Vimax Cerita Dewasa Cerita Sex Terbaru
Breaking News

Cerita Hot Liburan Sex

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks,  Syakieb meloncat dari ranjangnya dengan wajah kaget. Jam di samping ranjang menunjukkan Pukul 07.30, Syakieb khawatir mereka akan ditinggalkan oleh rombongan yang berangkat pukul 09.00 waktu setempat dengan tepat. Bagaimana tidak, sejak kemaren sore mereka bermain gila-gilaan hingga semalam suntuk, mungkin ini sebuah pemanasan yang berlebihan untuk bulan madu mereka yang tertunda. Namun Syakieb terpaksa sedikit lebih lama menyabuni tubuhnya, setiap bagian tubuhnya terasa lengket, entah oleh keringat mungkin juga karena cairan mereka yang menghambur keluar. Syakieb tersenyum sendiri saat teringat aksinya tadi malam, dirinya berhasil meyakinkan Syarief suaminya bahwa sperma yang mengalir keluar dari kemaluannya adalah milik Pak Regar dan disebabkan keadaan yang sangat memaksa. Busa sabun yang menutupi sebagian kulitnya membuat tubuh itu semakin eksotis, baru kali ini dia merasa Riefgga ketika Pak Regar memuji tubuhnya dan mencumbunya dengan sangat bernafsu.

Cerita Ngentotcerita ngentot, cerita ngentot terbaik, cerita ngentot nyataCerita Ngentot Terbaik

Padahal sebelumnya dirinya selalu jijik jika pria itu memandangi nya dengan penuh nafsu. Syakieb berdecak kagum dihadapan cermin kamar mandinya, dibiarkannya shower manyapu busa sabun yang tersisa. Jika suaminya memang mengizinkannya untuk bersenang-senang pada liburan nanti, lalu kenapa dia harus menahan diri untuk mencari kesenangan, begitulah yang ada di otak Syakieb saat ini. Air shower yang hangat membuatnya betah untuk berlama-lama melihat tubuh telanjangnya dialiri air yang menciptakan sungai-sungai kecil, mengalir disela bukit buah dadanya yang membusung dan akhirnya menyelusup keselangkangannya.

Komentar apa yang akan keluar dari bibir teman-teman suaminya itu jika dirinya membiarkan tubuhnya ditelanjangi oleh pandangan mereka. Adakah kekaguman bila dirinya membiarkan buah dadanya tersenggol oleh ulah mereka yang usil?  Adakah celoteh-celoteh nakal yang terlontar bila dirinya membiarkan selangkangannya diintip oleh mata nakal mereka?. Oohhh,,, tampaknya Syakieb sangat ingin menikmati petualang-petualangan yang mendebarkan. Tapi Syakieb kemudian mendesah panjang, tidak mungkin semua itu terjadi, dia adalah seorang istri yang baik-baik dari suami yang baik-baik pula. Biarlah kegilaan yang kemarin menjadi intermezzo dalam kehidupannya yang takkan terulang lagi.

“Dok,dok,dok,,,”

“Sayang, buka dong pintunya, bisa telat nih kita,” teriak Syarief, yang bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah dibukakan pintu oleh Syakieb.

######################

Syarief hanya bisa tersenyum kecut, ketika kedatangannya disambut oleh ocehan Darto dan Putra. Tapi setidaknya pria itu bisa bernafas lega karena bis wisata yang mereka carter belum datang. Syarief menurunkan istrinya beserta tas dan koper dan memarkir mobil di basemen gedung. Setelah meyakinkan tidak ada yang tertinggal dimobil, Syarief bergegas untuk berkumpul dengan teman-temannya. Dari kejauhan Syarief melihat Syakieb sedang asik berbincang dengan Fitria dan Bu Sofia tepat didepan pintu masuk kantor. sementara disamping mereka Rahadi bersama istrinya Anjani yang masih sangat muda sedang bercengkrama dengan Shita, rupanya diam-diam Rahadi mencoba menjalin keakraRief antara Anjani dengan Shita.

Tak jauh dari mereka, Pak Pratama, Putra dan Darto asik mengisap rokok mild mereka, tapi yang membuat Syarief jengah adalah tatapan ketiga cowok itu yang tak pernah lepas dari tubuh para wanita, khususnya Syakieb yang mengenakan celana jeans ketat selutut dipadu kaos lengan panjang yang cukup kebesaran untuk tubuh rampingnya.  Sambil berjalan mendekati Hana, Istri Putra yang duduk terpisah disamping gedung, Syarief mengeluarkan rokoknya. Hana mencoba tersenyum ketika melihat Syarief mendekat namun kemudian kembali asik dengan telpon celuler yang dipegangnya. Syarief mencoba menilai-nilai wanita disampingnya, Putra sering bercerita tentang istrinya yang pemalu dan agak kuper dalam bersosialisasi. Tak heran jika dirinya menyendiri agak jauh dari yang lain. Namun yang membuat Syarief terkesima adalah dandanan Hana yang sedikit nakal dari yang biasa dikenakannya. Rok putih lebar yang sangat pendek dipadu kaos merah menyala tanpa lengan yang ngepres dibadannya.

“Kostum yang bagus untuk liburan,” seru Syarief sambil menyulutkan api ke rokoknya.

Hana langsung mengangkat kepalanya, dengan wajah memerah Hana mencoba mengapitkan kedua lengannya untuk melindungi dadanya yang menjadi pemandangan indah bagi Syarief, tapi buah dada itu justru semakin membusung.

Syarief yang ikut kikuk karena komentarnya sendiri tertangkap basah melototi dada istri temannya itu.

“Kamu semakin terlihat cantik dengan baju itu, dan aku rasa liburan ini akan semakin menarik dengan kehadiranmu,” ucap Syarief berusaha membuat suasana lebih santai.

Wajah wanita berkacamata dengan lesung pipit dikedua pipinya itu semakin memerah, namun apa yang diucapkan Syarief membuatnya sedikit rileks.

“suami ku yang memilihkan baju-baju ini, karena tidak ingin dirinya malu dihadapan teman-teman,” kata Hana jujur.

“Hei, apakah itu gambar mu,” sela Syarief ketika melihat sebuah gambar kecil dengan pose yang menantang di sebuah laman jejaring sosial pada HP yang tengah dipegang Hana.

Hana sontak tertawa dan dengan cepat menyembunyikan HP nya kedalam tas,

“Hahaha,,, kamu ga boleh melihat ini”.

“Lalu siapa yang berhak, ayolah,,, sepertinya Banyak sekali komentar yang kau kumpulkan untuk gambar itu, pasti gambar itu benar-benar menarik minat para lelaki,” seloroh Syarief penasaran.

“Tidak juga, hanya beberapa gambar request dari beberapa teman yang tidak pernah aku kenal,” jawab Hana dengan sedikit ragu menyerahkan HP nya ke telapak tangan Syarief.

Dengan cepat Syarief menyambut, dan dengan cepat pula decak kagum mengalir dari mulutnya seiring jempolnya yang mengekplorasi beberapa gambar menantang lainnya.

“Aku ga percaya, kau dapat berubah menjadi begitu menggairahkan, lihatlah ratusan komentar yang kau dapat, sepertinya kau benar-benar memikat mereka,” ucap Syarief ketika mendapati sebuah gambar yang begitu menantang, tubuh montok dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan handuk.

“Mungkin,,, tapi dalam dunia nyata aku tetap saja menjadi seorang pecundang, dan tidak akan pernah mampu menyaingi istri mu atau bu Fitria yang selalu menjadi pusat perhatian, dan begitu mudah bergaul dengan siapa saja.” lirih wanita berkacamata itu.

“Dan kau dapat melihat sendiri, hanya didunia maya aku berani berekspresi, karena disitu tidak seorang pun yang mengenal jati diriku sebenarnya,”

Ada nada kecewa akan keterbatasan yang dimilikinya sebagai wanita desa yang dipinang oleh perjaka Kota dan harus bergaul dengan istri-istri suaminya yang selalu tampil modis dan percaya diri. Tepat seperti yang diceritakan Putra, Putra sendiri sudah ribuan kali berusaha memRiefgkitkan kepercayaan diri istrinya itu.

“Aku tidak melihat satupun cacat pada diri mu yang dapat membuat mu malu, bahkan bibir mungil dipadu dengan lesung pipit yang manis, dan mata lentik berhias kacamata yang manis itu dapat membuat para lelaki tergila-gila pada mu, yaa,, seperti aku ini,,”

Hana terkekeh, “Hahaha,,, kamu bisa saja, lelaki mana yang melirik wanita yang sudah beranak satu ini, bahkan suami ku pun kini sudah jarang memuji, apalagi sampai memuji tubuh yang sudah mulai berantakan setelah melahirkan,”

“O, ya? Maaf, bolehkah aku meminta mu untuk berdiri sebentar,”

Dengan ragu-ragu Hana mengikuti permintaan pria yang sempat beberapa kali diajak oleh Putra untuk bertamu ke rumah mereka.

“Eemmmhhh,,, bisakah kamu berdiri agak tegak, yaaa,, mungkin kamu dapat sedikit membusungkan dada mu, yaa begitu,,” Syarief terus memberi intruksi, matanya tak melihat adanya gumpalan lemak pada perut yang ramping itu, bahkan bukan hanya buah dadanya saja yang menggairahkan, kakinya yang membunting padi dengan pangkal paha yang sekal membuat gairah Syarief semakin menggelitik. Namun mata nakal Syarief agak kesulitan untuk mengamati pantat yang terbalut rok dengan lipatan-lipatan lebar. Tampaknya Putra berhasil menyulap istrinya untuk liburan ini. Seakan mempersiapkan istrinya untuk disantap. Sebuah perubahan yang sempurna dari seorang gadis desa menjadi seorang wanita yang menggairahkan, hanya saja yang menjadi kendala adalah rasa percaya dirinya yang bermasalah.

“Bila kamu berdiri seperti itu, mungkin tidak akan yang mengira bila kamu sudah memiliki satu anak, dan ku rasa dada mu tidak kalah dengan istri ku, bahkan lebih besar,”

Walau birahinya bergejolak saat menyaksikan dengan bebas bagaimana wanita yang sangat pemalu itu membusungkan buah dadanya yang terbilang besar dan masih kencang, namun Syarief berusaha membuat suaranya setenang mungkin. Entah bagaimana, gelorabirahi.com obrolan yang awalnya kaku itu semakin mencair bahkan lebih terbuka. Hana merasa senang dengan pujian yang dilontarkan Syarief. percaya dirinya menyeruak dengan malu-malu. Matanya berkali-kali memergoki pria disampingnya itu memandangi buah dadanya berlama-lama dengan binar kagum.

“Aku berani bertaruh, aku dapat membuat mu memiliki percaya diri dan menjadi pusat perhatian pada liburan ini, asalkan kamu mengikuti saran yang ku berikan,” ucap Syarief setelah Hana kembali duduk disampingnya.

Jarak mereka yang cukup jauh dari rombongan membuat rasa malu Hana sedikit berkurang, setidaknya tidak ada yang memperhatikan dirinya cairann Syarief.

“Ah,,, Kamu ada-ada saja. Sudahlah,,, kamu terus saja mengomentari tubuhku, Apa kamu tidak tertarik dengan wanita-wanita yang lebih menggairahkan itu” jawab Hana tidak percaya.

Sesaat Syarief mengalihkan pandangannya, tampak Fitria yang megenakan rok panjang lengkap dengan penutup kepala nya sedang merangkul Darto yang ikut bergabung dengan Syakieb dan Bu Sofia. namun Hana yang kini dihadapan lebih menarik perhatiannya.

“Ayolah,,, Aku berani berbugil ria keliling monas bila aku gagal,”

Sontak Hana mengernyitkan dahinya namun sesaat kemudian bibir mungil itu tertawa lebar. Baru kali ini Hana dapat bercanda lepas dengan pria teman suaminya.

“Tapi, apabila Aku berhasil, mungkin Aku dapat sedikit mengambil upah atas tubuhmu ini,” kalimat yang dilontarkan Syarief semakin nakal, Hana yang tertawa langsung terdiam.

“Aaa,, apa yang akan kamu minta dari tubuh aku?” dengan tergagap Hana bertanya.

Ada tekad dihati Syarief untuk dapat meraih satu orgasme dari tubuh istri temannya itu, apalagi secara tidak sengaja tiupan angin nakal menyingkap kain rok yang ringan, sepasang paha mulus yang sekal terpampang di depannya. Dengan malu-malu Hana segera merapikan roknya, mengapit sisi kain diantara pahanya.

“Mungkin akan ku pikirkan nanti, setelah usaha ku menumbuhkan rasa percaya diri mu berhasil. Tapi satu yang pasti, aku sangat berminat dengan apa yang tersembunyi di balik kaos merah ini, bahkan jika diizinkan aku ingin sedikit berkenalan dengan milik mu yang tersembunyi dalam kain indah ini,” ucap Syarief sambil meletakkan telapak tangannya diatas paha Hana yang tertutup rok.

“Eehh,ehm,,jangan nakal ya,,” seru Hana, menepis tangan Syarief dengan cepat.

“Shit,,,” Syarief mengumpat dalam hati, hanya gara-gara tak mampu membendung nafsu, telapak tangannya itu telah merusak semua rencana, mungkin dirinya harus sedikit bersabar, Hana memang bukan wanita seperti Shita atau wanita lainnya yang begitu mudah diajak ke tempat tidur.

“Upss,,, maaf,,, aku terlalu bergelora saat melihat kulit mulus mu,” Ujar Syarief serampangan, dan hatinya kembali mengumpat, kenapa mulutnya harus begitu jujur menturkan isi hatinya.

Suasana kembali kaku, Syarief tidak lagi memiliki kata-kata yang tepat untuk mencairkan suasana.

“Kemana eemm,,anak mu dititipkan,” ucapnya asal, meski tak yakin kalimat itu dapat memperbaiki suasana, bahkan suara yang keluar dari mulutnya agak serak dan terbata.

“Sial, sial,sial,,” umpatnya dalam hati, saat melihat Hana justru tertawa melihat kegugupannya. Bahkan tubuh wanita itu sampai terguncang membuat buah dada turut bergoyang.

“Apakah kata-kataku memang lucu,” hati Syarief menjadi kesal dengan sikapnya sendiri.

“Eemmm,, lalu apa yang harus aku lakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diriku,” ucap Hana tanpa menjawab pertanyaan Syarief, Hana sadar lelaki di depannya kini merasa bersalah dan menjadi serba salah.

“Yaa,, mungkin kita bisa memulai dari sekarang,” ucap Syarief.

“Apakah harus menggunakan telapak tanganmu,” balas Hana cepat, sepertinya wanita itu justru ingin meledek Syarief.

“Tidak, tidak, maaf atas perbuatanku tadi. seperti yang kubilang tadi, kamu dapat memulai dengan belajar menegakkan punggung, sehingga buah dada itu semakin membusung, dan biarkan kedua bukit itu mendominasi pemandangan dari tubuhmu,” Syarief kembali berusaha menguasai keadaan setelah sadar dirinya sedang dikerjai oleh istri temannya itu.

Dan benar saja, kini giliran Hana yang kembali kikuk dan bingung, haruskah dirinya mengikuti saran lelaki yang hanya dikenal dari suaminya. Tapi tak urung saran itu diikutinya juga.

“Apakah seperti ini?” ucapnya menahan malu, buah dadanya memang terbilang besar, apalagi jika harus duduk tegak seperti itu.

“Ya,ya,,, mungkin kamu bisa sedikit bersandar agar tidak terlalu capek, tapi jangan pernah lagi menekuk pundak dan menundukkan kepala, biarkan kepala mu tetap tegak, dan yakinlah kamu tidak kalah cantik dengan wanita manapun…dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk menguji kelebihan yang kamu miliki, aku yakin dengan keindahan tubuh yang kau miliki, kamu dapat menggoda penjaga kantor itu,” ucap Syarief sambil menunjuk seorang pria paruh baya di sebrang mereka, Mang Wagiman.

“Tapi apa yang harus ku lakukan,” balas Hana yang kebingungan,

“Sekarang ikuti intruksiku,,, Ok, coba rentangkan kedua kakimu,,, ya,, terus,, biarkan angin menyapa kulit, bagus,,,dan tetaplah menatapku seolah kita sedang mengobrol,, bagus,,,” Mata Syarief yang begitu tajam menatap Hana seakan memberikan semangat kepada ibu muda yang berusaha menahan malu mengikuti intruksinya.

Tak urung aksi itu membuat jantung Hana berdegup kencang, ini adalah untuk perPratama kalinya Hana memperlihatkan selangkangannya yang hanya tertutup oleh pakaian dalam kepada pria lain. Jemarinya meremas Riefgku kayu dengan kuat, Hana sangat yakin jika penjaga kantor itu memang tengah menatap selangkangannya pasti mendapati sepasang paha montok yang menggairahkan.

“berapa lama aku harus melakukan ini,” Tanya Hana, dirasakannya semilir angin dengan mesra menjamahi kulit pahanya, membuat bulu-bulu halus yang menghias paha sintalnya berdiri.

“Teruslah, Biarkan rasa malu menguasai dirimu, biarkan rasa malu menyelimuti seluruh tubuhmu, rasakanlah wajah mu yang mulai terasa panas dan memerah, dan terus nikmati rasa malumu,” Hana memejamkan matanya, membayangkan ekspresi pria di hadapannya yang siap menerkam tubuhnya.

“Nikmati rasa malu itu, hingga kamu mampu menguasai tatapan nakal pria itu,” kata-kata Syarief bagai menghipnotis geraknya, Tanpa sadar Hana semakin membuka pahanya semakin lebar.

“Dan sekarang tarik sedikit rok mu, biarkan pria itu menikmati paha dalam mu, biarkan pria itu menerkam kemaluan mu dengan matanya.”

Sontak mata Hana terbuka, Wajahnya menunjukkan kata-kata protes, jika hanya mengangkangkan kakinya mungkin tidak terlalu masalah, tapi dengan membuka roknya semakin keatas sama saja memberi undangan terbuka kepada Mang Wagiman. Meski wajah Syarief dan Hana tetap saling menatap, tapi mata mereka sesekali melirik dan memperhatikan apa yang tengah dilakukan Mang Wagiman.

“Tidak Syarief, Aku tidak mau jika harus melakukan itu,”

“Ayolah, Aku yakin kamu dapat menggoda pria itu, lihatlah dia mulai memperhatikanmu, Oowwhh,, pria itu mulai menundukkan tubuhnya mengambil sesuatu tapi aku yakin dirinya hanya ingin mencari tau apa yang tersembunyi dibalik rok mu itu, mungkin kau bisa memberinya sedikit rejeki di pagi hari,” goda Syarief.

“Tapi aku tidak mengenakan apapun selain celana dalam,” balas Hana cepat.

Lagi-lagi Syarief menganggukkan kepalanya menegaskan kepada wanita muda itu bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengubah pribadinya. Sementara hati Hana mencoba mencari-cari pembenaran atas apa yang dilakukannya saat ini. Setelah menghela nafas panjang, jemari nya secara pasti menarik rok itu semakin ke atas. Meski tidak yakin dapat merubah sifat pemalunya, setidaknya Hana ingin menikmati sedikit kenakalan yang tidak pernah dilakukannya. Sepasang paha putih nan sekal, perlahan mulai terpampang dengan lebih jelas berujung pada secarik kain pelindung, seandainya Syarief sedikit menundukkan kepalanya maka dirinya akan dapat pula menikmati suguhan indah di pagi hari nan indah itu.

“Apakah ini cukup,” suara Hana terdengar berat. Beberapa tetes keringat menetes diwajah wanita berkacamata itu. Sementara jemarinya kini meremas tangan Syarief dengan kuat, seakan meminta dukungan atas apa yang dilakukannya.

“Ya, kurasa cukup,” ada nada-nada cemburu dan iri dimata Syarief atas keburuntungan yang tengah dinikmati Mang Wagiman. Tekad Syarief untuk dapat menyetubuhi Hana semakin menggebu, dan ini adalah jalan pintas terdekat untuk cita-cita nya tersebut.

Mang Wagiman yang memang sedang menikmati pemandangan indah itu, semakin dibuat kelimpungan ketika dua paha sekal yang membuat batangnya berdenyut keras mulai memberikan akses pemandangan yang lebih gila, Sepasang paha mulus yang berujung pada segitiga bermuda berbalut kain biru muda, yang menjadi misteri bagi lelaki yang tak pernah lulus SD ini. Hana merasakan kemaluannya mulai basah, seandainya Mang Wagiman berada lebih dekat mungkin pria paruh baya itu dapat melihat bagaimana celana dalam itu mulai lengket dan basah. Sementara Syarief berulangkali mengumpat dalam hati atas kemujuran yang didapat Mang Wagiman, ingin sekali Syarief menyibak rok Hana dan melihat bagaimana keindahan selangkangan wanita di sampingnya itu. Tanpa diduga, Hana memalingkan wajahnya dan menatap Mang Wagiman yang hampir terjengkang karena kaget dan berlalu pergi dengan cepat.

“Kenapa pria itu pergi,,,” keluh Hana, padahal dirinya hanya ingin melihat wajah lelaki yang telah menikmati keindahan tubuh yang ditawarkannya.

“Tidak,tidak,,, justru kau telah berhasil menguasai rasa malumu dengan berani menatap pria itu, lihat pada akhirnya dia yang malu, bukan kamu, kaulah pemenangnya”

“Ya kurasa ini sudah lebih dari cukup, pria itu tak mampu melawan godaanku,” ucap Hana dengan senyum lebar.

“Teeett,,,Teeet,,,” suara klakson bis wisata yang begitu kencang membuat Syarief dan Hana terkaget.

Mang Wagiman yang sempat menghilang dibalik gedung kembali menunjukkan batang hidungnya dan bergegas mengarahkan bis besar yang memasuki halaman kantor. Sesekali matanya mencoba melirik Hana berharap menemukan pemandangan seperti yang dinikmatinya tadi.

“Lihatlah, apa yang telah dilakukan selangkangan mu pada pria paruh baya itu, ternyata kau memang nakal,” bisik Syarief sambil beranjak.

“Tapi ku rasa bukan hanya pria itu yang menikmati,,,” balas Hana menggoda. Entah kenapa Hana merasa memiliki kebebasan untuk bercanda dan sedikit menggoda pria yang telah berhasil ‘menelanjangi’ tubuhnya ditengah umum.

Syarief hanya terkekeh,

“Eitss,, ingat tubuh mu harus selalu tegak, dan biarkan aku menikmati keindahan buah dada mu, ehmm,, maksud aku para lelaki,” ucap Syarief mencoba mengiringi langkah kaki Hana menuju rombongan yang sibuk mengepak tas mereka kebagasi.

Mungkin ada benarnya yang diinginkan Pak Pratama, dengan menggunakan bis wisata, mereka akan lebih cepat akrab diBanding menggunakan mobil pribadi masing-masing.

############################

Syakieb merentangkan kedua tangannya dan mengambil nafas panjang untuk mengisi rongga parunya dengan udara pantai yang begitu segar. Fitria yang ada disampingnya hanya tersenyum melihat ulahnya. Di hadapan mereka tampak sebuah cottage yang keseluruhan Riefgunannya menggunakan kayu dan atap dari rumbia, dikeliling sebuah pagar yang cukup tinggi. Sebuah pemandangan yang sangat artistik dengan nuansa natural, mungkin pencipta Riefgunan ini sengaja mempertahankan kealamian pemandangan yang ada, walaupun disana-sini terdapat beberapa tambahan Riefgunan permanen untuk menjaga keamanan dan penunjang fasilitas. Dengan ditemani Putra, Syarief menemui penjaga cottage yang dijaga oleh seorang lelaki berumur 40an dan seorang wanita muda yang bertugas sebagai juru masak bagi para tamu yang menginap, kulit mereka yang hitam seakan memberi tanda bahwa mereka memang telah lama mendekam dipulau tersebut.

Sementara Pak Pratama terlihat sibuk memberikan beberapa isyarat kepada Shita, memang cukup sulit menjaga kerahasiaan hubungan dengan simpanannya itu. Walau bagaimanapun Shita adalah wanita normal yang mengharapkan kemesraan perlakuan penuh kasih sayang dari pasangannya. Untungnya semua wanita, teman Bu Sofia, telah mengetahui skandal itu, dan mereka mencoba menemani Shita.

“Hei,,hei,,, disini menyediakan 7 kamar, dan pada kunci-kunci ini terdapat nomor dari kamar, dan aku bersama Syakieb akan mengambil kamar nomor lima, dan untuk menghormati Pak Pratama yang akan meninggalkan kita, ada baiknya kamar dengan nomor satu kita persilahkan kepada bapak untuk menempati,” terang Syarief sambil menyerahkan kunci kamar kepada Pak Pratama.

Syarief sengaja mengambil kamar nomor lima karena kamar tersebut ada dilantai dua dengan jendela tepat mengarah ke kolam renang dibawahnya. Sedangkan Putra mengambil kamar paling belakang. Setelah membagi kunci yang akan menentukan dikamar mana mereka akan tidur, ruang lobby sekaligus ruang untuk bersantai itu perlahan kembali sepi. Matahari masih memberikan mereka beberapa menit untuk melepas lelah sebelum bersama-sama menyaksikan sunset perPratama dipantai yang indah itu.

###############################

Pak Pratama menghisap dalam-dalam rokok yang masih tersisa setengah, pandangannya tidak lepas dari tubuh sekal Hana yang asik menanti ombak yang datang silih berganti, menyapa jemari kaki, membuat kaki indah itu sedikit terbenam dalam timbunan pasir. Telah lama memang dirinya menyimpan hasrat pada wanita berkacamata itu. Dan mungkin inilah masa-masa yang tepat untuk menjajal kehebatannya pada tubuh wanita yang memiliki tubuh bohay itu. Sesekali roknya terangkat tertiup angin laut yang nakal, memperindah pemandangan dengan latar belakang sunset dipantai eksotis itu. gelorabirahi.com Syarief yang ada disampingnya masih sibuk mengotak-atik GPS yang dipinjamnya dari Mang Kholil, si penjaga cottage. Sesekali Syarief tersenyum menyaksikan keberhasilannya menyulap pribadi seorang Hana, Syarief sangat yakin jika wanita itu menyadari tatapan nakal Pak Pratama karena matanya sesekali melirik kearah Pak Pratama yang tak bergeming dari pandangannya. tampaknya ia tengah menguji saraf rasa malunya di hadapan Pak Pratama.

“The party is begin, tentukan targetmu, taklukkan dan nikmati sepuasmu,” seru Darto yang datang diiringi Putra dan Rahadi.

“Naf, sepertinya sudah ada yang menjadikan istrimu sebagai target,” tambah Darto melontarkan umpan. Sementara yang disinggung mengangkat kedua bahunya dan tertawa lebar, Putra sepertinya memang sudah mempersiapkan hatinya untuk pesta ini, bahkan dirinya mendadani Hana seindah mungkin seakan menawarkan kepada para gladiator yang berminat.

“Terus terang saja, aku telah menetapkan seluruh wanita disini sebagai target ku, dan tentu saja termasuk istrimu,” ucap Putra sambil menepuk bahu Darto, lelaki itu memang terbiasa bicara ceplas-ceplos namun solidaritasnya kepada teman patut diacungi jempol.

“Silahkan saja, jika kau mampu menaklukkannya,” jawab Darto tak ingin kalah.

“Hanaaa,,, ayo sini,,,” terdengar suara Fitria yang tengah menuju gazebo bersama para wanita lainnya.

Sore itu Fitria tampak anggun dengan penutup kepala berwarna biru muda, senada dengan kaos yang dikenakannya, celana panjang dari bahan tisyu yang dikenakannya cukup sukses mencetak kaki indah yang tak pernah terekspos didepan umum. Siapa pulakah yang beruntung mengayuh tubuh indah dengan paras yang cantik itu

“Ok, agar liburan ini lebih berarti aku ingin menawarkan beberapa acara, dan untuk diketahui acara ini tidak mengikat siapapun jadi apabila ada diantara kita tidak dapat ikut ataupun malas untuk ikut berkumpul tak mengapa,,,” Sebagai calon pemimpin yang baru pada anak perusahaan, Syarief mencoba menunjukkan power dengan gayanya sendiri.

Bibir Syarief dengan tenang memaparkan beberapa ide acara yang ada dikepalanya, dan tampaknya semua yang ada disitu mengaggukkan kepala tanda setuju. Tanpa disadari yang lain, tampak sepasang mata penuh rasa kagum terhadap pribadi Syarief yang tenang dan terkadang cukup humoris. Obrolan berlanjut pada hal-hal yang ringan. Putra yang mencoba mendekati Anjani dengan menawarkan sepotong kentang goreng yang sudah jatuh kelantai, ulah Putra itu tentu saja membuat Anjani terpingkal. Rahadi yang paham dengan gelagat Putra mencoba memberi tempat dengan alasan mengambil wedang jahe untuk gelasnya yang memang telah kosong. Gazebo itu memang terbilang cukup besar dengan atap daun nipah, dengan beberapa tempat duduk yang terbuat dari batangan-batangan pohon dipotong seukuran kursi yang diletakkan secara acak.

Empat buah meja dari batu besar berwarna hitam sepanjang satu meter terletak disetiap sudutnya. Suara canda dan tawa mulai mengalir menandakan keakraRief yang mulai terjalin, sungguh suasana keakraRief yang sangat hangat, sehangat wedang jahe yang dihidangkan Lik Marni, istri Mang Kholil. Namun siapa yang menduga kehangatan tersebut dalam beberapa jam kedepan akan menjadi sangat panas, dihias berbagai desahan dan jeritan yang tertahan dari para betina, berselimut rasa solidaritas penjantan terhadap pemiliknya. Pak Pratama sesekali melirik tubuh Lik Marni yang telah menyulap dirinya dengan pakaian ala pelayan dengan kain kebaya lengkap dengan jariknya, sementara Mang Kholil mengenakan celana hitam yang longgar dengan kain sarung yang dilipat rapi. Harus diakui, Lik Marni memang memiliki wajah yang hitam manis khas wanita jawa pesisir, meski kulitnya sawo matang namun tubuhnya begitu kencang mendukung gerakannya yang lincah dalam melayani berbagai permintaan para tamu cottage. Pak Pratama meneguk ludahnya ketika Lik Marni berjalan menjauh, meninggalkan pemandangan yang begitu indah, bokongnya yang cukup besar berayun gemulai seakan mengundang untuk dicicipi. Dan sepertinya bukan hanya Pak Pratama yang tertarik dengan olah gerak dari tubuh wanita muda itu, karena tatapan Rahadi dan Putra pun tak terlepas dari geol nakal tubuh yang terbalut erat kain khas wanita desa itu. Mang Kholil yang menangkap tatapan nakal para lelaki hanya tersenyum, dirinya telah terbiasa menghadapi para tamu yang menunjukkan minat pada tubuh istrinya.

“Silahkan disantap tuan-tuan, kalo ada keperluan lain bisa memanggil saya atau istri,” ucap Mang Kholil sambil tersenyum penuh makna, lalu pergi meninggalkan gazebo.

Syarief yang sibuk meladeni celoteh manja Syakieb beberapa kali melotot melihat ulah Hana sepeninggal Putra. Tampaknya wanita itu telah begitu pandai menonjolkan keindahan tubuhnya, dengan tatapan genit sesekali Hana merentangkan akup pahanya dengan begitu lebar memamerkan paha sekal dan selangkangan yang terbalut kain putih. Ada sensasi luar biasa pada diri Syarief dan Hana ketika berusaha untuk saling memberi dan menerima keindahan ditengah hiruk pikuk tawa dan canda. Untuk kesekian kalinya Hana merentangkan kakinya, hanya saja kali ini lebih lama dari sebelumnya, seakan mempersilahkan kepada Syarief untuk lebih mengenali bagian paling sensitifnya. Sementara matanya bersiaga mengawasi sekelilingnya.

Untung tak dapat dicegah, Fitria yang masih penasaran dengan keindahan pulau itu mengajak Syakieb untuk sedikit berjalan-jalan. Bagi Fitria sinar mentari senja yang menapaki setiap bulir pasir dapat menyajikan ketenangan. Langkah kaki Fitria dan Syakieb tampaknya juga diiringi oleh yang lain. Kini tinggallah Syarief yang semakin bebas melumat pemandangan di hadapannya, tapi Syarief harus mendengus kecewa ketika Hana beranjak dari tempat duduknya dan menuju kearahnya. Dan kini wanita itu telah duduk di sampingnya, dan terhentilah semua pemandangan itu.

“Aku lebih berharap kau tetap duduk di sana dan menikmati hidangan yang kau tawarkan,” ucap Syarief dengan suara sepelan mungkin.

“Ooo Ya?,, apakah kau tidak ingin mencicipi hidangan itu,” jawab Hana dengan suara tak kalah pelan.

“kapan lagi kau akan mengambil upah atas terapi nakal mu ini,” belum sempat Syarief menjawab Hana telah beranjak, namun wanita itu tidak menuju pintu cottage tapi kearah samping kebagian salah satu sisinya.

Dengan pandangan penuh kemenangan Syarief menatap Rahadi dan Pak Pratama yang tertinggal di cottage.

“Rief,,, jangan langsung dihabisin, sisain gue buat ntar malam,” teriak Pak Pratama sambil tertawa, yang dijawab Syarief dengan mengacungkan jari tengah.

“Om, Ntar malam, Hadi pinjam tante ya?,,,” ucap Rahadi dengan sedikit ragu dan takut.

Sontak Pak Pratama tertawa terbahak,

“Emang kamu sanggup ngeladenin tantemu itu? Hati-hati lho dia itu predator daun muda,” bisik Pak Pratama menggoda Rahadi. Wajah Rahadi sumringah setelah mendapatkan lampu hijau dari Pamannya.

Hana yang melangkah cepat agak kebingungan mencari ruang yang sedikit terlindung. Gairahnya begitu menggebu, sejak obrolannya bersama Syarief tadi pagi Hana terus mengeksploitasi tubuhnya di hadapan para pria. Ada kepuasan tersendiri ketika dirinya menikmati tatapan nakal para lelaki.

“Ibu bisa pakai kamar aku dan istri aku,” terdengar sebuah suara bariton yang ternyata adalah Mang Kholil, pria berjamRiefg dan berkumis lebat itu tersenyum ramah sambil menunjukkan sebuah kamar dekat dengan dapur. Sepertinya Mang Kholil sudah sangat hapal dengan ulah para tamunya.

Hana melangkah cepat, tepat dipintu dirinya berpapasan dengan Lik Marni yang tengah memasak untuk makan malam mereka. Lagi-lagi keduanya melemparkan senyum, Maaf Bu kamarnya aku pinjam ya, ucap Hana sambil menahan malu, namun Lik Marni justru tersenyum dan membukakan pintu kamarnya yang berada tepat di samping pintu dapur. Syarief yang menyusul Hana harus sedikit berbasa-basi dengan Lik Marni namun perempuan kalem itu justru memberi isyarat agar Syarief secepatnya masuk kekamar.

“Kasian lho mas warungnya kelamaan nunggu, kalo warungnya tutup kan situ yang repot,” ujarnya sambil tersenyum simpul setelah Syarief memaksakan sedikit obrolan yang tidak penting.

Mendapat sindiran yang begitu menohok akhirnya Syarief membuka pintu kamar tidur pasangan penjaga cottage itu.

“Nanti malam warung aku juga buka lho, kalo mau mampir boleh koq,” seru Lik Marni cepat sebelum Syarief menutup pintu.

Syarief sempat kaget mendengar undangan itu, namun kemudian dirinya tersenyum, diundang untuk mampir ke ‘warung’ milik wanita semontok Lik Marni tentunya tak akan ada lelaki yang menolak. Apalagi Syarief yang setelah menikah tidak pernah lagi mencicipi warung milik wanita lain. Di dalam kamar yang gelap hanya diterangi bias lampu luar yang menorobos dari sela ventilasi, Syarief dapat dengan jelas melihat sosok Hana yang bertelungkup pada sebuah Rieftal. Body sekal dengan pantat montok yang sedari tadi pagi telah menghantui pikirannya kini tergeletak pasrah menunggu untuk dijamah. Apalagi dengan posisi telungkup tubuh itu semakin menggoda, rok pendek yang dikenakan tak lagi mampu menutupi dua buah pantat yang membulat padat. Syarief mencoba memanggil Hana namun tidak mendapatkan jawaRief. Syarief bisa mengerti karena ini adalah perselingkuhan perPratama wanita itu. Dengan perlahan Syarief menyingkap semakin keatas kain yang menutupi bagian bawah tubuh.Cerpen Sex

Dengan pandangan takjub tangannya meremas dengan gemas dua bongkahan daging kenyal yang kini berada dalam teritorialnya, sadar waktu yang dimiliki hanya sebentar Syarief bergegas melepas levi’s pendek dan kaos yang dikenakan, dan segera menduduki kedua paha putih mulus. Tangannya kembali bermain, meremas dan menekan bokong yang ditelantarkan pemiliknya dalam kebisuan. jemarinya dengan nakal mengusap klitoris yang masih terbungkus pengaman membuat pemiliknya harus mengerang geli. Syarief mencoba mengukur panjang kemaluannya ditengah-tengah bongkahan, agak ragu Syarief, apakah kemaluannya dapat masuk sepenuhnya seperti saat dirinya menjejalkan kemaluan panjang dan gemuk itu ke kemaluan istrinya, Syakieb. Hal itu tak membuatnya pusing, namun kepasrahan Hana yang hanya membenamkan wajahnya diRieftal itulah yang membuatnya bingung. Apakah wanita itu tengah menyembunyikan rasa malu untuk perselingkuhan perPratamanya ataukah memang telah pasrah untuk disetubuhi. Syarief mencoba menyulusupkan kedua tangannya kedalam kaos Hana, cukup sulit memang karena terhimpit oleh tubuh, tapi Hana mengerti dan sedikit mengangkat tubuhnya, membiarkan jemari Syarief bertandang kebuah dadanya.

“Hati-hati neng, ntar balonnya pecah lho kalo ditindih terus,” goda Syarief yang dijawab dengan sikutan Hana ketubuhnya.

“Cepatlah, ambil imbalan yang kau mau, sebentar lagi makan malam,” balas Hana dengan memalingkan wajahnya kesamping. Syarief semakin menyadari kecantikan dari istri temannya itu, kaca mata yang menghias wajah bundarnya membuat wanita itu semakin menggoda.

Dengan telunjuknya Syarief mencoba menyibak kain yang menutupi lubang kemaluan, pikirnya tak perlu melepas segitiga pengaman itu, tapi kain itu terlalu ketat membungkus kemaluan dan bongkahan pantat yang cukup besar. Dengan diRieftu Hana, Syarief akhirnya memilih melepas kain yang menghalangi usaha birahinya. Debaran jantung Hana yang berdetak cepat menanti sentuhan dari pertemuan kedua kulit kemaluan mereka, dapat dirasakan oleh Syarief.

“Eemmhhpp,,,” erangan Hana tertahan ketika kemaluannya mulai menerima kepala kemaluan Syarief, cukup sulit memang bagi Syarief untuk melesakkan kemaluannya ke kemaluan yang ternyata belum terbiasa dengan batang sebesar miliknya, apalagi dengan posisi memeluk Hana yang telungkup. Dengan berdiri pada kedua lututnya Syarief menarik bongkahan pantat semakin menungging membuat kemaluan Hana semakin merekah. Mungkin dengan begini kemaluannya dapat lebih mudah melakukan ekspansi pikir Syarief.

“Riieefffn Syariefi,,” Hana terpekik ketika Syarief sedikit memaksakan kepala kemaluannya menjelajah lebih jauh, meskipun sudah sangat basah tetap saja begitu sulit. Jemari Hana mencengkram tangan Syarief dengan kuat untuk meredam perih yang dirasakannya.

Tapi pantat itu terus saja menyorong ke belakang, seakan meminta Syarief untuk terus menghujamkan kemaluannya. Sesekali bergoyang untuk memuluskan jalan masuk dari batang besar yang terus menohok semakin dalam.

“Taahhaaannn,, duluu,,Rieefffn,,” dengus Hana, sambil meminta Syarief kembali memeluk tubuhnya yang telungkup.

“Asal kau tauuu,, kemaluanmuu ituu terlalu besar untuk kemaluankuu,, dan ini adalah kemaluan perPratama teman suamiku yang kubiarkan memasuki tubuuhhkuuu,,” seru Hana ketelinga Syarief yang sibuk menciumi pipinya.

“Lalu,,,” jawab Syarief dengan enteng.

JawaRief Syarief yang begitu santai tentu saja membuat Hana menjadi jengkel. Syarief yang melihat wajah Hana yang cemberut dengan bibir yang manyun segera mendaratkan bibirnya dan dengan dengan cepat lidahnya masuk mencari-cari tuan rumah dari bibir indah itu.

Hana memang tidak begitu mahir dalam permainan lidah, karenanya dirinya membiarkan saja lidah Syarief menulusuri rongga mulutnya. Sesekali lelaki itu menyedot lidah Hana dengan kuat membuat wanita itu kalang kabut tak dapat bernafas.

“Aaaarrgghhhmm,,” tiba-tiba bibir Hana terlepas, menggeram kencang.

“Sedalam apalaaagi kaaau mauu menusuk kemaluanku Rief..,,,” lengkingan Hana semakin menjadi ketika Syarief terus saja menohok kemaluannya meskipun batang itu telah sampai kepangkal rahimnya.

Hana tidak menyangka jika kemaluan itu masih dapat masuk lebih dalam lagi, dan serangan Syarief yang begitu tiba-tiba membuatnya terkejut.

“Mungkin ini sudah cukup,” jawab Syarief setelah yakin kemaluannya tak dapat masuk lebih jauh lagi. Dengan perlahan Syarief mengayun kemaluannya mencari kenikmatan yang dihidangkan dengan sukarela oleh tubuh istri temannya itu. Pantat Hana semakin terangkat, batang besar yang belum pernah dirasakannya itu ternyata mampu memberikan kenikmatan baru bagi dirinya. Mata Hana terpejam menikmati gesekan otot berselimut daging yang semakin lama semakin keras. Dinding kemaluannya mencoba mengenali urat-urat yang menonjol di antara dinding kulit yang telah basah oleh lendirnya.

“Rieefff,,, masukin yang daaalaammm,,,please,” lirih Hana. Dinding rahimnya menagih untuk kembali disapa ketika Syarief asik bermain dipermukaan kemaluannya.

“Syariefa,,,” teriaknya dengan kesal. Disaat kemaluannya begitu mendamba kembali disesaki oleh batang besar itu, Syarief justru mencabut kemaluannya. Raut muka Hana yang jengkel membuat wanita itu semakin cantik.

“Sssttsss,,, aku ingin menidurimu, bukan menindihmu seperti ini,” bisik Syarief sambil membalik tubuh Hana dan melepas kaos serta bra yang masih melekat, dengan nakal telujuk dan jempol Syarief memelintir puting merah muda yang telah terpampang di hadapannya.

Sesaat keduanya saling menatap dalam temaram bias cahaya, dengan posisi seperti ini Hana tersadar dirinya yang selama ini berhasil menjadi ibu rumah tangga yang baik sekaligus seorang guru teladan di sekolahnya mengajar, kini bersiap melayani birahi seorang pria, teman suaminya dengan keadaan yang sangat sadar. Dan sialnya dirinya pun memang menghendaki persetubuhan ini, entah mengapa seorang Syarief telah berhasil menumbuhkan gairah liarnya, mengeksploitasi keindahan tubuhnya di depan umum, memohon selangkangannya kembali disesaki oleh batang luar biasa itu. Debaran jantungnya semakin cepat ketika merasakan kemaluannya yang merekah kembali menagih untuk dikayuh oleh kemaluan yang kini berada dalam genggamannya, berlumur lendir kenikmatan.

Dengan kesadaran penuh Hana membuka selangkangnnya lebih lebar, memohon Syarief untuk mengambil tempat diantara kedua paha yang sekal. Matanya yang terus menatap wajah Syarief sesekali melirik batang yang kini berada tepat di depan gerRiefg kemaluannya. Gemeretak gigi terdengar cukup jelas ketika Hana menahan rasa penasaran dan gregetan karena batang itu tak kunjung amblas ke lorong yang begitu berhasrat untuk merasakan hujaman penuh nafsu. Ya,,,hanya bermain dipintu kemaluan yang tembem, menggosok, terkadang menyapu hingga kerambut-rambut yang tumbuh cukup lebat, dan sesekali mencelupkan sebagian kepalanya namun kembali keluar untuk bermain.

“Ooohh,, please Rief,,, perkosa  akuuuu,,, pleeaassse,”  rintih Hana seraya berusaha melepas kacamatanya yang berembun oleh deru nafasnya yang memburu.

“Ohh,,, tidak, biarkan kacamata itu tetap menghias kacamata ibu guru,” pinta Syarief sambil menyinggung profesi Hana yang notabene bekerja sebagai guru Bahasa di sebuah SMU.

“Terserah kaulah, tapi cepatlah penuhi kemaluanku,” rengek Hana semakin gregetan dan kesal.

Meski jemari Syarief yang kini bermain dengan buah dadanya membuat getaran nikmat Namun Hana tak ingin menunggu lebih lama, setelah mengangkangkan kakinya dengan lebar, wanita itu memegang pinggul Syarief dan menekannya ke bawah berharap kemaluan yang menggantung di depan kemaluannya kembali mengayuh kemaluan yang terus berdenyut minta diisi.

“Uuugghhh,,, yaaa,,yaaa,,,” tanpa melepaskan pandangan mata yang saling bertaut Hana begitu menikmati setiap dentuman penuh birahi yang menghentak keras.

Syarief sendiri dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik berkacamata itu melotot meredam hentakan Syarief yang semakin cepat. Sesekali mulutnya melenguh ketika hujaman Syarief mengenai daerah paling dalam. “Ugghhhh,,,”

Kedua bibir mahluk berlainan jenis itu terus mendesis bersahutan, sesekali saling bertukar ludah dalam lumatan yang panjang.

“Yeeaahhh,, Gaaa,,, terusss,, yaa akuaang,,,”

“Ummghhh,,,,aaahhh,,aahhh”gairah sex

Tubuh Hana melengkung, tak mampu lagi dirinya menahan orgasme yang melanda, kedua paha sekalnya menjepit pinggang lawannya dengan kuat, dengan tangan mencengkram punggung. Beberapa kali tubuhnya menghentak mengikuti orgasme yang begitu dahsyat, mulutnya meneriakkan lolongan kepuasan begitu keras, begitu nyaring. Tubuh putih nan sekal itu beberapa kali masih terhentak, orgasme datang silih berganti akibat ulah Syarief yang terus menghentak tak memberi kesempatan bagi Hana untuk sejenak menikmati orgasme yang begitu dahsyat.

“Riieefffndddhhii ,,, aahhh,,,” Setali tiga uang, ternyata Syariefpun tak mampu lagi menahan orgasmenya, bermili-mili sperma kental menghambur memenuhi lorong kemaluan yang semakin Riefjir.

“Uuggghh,,ughh,ughh,” disisa orgasmenya Syarief kembali mengehentakkan kemaluannya, mencari-cari kenikmatan yang tersisa sekaligus mengalirkan tetesan sperma yang tertinggal.

Hana hanya tersenyum melihat ulah Syarief, dibiarkannya lelaki itu terus menghentak kemaluannya dengan segenap kekuatan yang dimiliki, mengeksploitasi kepuasan diatas tubuh bugilnya. Menggeram kuat dengan jemari mengcengkram erat kedua buah dadanya, Mengejang penuh birahi di sela selangkangannya. mengosongkan kantong spermanya hingga memenuhi rongga kemaluan.

Meski dalam masa subur Hana tidak ingin memupus kenikmatan yang tengah dinikmati pria diatas tubuhnya itu. Dibiarkannya aliran sperma yang hangat memenuhi rongga rahimnya, apapun yang terjadi nanti biarlah terjadi. Namun yang pasti saat ini dirinya begitu menikmati kepuasan yang terpancar dari wajah seorang pria yang bukan suaminya, terus memburu rentetan kenikmatan orgasme dari tubuh telanjangnya. Ada kepuasan dibatin Hana melihat wajah dan tubuh Syarief yang bermandikan keringat tersenyum kelelahan, dipeluknya kepala Syarief dan menempatkan wajah yang dihias kumis tipis itu diantara buah dadanya. Obrolan ringan mengalir dari mulut mereka tanpa ada niat memisahkan dua kemaluan yang masih bertaut berselimut kehangatan lendir-lendir cinta mereka.

“Dugaanku tidak meleset, ternyata kau memang luar biasa,” ucap Syarief sambil menyisir alis Hana dengan telunjuknya. Keringat dari pacuan birahi yang baru saja selesai masih terus keluar dari pori-porinya yang halus.

Tubuh Syarief memang lebih besar dari suaminya, dengan badan atletis yang selalu terjaga. Dan Hana merasa tenang berada dalam rengkuhan dan tindihan pria tersebut.

“Hahaha,,, sudahlah,, tak perlu merayuku lagi, kau sudah mendapatkan segalanya dariku, aku harus mengakui pesonamu begitu mengagumkan, dan aku yakin sudah Banyak wanita yang telah berhasil kau gagahi dan sialnya salah satunya adalah aku,,,. Jadi sekarang, sebaiknya cepatlah kau kenakan pakaianmu dan berkumpul dengan teman-temanmu di meja makan,” kata-kata Hana yang begitu panjang tak mendapatkan respon dari Syarief yang kini mengukir bentuk bibir Hana dengan jemarinya.

“Ayolah Syarief,, kau tidak mungkin terus menindih tubuhku, lagipula aku tidak ingin suamiku mendapati kemaluanku melebar karena terus menelan batang besarmu ini,” dengus Hana dengan berpura-pura kesal

Syarief yang lebih Banyak diam dan hanya menatap wajah dan tubuh telanjangnya membuatnya rikuh. Walau bagaimanapun ini adalah pengalaman perPratamanya mempersilahkan seorang pria, rekan suaminya, dengan bebas menggasak selangkangannya. Bahkan suaminyapun tidak pernah melakukan itu, biasanya Putra langsung tergeletak tertidur di sampingnya begitu berhasil menghamburkan sperma di rahimnya, dan kini ada seorang lelaki yang belum begitu dikenalnya, berlama-lama menindih tubuhnya tanpa melepaskan batang yang menghujam dan masih saja mengeras.

“Apakah kau benar-benar ingin aku turun dari tubuhmu?” Tanya Syarief sambil mengambil ancang-ancang menjatuhkan tubuhnya ke samping.

“Emhh,, Syarief, jangan membuatku terus merasa malu dong,” rajuk Hana sambil kembali memeluk tubuh Syarief dan menyembunyikan mukanya yang memerah ke dada bidang Syarief.

Kedua pahanya menjepit erat pinggul Syarief menegaskan bahwa dirinya tidak ingin batang besar itu lepas dari kemaluannya. Syarief hanya tersenyum melihat tingkah Hana, namun kedua sikunya yang terus menahan berat tubuhnya untuk menghindari beRief di tubuh Hana sedikit membuatnya capek, akhirnya Syarief berguling kesamping dan menempatkan Hana di atas tubuhnya tanpa melepaskan kemaluan yang masih mendekam manja. Wanita itu sempat terpekik, namun setelah mendapati posisi yang memberikan dominasi pada dirinya, Hana tersenyum.

Dengan percaya diri yang dipaksakan Hana menduduki kemaluan Syarief dan membiarkan lelaki itu memandangi tubuhnya yang terekspos bebas. Hana sangat ingin memperlihatkan semua kelebihan yang dimilikinya. Hana mengakui tubuhnya lebih berisi diBandingkan wanita lainnya, hampir menyaingi kemontokan tubuh Bu Sofia.

Jemari kanan Syarief terulur menjemput buah dada besar yang menggantung, sementara tangan kirinya menyusuri pinggangnya yang ramping.

“Ternyata kau benar-benar gemuk, untungnya lemak itu berada sesuai pada tempatnya,” desis Syarief saat meremasi kedua bokong Hana yang begitu montok dan membuat batangnya terbenam semakin dalam.

“Tapi itu justu membuatmu sial, karena kau harus melayaniku sekali lagi,”

“Oh ya,,, tampaknya upah yang kuberikan masih kurang, baiklah,,, kau boleh kembali mengambil upahmu,” balas Hana seraya mengarahkan buah dadanya kebibir Syarief.

Tak perlu waktu lama, bibir indah itu kini kembali mendesis menikmati bibir Syarief yang bermain nakal, menjilat, menyedot bahkan mengigiti kedua putingnya. Tak dihiraukannya telunjuk Syarief yang kini mengusap-usap sekitar duburnya, namun ketika dirasakannya jari itu mencoba memasuki duburnya, Hana terkaget dan dengan cepat mencengkram tangan Syarief.

“Jangan sayang, itu jorok sekali,”

“Tapi aku ingin mengambil upahku di lubang kecil itu,” ucap Syarief dengan merengek manja.

“yang benar saja Syarief, milikmu tidak akan mungkin cukup masuk kesana,” tubuh Hana bergidik, kemaluannya saja begitu sulit melahap batang besar itu, dan kini batang itu ingin menjajal duburnya yang begitu sempit.

“Jujur saja, istriku telah melayani dua orang pria dengan duburnya, dan itu sungguh nikmat, Ayolah,,,” Syarief bingung bagaimana lagi cara merayu, dirinya begitu terpesona dengan pantat montok itu, dan terus membayangkan bagaimana nikmatnya jika kemaluan besarnya berhasil melesak masuk dan terjepit diantaranya.

“Istrimu? Syakieb? Telah melayani dua pria? Denga duburnya?” kening Hana berkerut terkejut oleh pernyataan Syarief.

“Ta,ta,tapi,,, aku tidak berani, itu pasti sakit sekali,” jawab Hana.

“Tuan, makan malam sudah siap, dan sepertinya tuan dan nyonya sudah ditunggu oleh teman-teman untuk makan bersama,” terdengar suara lembut Lik Marni, memutus perdebatan antara keduanya.

Syarief kembali memandang mata Hana penuh harap, sekaligus menyampaikan pesan bahwa waktu mereka tak Banyak.

“Baiklah,,, kau menang Syarief, tapi lakukan dengan pelan,” Hana menyerah, melepas kemaluan Syarief yang masih menancap kemudian mengambil posisi menunging sambil memeluk Rieftal.

Tampak kemaluan Syarief begitu mengkilat, entah oleh spermanya tadi ataukah oleh cairan kemaluan Hana yang kembali basah. Sekali lagi Syarief meremasi pantat besar Hana, dengan posisi itu kemaluan dan dubur Hana terpampang jelas, begitu pasrah bersiap menerima tusukan kemaluan perPratama yang sama sekali tidak pernah dilakukannya, terbayangkanpun tidak. Setelah mengambil posisi diantara kaki Hana yang tertekuk, Syarief mencoba menusuk-nusuk lubang yang telah basah oleh liurnya. Dan memang kepala kemaluannya terlalu besar untuk lubang imut itu. Berkali-kali helm besar itu meleset ke atas dan sesekali terpleset ke kemaluan Hana, membuat bibir wanita itu mendesis.

“Sepertinya memang tidak bisa, sayang, dan mungkin aku akan melakukannya lain kali,” ucap Syarief yang menyerah dan kemudian menusukkan batangnya ke kemaluan Hana.

Hana menggeram tertahan, mendapati selangkanganya ditusuk dengan tiba-tiba.

“yaaa,yaa, teruusss,, kurasaaa iniii lebih baiiieek,” rintih Hana mengimbangi sodokan-sodokan keras dari Syarief.

Dengan erat kedua lengan kekar itu memegangi pinggul Hana, untuk memantapkan serangannya, kamar gelap yang tadi senyap kini kembali riuh oleh gemuruh birahi. Masing-masing ingin menunjukkan kelihaian dalam memuaskan lawan mainnya. Hana berusaha mengejang untuk mempererat cengkraman otot kemaluannya, dan itu cukup membuahkan hasil, Syarief berkali-kali mendengus garang ketika kemaluannya tertahan cukup lama didalam lubang sempit itu, menikmati gerakan otot kelamin Hana yang mengempot.

Hana tersenyum puas oleh usahanya.  Namun ketika Syarief tiba-tiba menghentak keras jauh kedalam kemaluannya pekiknya terlontar. gelorabirahi.com Dinding rahimnya tak pernah mampu membungkam hentakan nikmat batang yang terus menggedor ganas. Ranjang kayu dengan per busa yang tak lagi kencang terus menghantam tembok kamar. Membuat suara semakin gaduh. Hana mengangkat paha kanannya, memperlebar akses bagi batang itu untuk bergerak lebih bebas.

“Adduuuuhhh,,, duhh,,Baaan,,,Syarief,,, masukiiin semuaaa,,, biar kutelaaann smuaaa,,,” jeritan birahi Hana begitu nyaring membuat Lik Marni yang ada didapur geleng-geleng kepala, meski telah terbiasa dengan ulah tamu-tamunya, tapi tak ada yang seganas mereka berdua.

Tubuh Hana tak mampu menahan hentakan pinggul Syarief yang menggila, membuat pipi mulusnya menempel kedinding, kedua tangannya mencoba menahan di tembok kamar. Meski demikian pinggulnya masih memberikan perlawanan, bergoyang mengikuti hentakan yang membabi buta.

“Aarrrgghhh,,, Riieefff,,, keluaaarrr,,, Aiidaaa sampaaaii Rieefff,,”

“Aaahhm,, aahh,,, yang dalaaaamm,, daalaaam,,”

Hana tak lagi peduli dengan jeritannya yang memekik nyaring. Orgasmenya begitu dahsyat saat Syarief memaksakan kemaluan yang terlalu panjang itu berhasil masuk sepenuhnya ke dalam lorong kemaluannya. Tangan Syarief berusaha menahan pinggul Hana yang berkelojotan, dengan punggung melengkung naik turun seiring orgasme yang perlahan mulai menyurut. Sudut matanya melirik Syarief yang berusaha mengatur nafasnya dengan senyum tersungging. Keegoan Syarief sebagai seorang lelaki melonjak saat melihat orgasme gila yang dialami Hana. Bertambah satu lagi wanita yang mengakui kehebatan barang pusaka miliknya. Terdampar di pantai orgasme, melenguh bersahutan bagai ombak yang datang silih berganti. Kini, lagi-lagi Syarief memeluk tubuh montok yang tertelungkup kehabisan tenaga.

“Rief,,lakukanlah semua yang kau inginkan pada tubuhku, tapi beri aku waktu beberapa menit,” kata Hana tersengal-sengal.

Wajah cantik berkacamata yang kini bermandikan keringat memberikan pemandangan yang begitu indah.Cerita sex

“Mungkin aku akan membobol duburmu lain kali, dan hingga sampai waktunya tak ada seorangpun yang boleh menjamah lubang itu, dan sekarang berbaliklah,” bisik Syarief dengan lidah menjilati kuping Hana.

Hana bingung dengan apa yang akan dilakukan Syarief pada dirinya. Dengan penuh nafsu Syarief mengangkangi buah dada Hana yang terbaring pasrah. Kini tampak dengan jelas di depan mata Hana bagaimana bentuk dari batang yang telah memberikannya orgasme yang begitu dahsyat. Tepat di depan hidungnya, Syarief mengocok batang raksasa yang menampakkan urat-urat yang mengelilingi, membuat daging besar itu semakin sangar. Entah dorongan dari mana Hana membuka bibirnya menawarkan batang itu untuk bertandang ke dalam mulutnya. Padahal Hana selalu menolak melakukan itu saat suaminya meminta dan memohon.

Rezeki tak boleh ditolak, dengan cepat batang itu memenuhi rongga mulutnya, terkadang lidah Hana menyedot batang itu dengan kuat berharap batang itu menghilangkan dahaganya dengan sperma cinta. Sekelebat Hana teringat kesehariannya yang bekerja sebagai seorang guru, seorang guru cantik yang menjadi idola di sekolah. Namun kini terbaring pasrah dengan mulut penuh dijejali kemaluan seorang pria yang bukan suaminya. Namun dalam setiap geraknya Hana justru ingin memastikan bahwa semua yang dilakukannya itu benar-benar nyata, bukan sekedar mimpi. Dengan jemarinya sesekali Hana menarik kemaluan itu keluar dan memainkan di wajahnya yang mulus, menyusuri hidung dan telinganya. Sementara lidahnya menjilati kantung testis yang meggantung.

Hana sangat sadar dengan apa yang dilakukannya, hatinya ingin mendobrak kungkungan moral dan hukum yang selama ini membelenggu. Berbagai kejadian yang dialaminya selama mengajar disekolah silih berganti hadir dipelupuknya, bagaimana mata para siswa cowok memandangi belahan roknya dengan sangat liar, terkadang Hana merasa risih ketika beberapa muridnya sengaja menundukkan badan untuk mengambil barang yang sengaja mereka jatuhkan. Hana harus mengakui sesekali murid-muridnya kadang sedikit beruntung saat dirinya terlupa menurunkan dan menjepit roknya yang selutut ketika duduk diRiefgku guru. Itu terlihat jelas dari mata mereka berbinar ketika berhasil mendapatkan pemandangan yang indah.

Atau ulah penjaga sekolah yang mengiringinya setiap kali dirinya ke kamar kecil yang sebenarnya dikhususkan bagi para guru. Akibat ulah penjaga sekolah yang nakal tersebut Hana berusaha ekstra hati-hati dengan memastikan tidak ada celah lubang untuk mengintip. Bahkan tidak sekali dua kali, Pak Darno mengedipkan mata dan dengan sedikit isyarat yang dipahaminya sebagai permohonan untuk sedikit mengintip dua bukit yang tersembunyi di balik seragam PNSnya. Meski tidak mengabulkan permohonan itu, Hana tidak dapat memungkiri ada gairah yang menggelegak dalam dadanya.

Ada rasa Riefgga ketika setiap bagian tubuhnya dikagumi oleh para lelaki. Hanya saja kenyataan dirinya sebagai gadis kampung yang diboyong kekota dan berprofesi sebagai guru lah yang menjadi rambu-rambu akan semua tingkah lakunya. Tetapi kini, dirinya terbaring pasrah di bawah tindihan seorang lelaki, merelakan setiap lubang di tubuhnya dijejali oleh batang berotot, gerakannya begitu pasrah mengikuti semua kehendak pejantan yang mengayuh tubuhnya, gairahnya menderu mengejar kenikmatan dan kepuasan yang dijanjikan oleh Syarief, teman suaminya.

Dengus nafasnya kadang tertahan, ketika tubuh Syarief yang berat menduduki kedua buah dadanya, menjepitnya dengan keras, tapi entah mengapa tubuhnya justru semakin pasrah, menikmati bibir Syarief yang mendesah dan merintih semakin keras di atas tubuhnya. Hatinya sangat ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita jalang yang sanggup memuaskan para lelaki.

“Keluarkanlah semua saaayaaaang,,,” teriak Hana sambil membuka lebar mulutnya, seakan memberi tanda bibir indah itu siap menampung setiap tetes sperma Syarief yang mengalir keluar.

“Aaaarrgghhhh,,,, iseeeppp yang kuat,iseeppp, semuaaaa,,,” teriak Syarief ketika tak mampu lagi bertahan atas pelayanan yang begitu sempurna dari seorang guru yang cantik. Jemari Syarief menjambak rambut Hana dengan kasar, memastikan kemaluannya tidak akan terlepas dari mulut Hana.

“Emmgghhhh,,mgghhh,,,” Hana menggeram berusaha memenuhi hajat pejantan yang melenguh melepas orgasme dirongga mulutnya, lidahnya berusaha menyedot batang yang berkedut kencang menghantar cairan kental ke mulutnya.

Berkali-kali Hana meneguk untuk mengosongkan mulutnya yang telah penuh. Wajahnya begitu pasrah ketika batang berlendir ditarik keluar dan menghambur tetes terakhirnya di kacamata dan wajahnya. Aroma yang khas membuat mulutnya terbuka lebar berharap batang besar itu kembali masuk untuk mendapatkan pelayanan dari lidahnya. Satu lagi pelayanan yang begitu dahsyat dirasakan oleh Syarief, yang tak pernah didapatkannya dari Syakieb istrinya. Ada rasa puas dan Riefgga ketika berhasil melukis wajah seorang guru yang cantik dengan aliran sperma. Dengan kekuatan yang tersisa Syarief menjatuhkan tubuhnya ke samping Hana, perlahan mengatur nafasnya. Wajahnya meringis ketika Hana menggoda dengan menggenggam kepala kemaluannya dengan kuat, membuat kemaluannya terasa ngilu.

“Cepatlah berbenah, nanti kita dicari yang lain,” bisik Syarief seraya mencari pakaiannya, jemarinya meraba-raba mencari kaosnya yang terlempar entah kemana.

“Kamu duluan saja aku akan menyusul nanti, kau benar-benar luar biasa dan aku harus beristirahat sebentar,” jawab Hana yang justru mengambil selimut dan menutupi sebagian tubuh montoknya yang terbuka.

“Ok,, tapi jangan terlalu lama, aku takut suamimu cemas,” balas Syarief sambil meremas buah dada Hana dari balik selimut, membuat siempu-nya tertawa.

“Kalau kau ada waktu, mungkin aku bersedia untuk sekali lagi melayanimu malam ini,” jawab Hana sambil terkikik sebelum Syarief menghilang di balik pintu.

cerita,sex,seks,dewasa,mesum,bokep,ngentot,hot,sange,telanjang,panas,syur,lesby, gay,homo,bugil,telanjang,tante,bispak,kontol,memek,kemaluan,lendir,onani, masturbasi,anal,kimcil,xxx,bondage,perkosaan,cabul,skandal

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.