembali pakaiannya.

Hingga kami berpisah, aqu gag tau kenapa dia memerlukan bantuan seorang mucikari sebelom bercinta, padahal secara keseluruhan gag ada masalah dengan dirinya apalagi dia masih muda dan tampan lagi, tapi pertanyaan itu tetap kupendam, biarlah dia hidup dalam fantasi fantasinya, bukan urusanku untuk mencampuri khayalan seseorang, tapi merupakan pekerjaanku bila harus memenuhi fantasi fantasi itu.

Belakangan setelah beberapa kali ketemu dan selalu menggunakan “jasa” laki laki lain, baik itu mucikari pilihannya atau dia bisa dari GM, akhirnya kutau ternyata dia sangat terobsesi melihat permainan sex orang lain dan ritual itu selalu dilaqukan sebelom berhubungan dengan perempuan, beruntung dia belom kawin, tentu berabe kalau sudah. Aqu sangat menyukai fantasinya, meski terkadang laki laki lain tak sekelas Pram, tapi bagiku cukup memberikan sensasi aneh sebelom bercinta dengan Pak Herman.

E N D.

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.