Vimax Cerita Dewasa Cerita Sex Terbaru
Breaking News

Kisah Bokep, 2 Wanita

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Kisah Bokep, Kisah Bokep Terbaik, Kisah Bokep Nyata, Kisah Bokep Terbaru, Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung, dan aku paling senang nongkrong di warung Indomie depan kampus. Suatu hari saat aku sedang nongkrong, temanku Putra datang ke warung itu, so aku langsung menyapanya dan ternyata Putra tidak seorang diri, ada beberapa teman wanitanya di luar sedang menunggunya.

Kisah BokepKisah Bokep, Kisah Bokep Terbaik, Kisah Bokep Nyata, Kisah Bokep TerbaruKisah Bokep Terbaik

Yang kutahu teman wanita tersebut bernama Amanda (pacar Putra), dan salah satu diantaranya sangat kukenal, namanya Shintya, soalnya dia (Shintya red) sering main ke kost-ku (Shintya sering menemani Amanda kalau main ke tempat Putra). Putra kebetulan satu kost denganku. Putra ke warung Indomie itu hanya mau mencariku karena kunci kamarnya di titipkan kepadaku jadi kuberikan kuncinya, nggak tahu kenapa Putra balik ke kost cuma berduaan dengan Amanda pacarnya, sedangkan Shintya menunggu di warung itu bersamaku.

Saat kusadari bahwa Shintya sedang sendirian, maka kupMirantil dia masuk ke dalam warung, maklum sekarang musim hujan dan angin malam rasanya dingin sekali. Anehnya Shintya menurut saja saat kuajak masuk ke dalam, sepertinya dia lagi kesel di tinggal oleh Amanda dan Putra. Karena aku sedang makan Indomie, jadi sekedar basa-basi kutawari dia, dan dia tidak menolak tawaranku, akhirnya kita makan Indomie semangkok berdua. Untung saja aku sengaja memesan Indomie yang ukuran dobel jadi tidak terlalu nyesel kutawari dia soalnya waktu itu aku dalam keadaan lapar sekali dan lagi pingin makan Indomie.

Aku tidak tahu sebab musababnya, kulihat Shintya sangat kesel nungguin Putra dan Amanda. Didorong oleh rasa penasaran, aku bertanya pada Shintya,

“Kok elo nggak di ajak sih ama Amanda dan Putra, kan tadi perasaan elo bertiga dari kampus, tapi sekarang elo kok ditinggaShin? emangnya kenapa Shin?”

Shintya menjawabnya sambil menggerutu,

“Ya gitulah kalo udah nggak ketemu seminggu, biasalah si Putra pasti minta jatah..” Aku pun ketawa ngakak,

“Lah emang harus gitu Shin, kalo si Putra balik ke jakarta?”

“Iyalah, kan namanya juga cinta”, bisik Shintya menimpali.

Kupandang wajah Shintya yang duduk di depanku sambil ngobrol, dan bagian yang sering kuperhatikan dari wajahnya ialah bibirnya yang sensual dan super tipis. Tiba-tiba my little jacky langsung bangun dan berdiri seolah-olah ingin menikmati kuluman bibir Shintya yang sensual dan super tipis kemerahan, cuma kupikir itu hanya khayalanku saja. Akhirnya aku berusaha menenangkan Shintya dengan berbagai macam cara, tahulah aku pekerjaan yang paShing membosankan ialah menunggu.

Sesaat kemudian, Shintya sudah bisa tenang dan dia sudah berada di dadaku tetapi tanpa kusengaja ketika aku menghembuskan nafasku ternyata kena ke telinga Shintya, tiba-tiba Shintya langsung tegang dan seakan-akan menahan beban yang berat, sambil menegangkan kaki dan menarik kepalaku supaya bisa dicium, cuma karena di tempat ramai, aku mengelak padahal aku sudah kepingin, karena penasaran ingin menciumnya dan my little jacky juga sudah berdiri, akhirnya otak mesumku keluar semua dari kepala. Shintya kuajak ke kost dengan alasan nyusul ke tempat Putra dan Shintya menanggapi ajakanku dengan antusias.

Ketika sudah sampai di kost-ku, aku bilang ke Shintya, gimana untuk sementara Shintya menunggu di kamarku dulu sembari aku melihat keadaan kamar Putra, apakah aman untuk diganggu atau tidak. Kuberikan kunci kamarku pada Shintya dan Shintya hanya menunggu di kamarku saja.

Pada saat aku mau melihat kamar Putra, kembali otak mesumku bekerja, dan kesempatan itu kugunakan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dan tidak ketinggalan si jacky juga kubersihkan hingga mengkilat. Akhirnya aku balik lagi ke kamar dengan alasan sepertinya Putra dan Amanda tidak bisa diganggu, jadi gimana kalau kita tunggu saja di kamar nggak usah keluar, kita nonton film atau main play station? Shintya hanya bisa mengangguk.

Karena aku tahu Shintya gampang sekali dirangsang, aku berusaha mendekatinya lagi dan menghembuskan nafasku ke telinganya, dan memang benar Shintya mengerang seperti orang yang sedang mengangkat barbel 100 kg, disitu aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, bibirnya yang super tipis dan sensual merona sudah menunggu pagutan bibirku, kulumat habis bibirnya, tanganku juga bergerilya seperti jenderal Sudirman bergerilya di hutan-hutan. Pelan namun pasti kubuka tali BH-ya dan kancing bajunya, Shintya masih mengerang berkelonjoton saat lehernya kuhisap dan sekarang aku sudah mulai mengisap payudaranya yang indah menawan.

Nafsuku sudah tidak dapat kukendalikan lagi, akhirnya kubuka celanaku dan celana dalamku, dan kuarahkan si jacky ke dalam mulut Shintya. Gila.. ternyata Shintya seorang yang liar dalam bercinta, tanpa menungguku dia sudah langsung mengulum batang kemaluanku dengan ganasnya. Sekarang gantian aku yang di buat berkelojotan olehnya.

“Oohh.. aagghh.. Shinn.. lagii.. enaakk banget Shinn.. teruus..” erangku saat merasakan nikmatnya hisapan Shintya di batang kemaluanku. Betapa nikmatnya dikala batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya dan ditarik keluar lagi. Hangat lidah Shintya sampai ke ubun-ubunku. Kucoba mengimbangi permainannya. Aku berganti posisi menjadi 69, aku di bawah dia di atas.

Gila.. bulu kemaluannya yang hitam dan halus pertanda bahwa bulu kemaluannya itu tumbuh secara alami tanpa di gunting ataupun dicukur. Aku bisa mencium bau yang semerbak khas Shintya dari liang kewanitaannya yang sudah basah, dan yang ada tambah kujilati bibir kemaluannya yang berwarna merah jambu tersebut dengan rakusnya. Terlihat Shintya nampak semakin berkelonjotan, dan dia berkata dengan setengah tertahan,

“Ndre.. masukin dong.. udah nggak tahan nih.. cepet atuh Ndre..” Tanpa menunggu lagi aku langsung berganti posisi dengan menggunakan doggy style.

“Pletak.. pletok..” pantat Shintya beradu dengan badanku. Shintya semakin teriak tak karuan dan akhirnya Shintya berkata,

“Ndree.. aku udah mau keluar nih, gimana dong?” Mendengar seperti itu aku cuma bilang, “Sabar Shinn.. kita keluarin sama-sama, aku juga udah mau keluar..” Tenagaku kukeluarkan semuanya, iramaku tambah cepat, dan akhirnya aku keluar.

“Ayo Shin keluarin.. aku sudah keluar nihh..” Spontan Shintya kejang dan tangannya menahan tanganku sambil berteriak manja, “Aaakkhh.. Ndre aku juga keluarr.. akkhh.. ogghh.. argghh.. nikmatnya..” Akhirnya aku dan Shintya sama-sama terkulai lemas di tempat tidurku tapi tanpa sepengetahuanku kepala Shintya sudah ada di depan kejantananku, ingin menjilat lagi kemaluanku.

“Auhh.. aagghh..” nikmatnya Shintya.

Setelah batang kemaluanku dijilat bersih, Shintya berkata kepadaku, “Andre makasih ya atas kehangatannya.. kan malam ini dinging banget, belum lagi angin Setia Budi sering buat orang sakit..”

Akhirnya kupeluk Shintya dengan erat, dan kami tidur bersama tanpa mau tahu apakah Putra dan Amanda akan mencari Shintya.

di 10.51 Tidak ada komentar:

Jumat, 11 Juni 2010

Si Manis Miranti

Seperti biasa, sepulang dari kantor aku selalu memanfaatkan waktu untuk beristirahat di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari kantorku. Sedang asyik menikmati juice sirsak kesukaanku, tiba-tiba salah satu dari dua HP milikku berdering. Aku lihat siapa yang meneleponku, ternyata nomornya tak aku kenal sama sekali. Dengan bermalas-malasan, aku angkat juga telepon itu.

“Halo..,” aku coba bicara sesopan mungkin.

“Ya, hallo. Ini Andrew ya,” ujar suara lembut dari seberang sana.

“Ini siapa ya, maaf aku tidak mengenal suara anda,” jawabku dengan sedikit heran. Soalnya, sama sekali aku tidak mengenal suara tersebut, termasuk nomor teleponnya.

“Ini Miranti, kita memang belum pernah kenal kok,” jawabnya semakin membuat aku heran.

“Miranti..? Trus, dari mana kamu dapat nomor HP aku,” aku coba bertanya.

“Nanti kamu akan tahu juga kok. Kita bisa ketemu nggak?” ujarnya lagi.

Aku sedikit tersentak kaget. Soalnya, selain aku tidak mengenalnya sama sekali, aku juga tidak tahu apa maunya cewek itu ingin berjumpa denganku. Namun dengan masih penasaran, akhirnya aku menyanggupi permintaannya untuk bertemu denganku di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kotaku.

Setelah menghabiskan sisa juice sirsak di hadapanku, aku langsung menghidupkan mesin mobil dan melaju arah utara, menuju pusat perbelanjaan tempat aku janjian bertemu dengannya.

Sesampai di tempat kami janjian untuk bertemu, aku coba untuk menghubungi nomor HP-nya yang masih tersimpan di HP-ku. Seketika terdengar suara dering HP milik seorang cewek cantik yang berdiri tak jauh dari tempatku berada. Seketika aku matikan kontak telepon dengannya, dan langsung menuju arah cewek itu.

“Miranti ya, aku Andrew..,” aku mengulurkan tangan memperkenalkan diri.

“Miranti,” kurasakan tangannya yang lembut bersentuhan dengan tanganku.

Setelah berkenalan, aku ajak dia untuk masuk ke salah satu cafe yang ada di pusat perbelanjaan itu, sekaligus untuk mengobrol. Dari percakapannya dengannya, ia menyatakan mendapatkan nomor HP-ku dari seseorang yang katanya kenal denganku. Tapi ketika memberikan nama orang yang memberikan nomor HP-ku itu padanya, ternyata aku juga tidak mengenalnya sama sekali.

“Persetan dengan orang yang memberikan nomor HP-ku, yang penting bisa berkenalan dengan cewek cantik,” ujarku dalam hati.

Dari pembicaraanku dengannya, ternyata kuketahui ia kuliah di fakultas hukum di Universitas “BH” yang cukup terkenal di kotaku, dan kost di daerah “T” yang dekat dengan bandara. Dari ceritanya, aku juga bisa menebak bahwa ia saat ini sedang kebingungan setelah ditinggal pergi sang pacar.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi. Justru kalau kamu memikirkannya terus, akan menambah beban pikiranmu,” ujarku sambil coba menenangkan perasaannya dengan membelai rambutnya yang direbonding.

Dan tanpa kusadari, ternyata ia merebahkan kepalanya ke dadaku. Aku terkejut bukan main, karena tak menyangka ia akan begitu. Lalu perlahan, aku tawarkan padanya untuk pergi dari tempat itu mencari tempat yang bebas untuk bercerita. Ia setuju, dan kamipun meluncur menuju pinggir pantai.

Dalam suasana yang sejuk dan senja mulai merambat turun itu, aku memberanikan diri untuk merengkuh pundaknya. Ia terlihat pasrah, dan aku jadi makin berani untuk berbuat lebih lagi. Ku coba kembali membelai rambutnya dan mengecup lembut keningnya, terus turun ke bibirnya yang ranum.

“Ah..,” dia mendesah.

Aku jadi semakin berani. Lidahku mulai keluar masuk ke rongga mulutnya, dan perbuatanku itu ternyata mendapat balasan darinya. Aku jadi semakin berani, dan tanganku coba meremas daging kenyal di dadanya, sementara ia juga terlihat mencoba menrambat ke sela-sela sudut pahaku.

Miranti terlihat mulai tak sabaran untuk bisa mengelus-elus kemaluanku yang sudah menegang sejak tadi. Secara perlahan-lahan, ia mencoba untuk bisa membuka resluiting celana ku, dan sesaat ia terkejut merasakan betapa besarnya punyaku.

“Oh.., besar sekali,” katanya, dan aku hanya tersenyum menanggapinya sambil tanganku tetap bermain di puting susunya.

Ciuman bibirku mulai turun ke leher, dan terus turun ke bawah serta berhenti sejenak di puncak bukit kembarnya. Disini, aku permainkan puting susunya dengan lidahku, sehingga membuatnya tak kuasa menahan gejolak hawa nafsunya. Tampaknya, ia sudah tak sabaran lagi untuk melanjutkan aktivitasnya ke arah yang lebih intim lagi, karena ia sudah mulai berusaha untuk melorotkan celana dalamku.

“Jangan disini, Miranti. Kita cari tempat istirahat yang aman yuk,” ajakku, yang ternyata dibalas dengan anggukan.

Tanpa pikir panjang, segera aku hidupkan mesin mobilku, dan menuju sebuah hotel “P” yang terletak di jalan Dobi bersebelahan dengan Bank BNI. Begitu masuk kamar, aku segera memeluknya dan mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Sementara ia kulihat sibuk membuka kancing-kancing baju kemeja yang kupakai dan kemudian melorotkan celana panjangku.

Akupun tak mau kalah. Dengan sekali tarik, aku berhasil melepaskan baju kaos yang dipakainya dan kemudian menarik resluiting celana jeans yang dipakainya, sehingga tinggallah ia hanya mengenakan BH hitam dan CD yang juga berwarna hitam.

Tanpa membuang waktu lagi, aku dorong tubuhnya ke ranjang yang berukuran besar itu setelah berhasil membuka kait BH dengan ukuran 34B di bagian belakang tubuhnya, sehingga terlihatlah dua buah gunung putih yang menyembul dengan puncaknya yang berwarna pink. Tanpa menunggu lagi, segera aku hisap puting susunya yang berwarna pink itu dan sekali-sekali memainkannya dengan ujung lidahku.

“Ah, Andrew..!” serunya.

“Miranti, mimikmu begitu indah dan kenyal. Aku sangat menyukainya,” ujarku.

“Terus, Andrew. Oh, geli..,” desahnya.

Mendengar desahannya itu, aku jadi semakin bernafsu. Jilatanku terus merambat turun ke pusarnya, dan terus ke gundukan di sela kedua pahanya. Dengan lihainya, aku permainkan clitorisnya yang sudah mulai menyembul dengan ujung lidahku, dan aku terus memasukkan ujung lidahku hingga ke dalam. Tiba-tiba, ia mengangat pinggulnya dan berteriak,

“Ah.., terus.. ee.. naak..!” raraunya.

Sementara aku terus mempermainkan rongga kenikmatannya, Miranti juga terlihat semakin kencang menggoyang-goyang pinggulnya. Dan tiba-tiba ia berteriak dengan kuat.

“Ah, aku.. ke.. luar..,” dan terlihat tubuhnya mengejang dengan mata terpejam. Sementara di lubang kenikmatannya terlihat cukup banyak cairan yang keluar. Aku merasakan rasa asin bercampur manis dengan aroma yang harum dan terasa panas.

Dengan rakusnya, aku jilat seluruh cairan yang keluar dari rongga kewanitaannya itu, dan tubuhku terus merambat naik ke atas. Disini, aku permainkan kembali puting susunya yang terlihat begitu indah. Rasanya, tak ingin aku melepaskan bibirku dari sana.

Tak lama kemudian, aku lihat Miranti kembali menggeliat dan mendesah-desah. Ia tampak kembali terangsang dan minta aku segera memasukkan kemaluanku yang berukuran 16 Cm dengan diameter 3 cm itu ke lubang kemaluannya.

“Ayo Andrew, Miranti sudah nggak tahan lagi,” erangnya.

Tanpa menunggu lama lagi, segera aku arahkan kemaluanku ke lubang kemaluannya. Secara perlahan-lahan tapi pasti, ujung kemaluanku mulai menyeruak masuk ke lubang kemaluannya yang berbulu tipis itu. Aku merasakan punyaku cukup sulit menembus lubangnya yang ternyata masih sempit itu. Namun aku terus memaksanya untuk bisa masuk.

“Ah, pelan-pelan ya..,” erangnya.

Kembali aku tekan kepala kemaluanku untuk masuk ke lubang kemaluannya secara perlahan-lahan, sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh kemaluanku dan merasakan ujungnya menyentuh dasar kemaluannya.

“Oh, nikmat sekali,” katanya sambil mendesah.

Aku semakin bernafsu untuk menggenjot terus lubang kenikmatannya mendengar desahannya. Semakin dia menceracau tak karuan, semakin kencang aku mengeluarkan dan memasukkan kemaluanku ke lubang kenikmatannya.

“Oh Andrew, aku.. mau.. ke.. luar lagi,” desahnya.

“Tahan dulu ya sayang, aku juga.. su.. dah.. mau sampai.. Keluarkan dimana..?” tanyaku.

“Di lu..” Belum sempat ia menjawab, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, sehingga akibatnya.

“Crot.. crot.. crot..!” beberapa kali tembakan spermaku yang cukup banyak menghantam dinding kemaluannya, sementara pada saat bersamaan aku juga merasakan cairan hangat menyelimuti batang kemaluanku.

“Maaf Miranti, aku tak kuasa lagi menahannya dan spermaku tertancap di lubang kemaluanmu,” kataku menyesali.

“Tak apa-apa, mudah-mudahan saja sekarang aku tak subur, karena jadwal datang bulanku dua hari lagi,” katanya sambil memelukku sambil mengelus dadaku.

“Terima kasih Miranti, kamu telah memberikan kenikmatan yang tiada tara padaku hari ini,” ujarku sambil mengecup bibirnya.

“Aku juga, rasanya beban pikiranku hari ini menjadi hilang dan berubah jadi rasa nikmat. Yuk, kita mandi berdua,” ajaknya sambil menarik tanganku menuju kamar mandi.

Dan di kamar mandi itu, batang kemaluanku kembali mengeras ketika Miranti sedang mengelus-elusnya. Tanpa berbasa-basi lagi, aku menarik pinggang Miranti dan menyuruhnya menungging membelakangiku. Perlahan-lahan, aku arahkan kepala kemaluanku di sela-sela pantatnya yang bahenol. Sesaat, aku merasakan Miranti tersentak. Namun itu hanya sebentar, karena tiba-tiba Miranti mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya, ketika dirasakannya kepala kemaluanku sudah amblas semuanya.

“Ah, Andrew. Aku sampai lagi,” desah Miranti tertahan.

“Aku ju.. ga..,” kataku sambil menembakkan kembali spermaku ke dalam rongga kewanitaannya.

“Kapan kita bisa mengulangi seperti lagi, Andrew,” ujar Miranti sambil mengecup lembut bibirku.

“Terserah kamu aja, telpon saja aku,” jawabku pasti.

Setelah jam menunjukkan pukul 20.45 WIB, kami lalu check out dari hotel itu dan mengantar Miranti pulang. Di perjalanan menjelang tempat kostnya, Miranti terlihat seperti tidak ingin melepaskan tangannya dari kemaluanku. Sebelum sampai di tempat kostnya, aku belikan ia voucher simpati agar ia bisa menghubungiku kapanpun ia menginginkan permainan seperti tadi kembali, dan kemudian aku kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluargaku.

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.