Vimax cerita ngentot Cerita Dewasa Cerita Sex Terbaru
Breaking News
cerita dewasa Cerita Mesum Cerita Mesum Cerita Dewasa Cerita Sex cerita dewasa terbaru

kisah Sex Ngentot Suster Cantik

Vimax

Kisah Sex, kisah sex terbaru, kisah sex 2016, kisah sex terbaik, kisah sex terbaru terbaik, kisah sex terbaik 2016, kisah sex nyata, kisah sex nyata terbaik, Kisah ngentot suster cantik dan seksi di suatu kamar mandi rumah sakit – Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu aku sedang dWulanwat di rumah sakit untuk beberapa hari. Aku masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan asmara, khususnya “bercinta” aku sama sekali belum memiliki pengalaman berarti. Aku tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.

Kisah SexKisah Sex, kisah sex terbaru, kisah sex 2016, kisah sex terbaik, kisah sex terbaru terbaik, kisah sex terbaik 2016, kisah sex nyata, kisah sex nyata terbaikKisah Sex Terbaik

Sebut saja nama perempuan itu Wulan, karena jujur saja aku tidak tahu siapa namanya. Wulan adalah seorang suster rumah sakit dimana aku dWulanwat. Karena terjangkit gejala pengakit hepatitis, aku harus dWulanwat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama itu juga Wulan setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, aku lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.

Yang kuingat, hari itu aku sudah mulai merasa agak baikkan. Aku mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap. Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun, aku benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, aku memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.

Akhirnya aku menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Wulan yang kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke kamarku.

”Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali. Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku membuat aku dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan menggiurkan.

“Eh, ini Suster. Aku merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama aku tidak mandi. Jadi aku mau tanya, apakah aku sudah boleh mandi hari ini suster?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.Aku memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.

”Oh, begitu. Tapi aku tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Suster musti tanya dulu sama Pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum”, jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, aku merasa darahku seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Suster Wulan mau memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar aku terbengong sejenak, dan batang kemaluanku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu.

“Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ereksi segala sih, pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi”.Suster Wulan ternyata melihat reaksi yang terjadi pada kemaluanku yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Aku cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.

“Ngga kok Suster, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok”, elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu.

”Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket Suster bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban Suster kerja disini. Tapi Suster bener-bener ngga berani kalau Pak dokter belum mengijinkannya”, lanjut Suster Wulan lagi seolah memancing gairahku.”Ngga apa-apa kok suster, aku tahu Suster ngga boleh sembarangan ambil keputusa” jawabku serius, aku tidak mau terlihat “nakal” dihadapan suster cantik ini. Lagi pula aku belum pengalaman dalam soal memikat perempuan.Suster Wulan masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku.

”Dik, Suster bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket”, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak.

Aku tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang. Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Aku tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Suster Wulan kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang aku dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama aku tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani sebagaimana biasanya aku lakukan dirumah dalam keadaan sehat.

Kemaluanku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kemaluanku di permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Suster Wulan saat ini. fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung kemaluanku karena terangsang.

Beberapa saat kemudian Suster Wulan menyuruhku membalikkan badan. Aku merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kemaluanku yang ereksi.

“Iya Suster..”, jawabku sambil berusaha menenangkan diri, akupun membalikkan tubuhku.Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Aku benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.

”Ahh, geli dan enak banget”, pikirku.

“Wah, kok jadi keras ya? he he he”, aku kaget mendengar ucapannya ini.

”Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?”Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, aku benar-benar terangsang. Kemaluanku langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi aku tidak berani berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kemaluanku. Aku cuma tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Suster Wulan semakin berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku.

“Ahh, geli Suster. Jangan digituin”, kataku menahan malu.

“Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini”, lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya.Aku benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi aku ingin terus di”kerjain” oleh Suster Wulan, satu sisi aku merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.

”Dik Rifky sudah punya pacar?”, tanya Suster Wulan kepadaku.

”Belum Suster”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan berbicara.

”Dik Rifky, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi.

”Belum suster” jawabku lagi.

“hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih”, lanjutnya centil.Aduh pikirku, betapa bodohnya aku bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya “main” apaan yang aku pikirkan barusan. Pasti dia berpikir aku benar-benar “nakal” pikirku saat itu.

”Pantes deh, de Rifky dari tadi Suster perhatiin ereksi terus, Dik Rifky mau main-main sama Suster ya?

Wow, nafsuku langsung bergolak. Aku cuma terbengong-bengong. Belum sempat aku menjawab, Suster Wulan sudah memulai aksinya. Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku. Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.

”Ahh, geli Suster”m rintihku keenakan.

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya aku cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat aku mulai berani membalas ciumannya. Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali aku mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat aku mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.

”Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa gawat”, katanya.

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai aku telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya, digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga aku sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang berwarna hitam.

Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini lebih panas dan bernafsu. Aku belum pernah berciuman dengan perempuan, namun Suster Wulan benar-benar pintar membimbingku. Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kemaluanku yang berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali menggigitnya.

Kisah Sex TerbaruKisah Sex, kisah sex terbaru, kisah sex 2016, kisah sex terbaik, kisah sex terbaru terbaik, kisah sex terbaik 2016, kisah sex nyata, kisah sex nyata terbaikKisah Sex 2016

“Yes, enak.. ouh geli Rif, ah.. kamu pinter banget sih”, desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.Kini tangannya mulai meraih kemaluanku, digenggamnya. Tersentak aku dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Aku pun melepas kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Suster Wulan memainkan kemaluanku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku, dikocoknya kemaluanku pelan-pelan dengan kedua tangannya.

“Ahh, enak banget Suster.. asik.. ahh.. ahh..”, desahku menahan agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat.Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kemaluanku, sekarang kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah kemaluannya sendiri. Melihat aksinya itu aku benar-benar terangsang sekali. Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan kemaluannya dengan jempol kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kemaluanku pelan sambil melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara aku sibuk menggelitik kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit becek, padahal aku cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki.

“Yes.. ah.. nakal banget kamu Rif.. em, em, eh.. enak banget”, desahnya keras.Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga aku tidak khawatir didengar orang. Aku juga membalas desahannya dengan keras juga.

”Suster Wulan, sedotin kemaluan aku dong.. please.. aku kepingin banget”, pintaku karena memang sudah dari tadi aku mengharapkan sedotan mulutnya di kemaluanku seperti adegan film BF yang biasa kutonton.

”Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum.

Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kemaluanku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Aku cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya.Dan tiba-tiba dia memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kemaluanku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang kemaluanku sehingga aku merasa sekujur tubuhku serasa mengejang, kemudian ditariknya kemaluanku keluar.

“Ahh.. ahh..”, aku mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kemaluanku dari jepitan bibirnya yang manis itu.

Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kemaluanku didalam mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba aku merasa getaran di sekujur batang kemaluanku. Kutahan kepalanya agar kemaluanku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa aku akan segera “keluar”, Suster Wulan menghisap semakin kencang, disedot dan terus disedotnya kemaluanku. Terasa agak perih, namun sangat enak sekali.

“AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut Suster Wulan.

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang kutesusterkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kemaluanku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kemaluanku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini kemaluannya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku.

Dia mebuka lebar pahanya, dan digosok-gosoknya kemaluannya dengan jari-jari mungilnya itu. Aku cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah aku melihat seorang perempuan melakukan masturbasi dihadapanku secara langsung, apalagi perempuan itu secantik dan semanis Suster Wulan. Sesaat kemudian kemaluanku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri kemaluanku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas “panas” yang dilakukan Suster Wulan. Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.

Saat melihat aku mulai ereksi lagi dan mulai mengocok kemaluan sendiri, Suster Wulan tampak semakin terangsang juga. Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam kemaluannya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu.

“Ihh, kok ereksi lagi sih.. belum puas ya..”, canda Suster Wulan sambil mendekati diriku.Kembali digenggamnya kemaluanku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja dipakai untuk memainkan kemaluannya. Cairan kemaluannya di tangan itu membuat kemaluanku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah Suster Wulan, kini kembali basah. Aku mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih kemaluannya dengan jari-jari tanganku, tapi Suster Wulan menepisnya.

”Ngga usah, biar cukup Suster aja yang puasin kamu.. hehehe”, agak kecewa aku mendengar tolakannya ini.

Mungkin dia khawatir aku memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput darahnya pikirku, sehingga aku cuma diam saja dan kembali menikmati permainannya atas kemaluanku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.Kali ini aku bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih asyik “bermain” di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kemaluanku dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah oleh peluh keringat. Suster Wulan pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kemaluanku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Suster Wulan sunggu hebat pikirku, dia mengulum kemaluanku, namun dia juga sambil memainkan kemaluannya sendiri.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.Dia merintih,

“Ah.. ahh.. ahh.. Suster mau keluar Rif, Suster mau keluar”, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya.”Sini suster, aku mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat kemaluan perempuan yang sedang orgasme dengan bernafsu.Suster Wulan pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya kemaluannya ke arah mulutku.

”Nih.. cepet hisap Rif, hisap..”, desahnya seolah memelas.Langsung kuhisap kemaluannya dengan kuat, tanganku terus mengocok kemaluanku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini. Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan kemaluannya. Kepalaku dibenamkannya ke kemaluannya sampai hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya.

“Ahh.. ahh..”, desah Suster Wulan disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah aku dibuatnya saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu.Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian akupun orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas pangkuanku, cairan kemaluannya membasahi kemaluanku yang sudah lemas. Kami sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.Suster Wulan, adalah perempuan pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu aku sempat menjalin hubungan gelap dengan Suster Wulan selama hampir 2 tahun, selama SMA aku dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya keperaRifannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.

Kini aku sudah kuliah di luar kota, sementara Suster Wulan masih kerja di Rumah sakit itu. Aku jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering merasa “horny” menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama suster. Aku bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Suster Wulan. Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Suster Wulan, benar-benar fantastis menurutku.

Kisah Sex, kisah sex terbaru, kisah sex 2016, kisah sex terbaik, kisah sex terbaru terbaik, kisah sex terbaik 2016, kisah sex nyata, kisah sex nyata terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.