Vimax
Breaking News

Kisah Dewasa, Nikmat Di Hotel

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Kisah Dewasa, Kisah Dewasa Terbaik, Kisah Dewasa Nyata, Kisah Dewasa Terbaru,

Kisah DewasaKisah Dewasa, Kisah Dewasa Terbaik, Kisah Dewasa Nyata, Kisah Dewasa TerbaruKisah Dewasa Terbaik

“hai abang!” terdengar satu suara yang sangat kukenali menyapaku dari belakang.

Saatku berpaling ku lihat Naftali sedang berjalan ke arahku. Naftali menghulur tangannya lalu kusambut dan bersalaman terus dicium tanganku. Memang kebiasaan kami bersalam Naftali akan mencium tanganku tanda hormatnya padaku yang menjadi abang angkatnya sejak setahun yang lalu.

“haa…pikirku tak datang…” kataku seraya menghulurkan kain pario(kain batik yang sering dipakai untuk bersantai di pantai) berwarna hitam kepadanya.

“eh…kena pakai ni?” Tanya Naftali.

“ya, temanya pun ‘beach nite’ kan?” jawabku.

Malam ini adalah malam tahun baru 2016. setiap tahun hotelku mengadakan acara yang sedikit meriah untuk menyambut tahun baru. Aku sebagai bar tender di pub dalam hotel ini sadari pagi sudah sibuk membuat persiapan. Naftali dan beberapa waitress di restoran ku minta datang pada pukul 9 malam sebagai back up karena aku tahu malamnya pasti sibuk dan kaptenku Martina pasti membutuhkan bantuan.

“oklah..” jawab Naftali setelah ku tegaskan bahwa waitress mesti mengenakan kain pario pada malam itu. Naftali kemudiannya keluar membawa kain pario tersebut dan kembali tak berapa lama.

“bang, tolong simpankan Celana jeans Naftali ni” Naftali menghulurkan jeans biru yang dikenakan tadi.

“Naftali tak bawa Celana tight, pakai CELANA DALAM aja”

Sambil berdiri di sebelahku Naftali menunujukkan belahan kain parionya yang hanya diikat di bahagian pinggul. Ikatannya berada di sebelah kiri pinggulnya dan jika ia melangkah maka terlihatlah peha mulus miliknya hingga ke pangkalnya. Aku dengan bersahaja menyelak sedikit belahan parionya hingga terlihat CELANA DALAM Naftali yang berwarna merah. Naftali hanya membiarkan kelakuanku membuatku lebih berani mengelus lembut pantatnya.

Aku memandang wajah Naftali sambil tersenyum. Naftali membalas senyumanku dengan raut wajah yang tidak ku fahami.

“it”s ok, dalam pub ni gelap. Orang tak nampak.” Kataku setelah ku tarik kembali tanganku dari dalam parionya.

Naftali hanya tersenyum kemudian meninggalkanku di dalam bar menuju ke ruangan tangah pub di mana dia akan ditugaskan. Aku memandang Naftali dari belakang. Goyangan pinggulnya sangat menggoda. Karena itulah aku sering meraba pantatnya. Tetapi hanya sebatas itu. Aku tidak berani berlebih-lebih. Naftali juga tidak pernah memarahi perbuatanku meraba pantatnya. Seringkali juga ku ramas-ramas pantatnya karena tidak tahan. Naftali hanya tertawa melayan gelagatku.

Naftali memang berani dari segi pemakaian. Celana jeans ketat dan t-shirt ketat belahan dada rendah memang selalu dikenakannya. Berkulit putih gebu, buah dada yang agak besar bagiku, berwajah manis keturunan bugis dan pantatnya yang sering membuat kemaluanku mengeras. Naftali memang cantik. Aku bangga mempunyai adik angkat secantik Naftali. Seringkali juga Naftali menceritakan padaku beberapa orang manager hotel tempat kami bekerja menggodanya.

Pernah satu hari Zairee yang terkenal dengan sikap kurang ajar itu meraba pantatnya, kemudian Naftali memaki hamun kepada orang tua tak sadar diri itu yang membuatnya tersentak dan malu sewaktu lunch break di café hotel. Tapi aneh, Naftali tidak pernah memarahiku jika pantatnya kuraba dan ku ramas sesuka hati.

Jam 11malam pub mulai penuh dengan pengujung. Aku jadi sibuk menyediakan minuman yang dipesan. Berpuluh gelas cocktail dan 2 barrel beer membuatku sedikit berpeluh. Dan ketika jam menunjukkan 12 tengah malam, suasana di dalam pub semakin bising dan riuh. Ketika itulah Naftali menghampiriku.

“happy new year!” katanya. Yang membuatku terkejut ialah Naftali mencium pipiku yang tak pernah dilakukan sebelum ini. Apalagi di hadapan khalayak ramai.

“happy new year” balasku.

“kenapa cium di pipi? Kalau di bibir kan lebih syok” sambungku sekadar niat mengusik. Tanpaku duga Naftali menarik tanganku dan kami keluar ikut pintu belakang pub. Sampai di belakang Naftali hanya diam menatapku penuh erti. Aku mengerti kemahuannya cuma dia malu. Lalu dengan pantas ku raih wajahnya mendekati wajahku. Bibir kami bertemu saling berkucupan dengan ganas. Tak ku sangka Naftali sangat handal bertarung lidah. Lidahku terasa disedut-sedut ke dalam mulutnya yang mungil. Aku tidak mahu kalah dan ku balas sedutan lidahnya.

Setelah lima minit aksi bercium kami lakukan, kami sama-sama berhenti dan saling menatap wajah masing-masing. Kami seperti dapat merasakan gejolak yang membara di dalam diri. Kemudian karena belum puas ku rangkul pinggangnya dari hadapan menarik tubuhnya rapat ke tubuhku dan melumat bibirnya kembali. Naftali membalasnya dengan rakus sambil nafasnya kedengaran bertambah berat. Kali ini tanganku tidak tinggal diam. Ku ramas kedua-dua belah pantatnya. Kemudian ku singkap parionya ke atas lantas kembali meraba pantatnya yang bulat dan besar yang masih ditutup CELANA DALAM. Aku pindahkan ciuman dan jilatanku kearah lehernya.

“ohh…mmm…abg…hhh” desahan lembut keluar dari mulut Naftali.

Aku semakin berani memasukkan tanganku ke dalam Celana dalamnya dan meramas pantatnya dari dalam CELANA DALAM. Ku julurkan jari tengah kearah belahan pantatnya. Kumainkan jariku sebentar di lubang anusnya sebelum menuju ke kemaluan Naftali. Tangan Naftali juga tidak tinggal diam. Sebelah tangannya memeluk tubuhku, manakala yang sebelahnya menggosok kemaluanku yang sudah mengeras dari luar celana. Sungguh nikmat kurasakan tangan lembutnya mengelus kemaluanku.

Aku sudah tidak memikirkan bahwa ketika itu kami masih lagi dalam waktu bekerja. Jariku sadari tadi sudah memasuki liang kemaluan Naftali yang basah akibat kenikmatan yang kuberikan. Celana dalamnya sudah kuturunkan sebatas pehanya. Setelah puas menyerang kemaluannya, ku pindahkan kedua-dua tanganku menuju ke arah dua bukit nikmat di dadanya. Ku singkapkan t-shirt putihnya ke atas sehingga menampakkan buah dadanya yang dibaluti bra half cup berwarna hitam. Tanganku lantas menuju belakang tubuhnya mencari kaitan branya, dan dengan sekali sentap terlepaslah kaitan branya. Tanpa buang waktu tanganku dengan agak keras meramas buah dada yang menjadi pujaanku selama ini. Sambil bibirnya kembali kulumat dengan bibirku, ku pilin-pilin kedua-dua putingnya yang mengeras.

“aahh…abg…mmmhhh…ohhh…” desah Naftali diselangi dengan cumbuannya yang sekarang sudah berpindah ke leherku.

Kadang disedut dan digigitnya leherku yang pasti meninggalkan kesan merah. Aku tidak mempedulikan itu semua. Apa yang ada di benakku ialah untuk memenuhi tuntutan berahiku saat ini dengan seorang gadis cantik yang sedang berada dalam taklukanku. Serangan bibir dan lidahku kuarahkan kearah dadanya yang sangat indah itu. Kujilat, kusedut, dan ku gigit semahunya kedua-dua puting merah kecoklatan itu bergilir-gilir. Serangan-serangan nikmat yang ku lancarkan membuat Naftali menjerit kecil dan menekan kepalaku ke arah dadanya.

“abg…sakit…ohh nikmatnya…aawww…” tidak karuan lagi desahan dan rintihan Naftali yang membuatku lebih teransang.

Tiba-tiba kurasakan kemaluanku sudah tidak berada di dalam sarangnya. Entah sejak bila Naftali membuka celanaku mungkin karena aku keasyikan menikmati tubuh gebu milik Naftali sehingga tidak sadar celana panjang dan celana boxerku sudah separas lutut. Naftali dengan lembut memegang dan mengocok kemaluanku. Berdesir darahku menahan nikmat kocokan tangan halus Naftali yang semakin rancak menjalankan tugasnya. Kemaluanku berukuran biasa, tidak seperti yang sering kubaca di dalam cerita-cerita lain di mana kemaluannya seperti ukuran orang America atau Eropah. Terang-terangan membohong.

“Naftali, hisap sayang…” bisikku ke telinganya. Aku ingin sekali merasakan sentuhan bibirnya yang sangat seksi itu dan menguji setahap mana servis oralnya.

Naftali mencangkung di hadapanku sambil tangannya terus memegang dan mengocok lembut kemaluanku. Mulai dari jilatan pada pangkal kemaluanku menyusuri batangnya dan terus ke bahagian kepala kemaluanku. Diulangnya beberapa kali sebelum mula mengulum kemaluanku. Perlahan namun nikmatnya sukar untuk kugambarkan dalam cerita ini.

Dari atas ku lihat pandangan yang cukup erotis dimana seorang gadis berwajah cantik sedang memberi oral seks. Setelah kurasakan puas dengan kuluman mulut Naftali, ku tarik tubuhnya berdiri dan bibir kami bergelut kembali tetapi tidak lama karena aku sudah tidak sabar untuk merasai kehangatan kemaluan Naftali. Aku menyuruhkan berpaling membelakangiku dan sedikit membongkok. Tangannya menahan pada dinding. Segera kugeselkan kemaluanku ke permukaan kemaluannya yang terasa banjir. Perlahan-lahan ku dorong pinggulku, hanya kepala kemaluanku yang masuk karena kemaluan Naftali terasa sangat sempit.

“aduh…tunggu bang…tahan dulu…eerghh” Naftali menahan sakit memintaku berhenti seketika. Aku turutkan kemahuannya karena aku memang tidak suka memaksa.

“tahan ya sayang..” kali ini aku tekan sedikit keras dan hasilnya setengah batang kemaluanku berjaya memasuki liang kemaluannya. Kudiamkan sebentar untuk membolehkan dinding kemaluannya menerima kehadiran kemaluanku. Setelah nafasnya kembali tersusun Naftali meminta aku memasukkan seluruh batang kemaluanku ke liang nikmat miliknya.

“lagi bang…masuk lagi…adik boleh tahan…ohh…” kata-katanya tersekat karena aku menyentakkan pinggulku sehingga rapat ke pantatnya.

“aahh..Naftali…nikmatnyaa…” erangku tak mampu lagi menahan sensasi yang kurasakan.

Kemaluanku tersasa dikepit erat oleh dinding kemaluan Naftali. Naftali memang bukan perawan lagi tetapi tidak pernah melakukan hubungan seks setelah perawannya direnggut mantan kekasihnya tidak lama dahulu. Perlahan-lahan aku menggerakkan pinggulku dengan gerakan dorong-tarik. Sungguh mengasyikkan menikmati geseran lubang kemaluan Naftali yang sempit. Makin lama makin cepat gerakan pinggulku sehingga kedengaran bunyi kecipak tubuhku dengan pantat Naftali. Aku mengamati saat-saat bertabrakan tubuhku dengan pantatnya, sesungguhnya aku amat suka melihat pantat besar milik Naftali bergetar menerima hentakan-hentakan keras dariku

“aahhh…aahh…abang…ohh…mmmppphhh…nikmat bang…” Naftali kembali meracau setelah kesakitan kemaluannya bertukar menjadi nikmat yang sangat membuatnya teransang hebat.

“nikmat sayang?” tanyaku sambil tanganku meraih ke hadapan tubuhnya lalu meramas kedua-dua buah dadanya.

“nikmat bang…oohh lagi bang…laju lagiii…aaarrggghhh…” erangan keras keluar dari mulut Naftali mengiringi puncak kenikmatan yang melanda dirinya.

Kakinya dirapatkan, tubuhnya bergetar hebat dan hampir jatuh. Mujur aku sempat menahan tubuhnya daripada jatuh. Ku biarkan Naftali menikmati puncak kenikmatannya tanpa menarik keluar kemaluanku.

“abang…Naftali puas bang…kalau Naftali tahu yang abang pandai membuat Naftali macam ini, dari dulu lagi Naftali minta…” ujarnya setelah dia dapat mengawal dirinya.

“abang belum sampai ni sayang..” kataku tertahan tak sanggup lagi aku menunggu lama lalu ku tarik kemaluanku keluar dan memalingkan tubuh Naftali menghadap ke arah ku. Aku lihat terdapat sedikit linangan airmata di wajahnya.

Lalu aku angkat sebelah kakinya melingkar di pinggulku dan mengarahkan kemaluanku menuju kemaluannya. Kedua belah tangannya memegang bahuku menahan tubuhnya. Lalu kuteruskan permainan yang belum sudah dengan gerakan yang cepat. Kembali Naftali merintih kuat. Bibirku mencari bibirnya yang mungil lalu sambil ku pompa kemaluanku kami berkucupan. Setelah lebih kurang sepuluh minit kurasa spermaku ingin keluar lalu kupercepatkan hentakanku dan hentakan terakhir yang keras sedalam-dalamnya ke dalam liang kemaluan Naftali. Rupanya Naftali juga menikmati puncaknya ketika itu.

“aarrgghh abang sampai…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Begitu banyaknya spermaku kucurahkan ke dalam kemaluan Naftali sehingga sebahagiannya meleleh keluar membasahi pehanya.

“maaf, abang keluar di dalam” risau juga karena takut Naftali hamil.

“ tak apa bang, Naftali baru dua hari lepas tamat period” jelas Naftali yang membuatku lega.

Kami kemudian merapikan pakaian, lalu aku masuk kembali ke dalam pub seperti tidak berlaku apa-apa. Manakala Naftali menuju ke tandas untuk membersihkan kemaluan dan pehanya. Sesampai di dalam bar aku meneguk segelas bir karena kehausan. Kemudian, Lia cashier di pub itu menghampiriku lalu berdiri rapat di sebelahku. Tangannya memeluk pinggangku. Memang Lia manja denganku dan perlakuan seperti ini sudah biasa bagiku namun apa yang diucapkannya membuat jantungku seperti berhenti.

“abang berani betul ya main di belakang sana…”

“Lia nampak?” aku lihat Lia melihat ke arahku dengan mata yang tajam.

“tadi sewaktu Lia hendak ke tandas, Lia buka pintu dan nampak abang dengan Naftali…” Lia tidak meneruskan kata-katanya. Tangannya lantas menggenggam kemaluanku dari luar celanaku. Terasa ngilu karena baru habis bertempur.

“lain kali giliran Lia pula yaa…” katanya sambil menghadiahkan satu kucupan lembut di bibirku.

“mm…ya..ya..” kataku gugup karena tidak menyangkakan hal tersebut.

Lia kemudian melepaskan genggaman tangannya pada kemaluanku dan menuju ke kaunter cashier. Nanti pula akan kuceritakan kisahku dengan Lia yang bagiku sangat mengasyikkan.

Setelah kejadian itu aku sering melakukan hubungan seks dengan Naftali di rumah sewaku. Memang indah setiap kali melakukannya dengan Naftali yang sehingga kini tiada seorang pun yang mengetahuinya. Naftali kini sudah berumahtangga dan mempunyai seorang anak lelaki. Setelah dia menikah kami tidak lagi meneruskan perbuatan kami karena kukatakan pada Naftali yang dia harus setia dan menjaga hubungan suami isteri dengan baik dan jujur.

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.