Vimax cerita ngentot Cerita Dewasa Cerita Sex Terbaru
Breaking News
cerita dewasa Cerita Mesum Cerita Mesum Cerita Dewasa Cerita Sex cerita dewasa terbaru

Restoran Bercinta

Vimax

Kisah sex 2016, kisah sex terbaru, kisah sex, kisah seks 2016, kisah seks terbaru, kisah seks, Di malam yang dingin dan gelap sepi, benak ku melayang pada kisah kita….

Cerita Sex Terbaikcerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks, Kisah Sex Terbaik

Seperti biasa, malam hari sekitar jam 19:00, sepulang kerja aku selalu mencari tempat untuk makan (maklum boseValen), dan aku teringat oleh kata temanku yang baru siang tadi makan di WP. Karena jarak antara kantor dan lok agak jauh maka aku segera buru-buru melarikan Mobilku. Sesampainya di sana aku agak bingung, karena begitu banyak Mobil dan buaya yang parkir. Tanpa pikir panjang kuparkir di tempat yang agak jauh. Mobil yang parkir di situ rata-rata adalah Mobil luar kota, kebanyakan plat L dan W. Ketika memasuki lok, di sana ada banyak meja yang kosong, sempat aku berpikir,

“Apakah aku salah tempat?”

“Ndut..” kulihat seorang teman memanggil diriku.

Aku biasa dipanggil enNdut oleh teman karena perut yang agak-agak buncit dikit, mungkin karena terlalu banyak minum x yach.

“Pur, ngapain di sini?” tanyaku ke Purbo, karena kulihat di mejanya hanya ada sebotol Fanta.

“Lagi nunggu,” sahutnya.

“Nunggu apa? MakaValen?” tanyaku penasaran.

“Lagi nunggu servis,” balasnya yang membuatku penasaran.

“Servis apa? Mobil?” tanyaku semakin penasaran.

“Lha kamu mau apa?” Purbo balik bertanya.

“Makan,” jawabku polos.

“Wah kuno kamu, di sini ada servis selain makan dan minum,” balas Purbo sambil menyeringai.

“Mas, mau pesan apa?” tanya seorang cewek yang sempat membuatku terkejut.

“Eh.. di sini ada apa aja?” jawabku.

“Di sini ada cewek,” sahut Purbo seraya mengerlipkan sebelah mata kepada cewek tadi.

“Ah.. Mas Purbo ini, genit ah.. kan pelanggan baru kalau nggak mau bagaimana?” jawab si cewek agak manja.

“Saya pesan nasi campur dan es jeruk yang lainnya Valenti saja,” jawabku sambil memperhatikan cewek yang akhirnya kutahu namanya adalah Martina.

Martina adalah pegawai di warung itu, selain cantik juga mempunyai tubuh yang lumayan, tinggi; sekitar 170 cm, kulit; Jasmineih mulus, dada; sekitar 36, pinggul; seksi (apalagi kalau berjalan). Sambil makan dan berbincang, baru kutahu kalau si Purbo ini sering ke sini, makanya dia berani menggoda Martina. Selesai makan Purbo mengajakku ke sebuah ruangan di dalam warung itu, ruangan itu tidak terlalu lebar tapi sangat panjang dan memiliki banyak kamar dan hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar.

Kulihat Purbo memasuki kamar pertama, dan ternyata di situ adalah tempat receptionis dan seorang wanita yang sedang menulis-nulis sebuah buku (sepertinya buku administrasi).

“Mbak, ada yang kosong?” tanyanya.

“Ada, ehm.. mau dua atau satu Pur, atau.. masing-masing dua?” sambil melihat ke arahku.

“Masing-masing satu aja, ini temanku baru pertama kali ke sini,” katanya.

“Oke, mau yang mana?” tanya wanita itu sambil memberikan foto-foto cewek lengkap dengan nama dan umur mereka di balik foto-foto itu.

“Eh.. kamu mau yang mana?” tanya Purbo kepadaku.

Kemudian aku melihat separuh foto-foto itu karena yang separuhnya sedang dilihat Purbo. Tak lama setelah kami bertukar foto, aku memilih sebuah foto yang dibaliknya ada nama Jasmine dan berumur 20 tahun.

“Oke, silakan tunggu di kamar 30 dan 31!” jawab wanita itu sambil memberikan kunci kamar nomor 30 kepadaku.

Sambil berjalan menuju kamar 30, aku sempat mendengar suara desahan nafas yang sangat kuhafal karena sering menonton film biru. Ketika aku sampai di depan pintu kamar seorang cewek cantik berusia sekitar 18 tahun menghampiriku dan bertanya,

“Mau sama Mbak Jasmine ya Mas?” tanyanya.

“Iya..” jawabku sambil mengamati wajah dan tubuh yang hanya mengenakan kaos ketat tipis tanpa BH dan celana ketat pendek (sepertinya celana untuk senam).

“Mas baru pertama ya ke sini?” tanyanya menyelidik.

“Iya.. kok tahu?” sahutku.

“Iya, tahu Dong kan yang masuk sini selalu saya perhatikan dan kebanyakan hanya om-om. Oh iya nama saya Valen. Situ siapa?” tanyanya.

“Aku Khoirul. Masuk yuk, di dalam kan lebih enak!” sambil membuka pintu kamar dan menutup setelah Valen masuk.

Setelah berbincang dengan dia baru kutahu kalau dia anak pemilik warung yang tidak diperhatikan oleh orangtuanya karena sibuk dengan urusan warung, makanya dia berada di ruangan itu tanpa sepengetahuan orangtuanya. Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka, ternyata Jasmine yang kupesan tadi.

“Maaf, lama menunggu ya,” kata Jasmine.

“Udah dulu ya Mas, Mbak Jasmine sudah datang, silakan berseValeng-seValeng,” kata Valen.

“Lho, Valen Valenti kalau ibu tahu kamu bisa dimarahi lho,” kata Jasmine.

“Cuek aja, yang penting bisa happy (sambil keluar dari kamar),” kata Valen.

“Mas sudah lama nunggu ya?” tanya Valen.

“Ah enggak kok, lagian kan ada Valen,” kataku.

“Saya ke kamar mandi dulu ya, Mas buka saja dulu pakaiannya supaya lebih rileks,” kata Jasmine.

Setelah Jasmine masuk kamar mandi, kubuka baju dan celana sampai telanjang bulat. Sambil menunggu kuperhatikan kamar itu, ternyata itu adalah kamar Jasmine, di sana banyak foto Jasmine sedang in action.

“Wah Mas kok gairah banget, nggak pakai pemanasan?” tanya Jasmine menyadarkanku dari lamuValen. Ternyata Jasmine sudah tidak memakai apa-apa kecuali handuk yang hanya mampu menutupi dadanya yang kalau dilihat dia berukuran 34D itu, dan daerah liang senggamanya hanya tertutupi oleh bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat.

“Mas, kok ngelamun?” tanya dia lagi.

“Wah tubuhmu bagus sekali,” jawabku.

Tanpa basa-basi kutarik tubuh itu dan kuciumi bibir tipis yang membuat wajahnya menjadi cantik. Jasmine tidak membalas ciuman pada menit pertama, tapi lama kelamaan dia mulai membalas ciumanku dengan sangat buas. “Mas rebahan di kasur ya! biar bisa isep itu,” sambil menunjuk ke arah kemaluanku yang tak terasa sudah mulai menegang.

Aku langsung saja tiduran dan dia membuka handuk yang menempel tadi dan menjatuhkannya di lantai. Ternyata aku salah menilai susu yang besar itu, ternyata berukuran 36D. Setelah menaiki kasur dia langsung menciumi bibirku dan perlahan mulai turun dan akhirnya dia mengulum batang kemaluanku yang berukuran sekitar 15 cm itu. Aku pun menikmati permaiValen itu, secara perlahan dia mulai menaikiku dan mengarahkan batang kemaluanku yang sudah siap perang ke arah lubang kemaluannya.

“Bless..” dan,

“Ah..” Jasmine mendesah sambil memejamkan matanya. Agak lama dia terdiam dan aku merasakan sesuatu yang memijit batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya. Dia mulai membuka mata dan menaik-turunkan pinggulnya.

“Ah.. ah.. ah.. Mass.. ah.. ennaaknyaa.. ah..” sambil terus menaik-turunkan pinggulnya. Sampai akhirnya dia menjerit

“Mass.. aku.. mauu.. keluuarr.. ah..” kurasakan ada cairan yang menyemprot kemaluanku dengan derasnya. Namun aku masih belum bisa menerima perlakuan ini, aku ganti posisi sehingga aku berada di atas dan dia membuka kakinya lebar-lebar seakan menyambut kedatangan kemaluanku.

“Ayo Mas, puaskan Mas, basahi kemaluan ini Mas.” Tanpa ba bi bu, aku langsung menggenjot dia sehingga dia mengalami klimaks yang kedua kalinya.

“Aaah.. aah.. aah.. Maass..”

“Jasmine.. aku.. su.. dah.. nggak.. kuaat.. ah..”

Cerita Seks Terbaik
kisah sex 2016, kisah sex terbaru, kisah sex, kisah seks 2016, kisah seks terbaru, kisah seks,Kisah Sex Terbaik

Kuakhiri kata-kata terakhir sambil memuncratkan spermaku ke dalam lubang kemaluannya.

“Mas ini kuat sekali ya, aku belum pernah seperti ini,” katanya sambil lubang kemaluannya memijit batang kemaluanku yang masih tegang di dalam.

“Aku juga Jasmine, belum pernah merasakan yang seperti ini (hanya alasan supaya seValeng).” Dan kami melakukannya sekali lagi karena kemaluanku masih tegang dan dipijat terus oleh lubang kemaluannya, jadinya tidak bisa tidur walau sudah keluar. Setelah selesai aku membersihkan diriku di kamar mandi. Selesai mandi aku keluar kamar dan melihat Jasmine tertidur, aku langsung saja keluar kamar, eh.. ternyata Purbo sudah lama menungguku dan dia sudah membayar ongkos service tadi. Aku pun pamit dan berterima kasih pada Purbo karena sudah malam dan besok masih ada pekerjaan yang menunggu di kantor.

Pada hari Sabtu sore aku berjalan-jalan di sebuah pertokoan di dekat alun-alun. Kulihat jam sudah menunjukan pukul 18.00 dan perutku sudah mulai lapar. Ketika mencari sebuah rumah makan aku melihat ada seorang gadis yang duduk sendiri membelakangiku dan tampaknya gadis itu adalah Valen anak dari yang punya WP, dan kusapa dia.

“Hi, Valen..” sapaku.

“Oh, Mas Khoirul..” kata Valen.

“Sendiri?” tanyaku.

“Nggak, sama teman,” jawabnya.

“Sama pacar?” tanyaku lagi.

“Pacar? belum punya tuh,” katanya.

Tak lama kemudian ada sepasang muda-mudi yang bergandengan tangan ke arah kami.

“Mas kenalin ini teman saya Nindya dan Budi,” kata Valen.

“Hai saya Khoirul,” kataku memperkenalkan diri.

“Saya Nindya,” kata Nindya.

“Budi,” kata Budi.

“Kok lama banget sih, kamu lagi pesan atau buat masakan?” tanya Valen.

“Kan antri non,” kata Nindya.

“Rul, kamu nggak pesan?” tanya Budi.

“Sudah tadi (ketika sedang berduaan),” kataku.

“Valen, kamu Valenti ikut kami nggak? Berempat kan asyik,” kata Nindya.

“Tanya dulu Dong, masa langsung angkut. Mas Khoirul ada acara nggak?” tanya Valen.

“Nggak ada,” kataku.

“Mau ikut kami?” tanya Valen.

“Ke mana?” tanyaku.

“Ada deh,” kata Valen.

“Boleh, lagian besok libur kantor, nganggur,” kataku.

Sambil makan aku memperhatikan Nindya yang tak kalah cantik dibanding Valen, tingginya sekitar 160 cm, dadanya sekitar 34, kulitnya coklat, pinggulnya agak kecil (lumayan). Setelah makan kami menuju ke areal parkir. Karena masing-masing bawa Mobil (aku dan Budi) maka aku satu Mobil sama Valen karena dia yang tahu mau ke mana. Saat di dalam mobil dia banyak cerita tentang temannya yang akhirnya kutahu kalau mereka itu sedang berpacaran dan sudah bertuValengan. Ketika akan melewati sebuah hotel Valen menyuruhku untuk masuk ke dalam hotel itu.

“Mau nginap?” tanyaku.

“Ya ke sini ini tujuan kita,” kata Valen.

Sambil mencari tempat parkir aku berpikir kalau aku sedang mendapat kejutan akan berkencan dengan seorang gadis yang cantik dan gratis karena dia yang mengajak. Setelah menemukan tempat yang aman dari teman sekantor, kami masuk ke dalam dan teman Valen sudah memesan sebuah kamar VIP. Kami pun berjalan mengikuti belboy yang menunjukkan di mana kamar kami. Sesampainya di kamar, Budi memberi tip kepada belboy dan menutup pintu kamar. Kamar yang unik menurutku (karena belum pernah masuk), ada dua kasur besar di dalam dua ruangan tanpa pintu yang berseberangan, sebuah ruang tamu lengkap dengan TV, kulkas, AC dan sebuah meja kecil dengan telepon.

Kami berempat duduk berpasangan di ruang tamu, aku dengan Valen dan Budi dengan Nindya. Tanpa menunggu aba-aba Budi langsung menciumi Nindya, dan kurasakan tangan Valen mulai membelai pahaku. Aku pun langsung memeluk Valen dan menciumi bibir sensualnya. Valen pun membalas ciuman itu dengan buas dan liar bagai singa sedang memakan mangsanya. Kemudian Nindya bertanya,

“Valen, kamu kamar yang mana?”

“Terserah deh, pokoknya ada kasurnya,” kata Valen.

“Aku masuk dulu ya,” kata Nindya.

“Aku juga ah.. nggak enak di sini,” kata Valen.

Sambil menarikku ke dalam kamar dan membaringkan aku dengan sedikit mendorong.

“Mas, aku akan servis kamu lebih dari yang pernah kamu alami,” kata Valen.

“Boleh aja, asal bisa tahan lama,” kataku.

 

Valen membuka pakaiannya sambil melenggak-lenggokkan pinggul layaknya seorang penari striptease. Setelah pakaiannya habis dia berjongkok sambil menciumi batang kemaluanku yang sudah tegak di dalam celana. Sambil menciumi dia membuka celana dan aku membuka baju sampai telanjang bulat. Dia langsung menciumi dan menjilati kemaluanku yang sudah tegak berdiri dengan gagahnya.

“Mas besar sekali?” tanya Valen.

“Tapi enakkan..” kataku.

“Iya..” katanya.

Kemudian kutarik tubuhnya sehingga aku dapat menciumi lubang kemaluannya dan dia tetap dapat mengulum kemaluanku.

“Mas.. lidahnya.. nakal.. auw.. ah..” katanya sambil mendesah.

“Kamu juga pintar mainin lidah,” kataku.

“Mas.. masukin.. aja.. ya.. aku.. pingin.. ini..” kata Valen.

Sambil memutar tubuhnya, sayub-sayub aku mendengar jeritan nikmat dari kamar seberang.

“Ah.. Mas.. nikmat.. Mas.. ah..” katanya ketika batang kemaluanku masuk dan sambil menaik-turunkan pinggulnya aku merasakan batang kemaluanku mendapat hisapan yang sangat kuat.

“Mas.. oh.. ah.. Mas.. enak.. ah..” desah Valen.

“Ka.. muu.. juga..” selang agak lama dia mulai mempercepat genjotannya dan akhirnya dia orgasme.

“Ah.. Mas.. ah.. enak..”

Aku tahu dia sudah lemas, maka aku membalikkan tubuhnya sambil batang kemaluanku tetap di dalam dan mulai menggenjot tubuhnya.

“Oh.. Mas.. yang keras.. Mas.. ah..” dia berkata sambil mengangkat kedua kakinya sehingga aku dapat menciumi betisnya.

Tak berapa lama,

“Mas.. aku.. mau kegh.. luar.. ah.. Mas.. nggak.. kuat..” teriaknya.

“Ta.. han.. sebentar ya.. aku.. juga.. hmmff,” aku mempercepat gerakan dan akhirnya..

“Mas.. ah.. aku.. keluar.. Mas.. aagh.. hmmff.. hmmff..”

“Ah.. ah.. oh..”

Kami mengeluarkan secara bersamaan dan aku mencium keningnya dan dia pun membalas mencium dadaku sambil sedikit menggenjot secara halus untuk mengeluarkan sisa sperma yang belum keluar.

“Plok, plok, wah hebat bener sampai Valen harus dua kali keluar,” kata Nindya yang sedang memperhatikan kami, ternyata dia dan Budi sudah lama menonton pertandingan kami dan kami tidak menyadarinya.

Setelah membersihkan diri kami berkumpul di ruang tamu sambil berbincang tanpa sehelai beValeng yang menempel.

“Gimana Valen enak?” tanya Nindya.

“Luar biasa Er, aku belum pernah seperti ini,” kata Nindya.

“Kalau sama aku?” tanya Budi.

“Kamu sih nggak ada apa-apanya sama dia?” kata Valen sambil menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Masa?” tanya Budi.

“Iya, punya dia kan lebih besar dan lebih lama,” kata Valen.

“Kalau lama aku mungkin bisa kan biasanya melayani kalian berdua jadinya capek kan,” kata Budi.

“Gimana kalau Valenti kita tukar, aku sama Khoirul dan kamu (Valen) sama Budi,” kata Nindya.

“Wah rugi aku dapat Budi,” kata Valen.

“Menghina ya,” kata Budi.

“Nggak pa-pa Valen, aku kan juga pingin ngerasain,” kata Nindya.

“Kamu mau nggak Mas?” tanya Valen kepadaku.

“Boleh, tapi biasanya yang kedua lebih lama,” kataku.

“Waduh, rugi dua kali nih,” kata Valen.

“Kamu kan kapan-kapan bisa berduaan lagi, kalau aku kan mau menikah,” kata Nindya.

“Iya deh,” kata Valen.

Setelah itu Nindya dan Valen bertukar tempat dan sekarang Nindya berada dalam pelukanku sedangkan Valen bersama Budi. Selang agak lama berbincang-bincang Nindya mulai meraba-raba dadaku dan memberikan ciuman kecil pada pentilku. Aku pun membalas dengan membelai lembut buah dada yang tampak menggairahkan itu. Tak lama kemudian Budi menggenDong Valen dan membawanya memasuki kamar tempat Nindya dan Budi bermain pada mulanya. Sedangkan Nindya semakin buas dan segera mengulum batang kejantananku yang masih tidur dengan nyenyaknya.

Aku pun menikmati perlakuan yang diberikan Nindya kepada batang kejantaValen yang sekarang setengah tiang itu. Tampaknya Nindya sangat ahli dalam hal mengulum, buktinya tidak lama kemudian adik kesayanganku itu terbangun dalam keadaan siap tempur. Aku menjadi tidak sabar dengan keadaan itu maka dengan gairah yang besar kugendong tubuh Nindya menuju ke kamar yang satunya lagi.

Di dalam kamar langsung kulempar tubuh itu ke atas kasur dan aku pun mulai menciumi daerah liang senggama Nindya yang sudah terlihat sangat merangsang.

“Emh.. emh.. ahh..” tampaknya Nindya mulai merasakan rangsangan yang aku berikan.

“Mas.. aku.. pingin.. Mas.. ah..” setelah berkata, dia langsung membalikkan badannya dan sekarang posisi kami saling berhadapan dengan dia di atas dan aku di bawah. Dia mulai mengarahkan batang kemaluanku ke arah kemaluannya dan..

“Ahh..” amblaslah batang kemaluan yang lumayan besar itu. Tanganku pun tak mau tinggal diam, meremas-remas buah dada yang sedang mengayun-ayun di atas dadaku.

“Emh.. ah..” dia pun mulai memainkan pantatnya. Tak berapa lama dia mengejang dan menurunkan pantatnya sampai batang kemaluanku amblas tak terlihat, rupanya dia sudah orgasme, tapi dia tidak seperti habis orgasme tetap menaik-turunkan pantatnya malah semakin cepat. Aku pun merasa nikmat dan dalam waktu singkat aku pun orgasme.

Kami pun tertidur kecapaian sambil kemaluanku tetap di dalam liang senggamanya dan kepalanya berada di dadaku. Keesokan harinya kami pulang ke rumah masing-masing, dan sejak kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan Nindya lagi, begitu juga Valen, entah kemana mereka, seolah hilang ditelan bumi.

Maka aku pun hanya bisa membayangkan tidur bersama mereka berdua. Dan aku semakin sering datang ke lok barangkali bisa bertemu Valen, kalaupun tidak bertemu masih ada keistimewaan dari warung itu, makan sambil ngeseks. Sekian

cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.