Vimax Cerita Dewasa Cerita Sex Terbaru
Breaking News

Cerita Bokep Terbaik Si Wanita Karir

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Cerita bokep, cerita bokep terbaru, cerita bokep 2016, cerita bokep terbaik, cerita bokep terbaru terbaik, ceita bokep 2016 terbaik, cerita bokep juli 2016, Entah kenapa, semakin aku sering melakukan Making Love dengan seseorang, membuat kehidupan sex aku bersama istriku semakin romantis saja. Dan entah semua itu semakin bisa aku nikmati. Mungkin semua ini adalah dampak dari terlalu tingginya libidoku sehingga saat aku lagi mood, tidak jarang setelah siangnya atau sorenya aku melakukan dengan teman kencanku, malamnya aku ganti menservice istriku.

Cerita BokepCerita bokep, cerita bokep terbaru, cerita bokep 2016, cerita bokep terbaik, cerita bokep terbaru terbaik, ceita bokep 2016 terbaik, cerita bokep juli 2016,Cerita Bokep Terbaik

Aku selalu bersyukur mempunyai kelebihan dalam urusan bercinta. Ditambah pengetahuan sex aku yang aku dapatkan dari film BF, buku-buku sampai obrolan-obrolan dengan teman di kantor, membuat aku semakin bisa menyelami tentang apa itu sex. Sehingga aku benar-benar fasih dalam menerjemah apa yang aku dapat dari pengetahuan tentang sex. Itu terbukti dengan keluarnya banyak pujian dari para teman making love aku. Rata-rata mereka sangat puas saat bercinta denganku, dan mereka menemukan, merasakan dan menikmati sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan dalam masalah sex.

*****

Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang ibu rumah tangga, yang entah bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui nomor cellulerku.

Siang itu saat aku sedang menikmati masa istirahatku di kantin, tiba-tiba cellulerku berbunyi.

“Hallo, selamat siang Daniel” suara perempuan yang manja terdengar.

“Hallo juga, siapa ya ini?” tanyaku serius.

“Namaku Douna” kata perempuan tersebut mengenalkan diri.

“Maaf, Mbak Douna tahu nomor HP saya darimana?” tanyaku menyelidik.

“Oya, aku temannya Dista dan dari dia aku dapat nomor kamu” jelasnya.

“Ooo, Mbak Dista” kataku datar.

Aku mengingat kembali kisahku sebelumnya yang berjudul Kisah bersama Ibu Muda. Dista seorang sekretaris yang juga ikut ‘mewarnai’ kehidupan sex aku.

“Gimana khabar Mbak Dista?” tanyaku.

“Baik, dia titip salam kangen sama kamu” jelas Douna.

Sekitar 5 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang yang sudah kenal lama. Suara Douna yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisik dari wanita tersbut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Douna membuyarkan lamunanku.

“Hallo.. Daniel, kamu masih disitu?” tanya Douna.

“Iya.. iya Mbak..” kataku gugup.

“Hayo mikir siapa, lagi mikirin Dista ya?” tanyanya menggodaku.

“Nggak kok, malahan mikirin Mbak Douna tuh” celetukku.

“Masa sih.. Jadi GR nih” dengan suara yang menggoda.

“Daniel, boleh kan kalau aku mau ketemu kamu?” tanya Douna.

“Boleh aja Mbak.. Dengan senang hati” jawabku semangat.

“Oke deh, kita mau ketemuan dimana?” tanyanya semangat.

“Terserah Mbak deh, Daniel ngikut aja” jawabku pasrah.

“Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di excelso di Tunjungan Plasa” katanya.

“Oke, sampai nanti Daniel.. Aku tunggu jan 18.00” sambil berkata demikian, HP nya langsung off.

Waktu menunjukkan pukul 16.30, tiba saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke Tunjungan Plaza. Sebelumnya aku prepare di kantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari aku membawa karena memang aku sering olahraga setelah jam kantor.

Tiba di TP, aku segera memarkir mobil starletku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku menunjukkan pukul 18 kurang seperempat. Aku segera menuju ke excellso seperti yang dikatakan Douna.

Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa melihat orang hilir mudik di area pertokoan terbesar di Surabaya ini. Saat mataku melihat situasi di sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya yang duduk sendirian. Menurut tebakan aku, wanita ini berumur sekitar 35 tahun ke atas. Wajahnya yang luDounan putih, membuat aku tertegun. Mataku yang mulai nakal, berusaha menjelajahi pemandangan yang sangat menggiurkan di depanku. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih di balik rok mininya, membuat semakin aku gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya aku jika orang tersebut adalah Douna yang menghubungi aku siang tadi.

Disaat aku membayangkan sosok di depan mataku, tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdegup kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku.

“Maaf, kamu Daniel ya?” tanyanya sambil menatapku.

“Iy.. iyaa.. Kamu Douna?” tanyaku balik sambil berdiri.

Jarinya yang lentik menyentuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesir ketika tangannya yang halus meremas tanganku dengan halus.

“Silahkan duduk Doun” kataku sambil menarik satu bangku di depanku.

“Terima kasih” kata Douna sambil tersenyum.

“Dari tadi anda duduk disitu kok tidak langsung kesini?” tanyaku.

“Aku tadi sempat ragu, apakah kamu memang Daniel” jelasnya.

“Aku tadi juga berpikir, apakah wanita yang cakep ini kamu?” kataku sambil senyum.

Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling canda, saling menggoda dan sesekali bicara yang ‘nyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah sempurna saja wajahnya yang semakin matan.

Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Douna adalah seorang wanita yang sedang tugas di Surabaya. Douna adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya.

“Doun, kamu kenal Dista dimana?” tanyaku mnyelidik.

“Dista adalah teman chattingku di YM, aku dan Dista sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga untuk kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun.” mulut mungil Douna menjelaskan dengan penuh semangat.

“OOo, begitu..” kataku sambil manggut-manggut.

“Ini adalah hari pertamaku di Surabaya dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku selesai” jelasnya tanpa aku tanya.

“Sebenarny tadi Dista juga mau dateng tetapi karena ada acara keluarga, mungkin besok baru bisa dateng” jelasnya kembali.

“Memang Mbak Douna nginap dimana?” tanyaku.

“Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E..” jelasnya.

“Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku menyelidik.

“Ya sendirilah, Daniel.. Makanya saat itu aku tanya Dista” kata Douna.

“Tanya apa?” tanyaku mengejar.

“Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di Surabaya” kata Douna.

“Dan dari situlah aku tahu nomor celluler kamu” lanjutnya.

Tanpa terasa jam tanganku menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mau tutup.

“Dan.. Kamu mau anter aku balik ke hotel?” tanya Douna.

“Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Douna sendirian balik ke hotel” kataku.

Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa.

Aku dan Douna bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Douna menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika aku berjalan di belakangnya.

“Silahkan duduk Dan, aku mau mandi dulu” kata Douna sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang.

Mataku menyelidik, apakah benar Douna sendirian dalam kamar. Dan memang benar kelihatannya dia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak hanya beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang. Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Douna, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang molek.

“Daniel, aku minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak bisa dibuang” kata Douna sambil tetap berdiri di muka pintu kamar mandi.

Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika aku melewati tubuh Douna, mataku yang nakal sedikit mencuri pandang di belahan dada Douna yang terkesan menyembul keluar karena terhimpit ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, aku segera menuju bathup yang dimaksud oleh Douna.

Aku menggunakan tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup bathup yang memang rapat sekali. Aku berusaha membuka secepatnya karena pikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan akhirnya”sswaasshh..” suara air langsung keluar ketika karet penutupnya sudah terlepas.

“Oke Doun.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya” kataku sambil masih membelakangi tubuh Douna yang sedang berdiri di belakangku. Ketika aku membalikkan badanku, betapa kagetnya aku dengan pemandangan di depan mataku. Tubuh Douna tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang melekat di tubuhnya tadi.

“Ma-Maaff.. Aku mau keluar Doun” kataku gugup.

Douna tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan memeluk tubuhku, dan merangkul leherku dengan erat.

“Dan, Dista sudah ceritakan kehebatan permainan sex kamu” aroma bau mulutnya yang segar, membuat jantungku semakin berdetak kencang.

“Mmm, anu Mbak.. Mungkin Dista terlalu berlebihan” kataku.

“Berikan aku kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil Douna langsung mendarat di bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku.

Lidahku yang sudah mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran lidah Douna. Tanganku yang tadi hanya berdiam diri, sekarang aku beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang montok mendesak dadaku yang bidang. Sesekali tanganku mulai semakin berani menjelajahi pinggul Douna, pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak 35 tahun. Aku meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu membuat nafsu Douna semakin naik.

Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang jenjang menjadi sasaran empuk bibirku yang mulai menari-nari di atasnya.

“Ooohh.. Daniel.. Geelli..” desah Douna.

Serangan bibirku semakin menjadi di leher Douna, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku.

Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku semakin terbawa dalam aliran birahi yang meledak-ledak, bibir Douna yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku.

Jari jemarinya yang lentik, sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang aku kenakan.

Disaat aku mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang semakin liar, sepertinya tidak ingin menyisakan sedikitpun dada bidangku.

Darahku mendesir hebat hingga membuat aku terangsang hebat, ketika lidahnya menari di puntingku. Daerah yang paling sensitif di tubuhku, yang bisa menggugah nafsu birahiku secara sepontan.

“Ohh.. Doun.. Aaakh” aku merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku.

Douna benar-benar sudah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa aku sadari ketika aku sudah merasakan kaki sudah dingin. Ternyata Douna sudah melepas jeans yang aku pakai sebelumnya, sehingga sekarang aku hanya menganakan celana dalam saja.

Cerita Bokep TerbaruCerita bokep, cerita bokep terbaru, cerita bokep 2016, cerita bokep terbaik, cerita bokep terbaru terbaik, ceita bokep 2016 terbaik, cerita bokep juli 2016,Cerita BOkep 2016

Lidahnya semakin lama semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua pantatku sehingga aku benar-benar terangsang hebat.

Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan mudah menarik CD ku dari belakang.

“Gila.. Pantes Dista puas, habis kemaluanmu gede seperti ini” kata Douna memuji.

Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu CD yang membatasinya akhirnya bisa lepas. Aku melihat kebawah dan melihat Douna yang sedang tertegun dengan besarnya kemaluanku. Kemaluanku berdiri tegak sekali dan sesaat kemudian.

“Mmm.. Srup.. Srupp” mulut Douna yang mungil mulai mengulum batang kemaluanku.

“Aakhh.. Doun.. Nikmmaat.. Sekkalii” rintihku.

Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Douna, utnuk memudahkan bergerak maju mundur dan ketika kemaluanku benar-benar terlean dalam mulut Douna, kenikmatan yang luar biasa aku rasakan ketika ujung kemaluanku menthok pada dasar mulut Douna.

“Sss.. Doouuunn.. Uhh” aku mendesah kenikamatan.

Douna tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, wanita itu denagn buasnya mengulum, menjilat, mengocok dan mengoral batang kemaluanku.

Sampai aku tidak kuat berdiri.

Setelah Douna puas dengan aksinya, Douna bangkit dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah selangkangan aku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga tubuh Douna terduduk di kloset. Aku langsung jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang kemaluannya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesir hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan bibir kemaluan.

Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati kemaluannya.

“Sss.. Danniell.. Nikmaat sekali.. Ughh” rintih Douna.

Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku di ujung clitorisnya. Gerak tubuh Douna yang terkadang berputa-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin berani menghujam lebih dalam ke lubang kemaluannya.

“Daniiieelll.. Gilaa banget lidah kamu..” rintih Douna.

“Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan..” pintanya.

Lidahku bergerak keluar masuk dalam lubang kemaluannya, sesekali aku memancing clitorisnya untuk segera keluar dari persembunyiiannya.

Paha Douna dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilat, mengulum, dan sesekali menghisap dalam-dalam clitorisnya. Aku perhatikan Douna merem melek menikmati nakalnya lidahku dan sesekali aku perhatikanl, wanita tersebut mengigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejolak di hatinya.

“OOhh.. Daniel, aku nggak tahan.. Ugh..” rintihnya.

Semakin Douna merintih, mendesah dan mengerang, semakin membuat nafsuku bergejolak. Sampai aku rasakan beberapa cairan yang terasa asin, dan aku semakin bernafsu untuk menjilatinya.

 

“Daniiieelll.. Daniiieelll.. Ooogghh..” Douna merintih panjang.

Dibarengi dengan tubuhnya yang kejang-kejang, dan terasa pahanya menggapit kepalaku dengan kencang. Jari nya yang lentik meremas rambutkuyang sedikti gondrong.

Douna terpejam sejenak menikmati lelehnya cairan yang meluber dari lubang kemaluannya, lidahku tiada henti menerima luapan cairan bening yang wangi tersbut. Seakan-akan aku tidak peduli dengan puncak kenikmatan yang didapat Douna pertama kalinya. Dan ketika aku rasakan cairan tersebut sudah bersih, aku membimbing tubuh Douna yang masih lemas. Aku mendekap tubuh Douna dari belakang, kami berdua menghadap cermin.

“Ohh.. Daniel..” Douna mendesah ketika lidahku mulai menyentuh bagian belakang telinganya. Tangannya menggapai leherku, dan tanganku sepontan meraih buah dadanya dari belakang. Dengan sentuhan yang sangat halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang. Jari telunjuk kananku bergerak menggesek clitoris Douna yang sduah mulai basah kemabli.

“Daniiieelll..” Douna kembali mendesah.

Peralahan aku mengangkat kaki kanan Douna dan aku sandarkan di wastafel kamar mandi. Sehingga Douna hanya berdiri dengan satu kaki saja, batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaan Douna dan sekali hentak.

“Bleesst..” kepala kemaluanku mengoyak kemaluan Douna.

“Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kamu” Douna merintih.

Perlahan aku beregark maju mundur di lubang kemaluan Douna, sampai akhirnya aku merasakan cairan yang cukup di lubang kemaluan Douna. Sekali tekan “bless” seluruh batang kemaluanku masuk dalam lubang senggama Douna dan bersama dengan itu, tubuh Douna sedikit terangkat.

“Hekk.. Daniiieelll.. Nikmatt sekalii.. Oooh” Douna merintih kembali.

Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Douna menggelinjang hebat dan sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa di batang kemaluanku.

“Daniiieelll.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh” pinta Douna.

Nampak jelas di cermin aku lihat wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang kemaluanku semakin menjadi. Aku merasakan sekali ujung kemaluanku bergerak masuk sampai di ujung kemaluan Douna.

Wanita tersebut menggoyang kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan kemaluanku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Kedua tanganku meremas kedua bukit kembar Douna dan sesekali membantu pinggul Douna utnuk berputar-putar.

“Daniiieelll.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh” tangan Douna bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke atas kebawah, kesmaping kiri kanan seperti orang yang lagi triping.

Beberapa saat kemudian Douna seperti orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Douna semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyak dinding kemaluan Douna.

“Daniiieelll.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti..” Douna meminta.

Permainanku tersebut benar-benar memancing birahi Douna untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Douna benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar hebat.

“Daniiieelll.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang” rintih Douna.

Gerakan kemaluanku seperti goyangan anisa bahar yang patah-patah, membuat birahi Douna semakin tak terkendali.

“Dann.. Niieell.. Aaammppunn” rintih Douna panjang.

Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan kemaluanku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit kemaluan Douna. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku.

“Creek.. Crek.. Crek..” suara kemaluanku masih bergerak keluar masuk di lubang kemaluan Douna. Aku semakin tidak peduli dengan Douna yang sudah mendapatkan kedua puncak kenikmatannya, karena aku sendiri lagi berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Perlahan, aku turunkan kaki kanan Douna yang pada posisi pertama aku naikkan ke atas wastafel.

Posisi Douna, sekarang sedikit menungging dengan posisi berdiri. Kemaluanku yang masih tertancap pada lubang kemaluannya langsung aku hujamkan kembali ke lubang kemaluan Douna.

“Ohh.. Danniell.. kamu.. memang.. ahli..” kata Douna sambil merintih.

Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Douna dan menekan tubuhnya supaya kemaluanku bisa lebih menusuk ke dalam lubang kemaluannya.

“Doun.. kemaluan kamu memang asyik banget” pujiku.

“Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?” tanyaku.

Douna hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan kemaluanku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijat oleh kemaluan Douna dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku benar-benar bisa diterima Douna karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku.

Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.

“Doun.. Aku mau.. Keluuar..” kataku mendesah.

“Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus..” Douna merintih.

“Danniell.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu..” pinta Douna.

“Iya Doun.. Ooogh.. Akakhh..” rintihku.

Gerakan maju mundur dibelakang tubuh Douna semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama.

“Daniiieelll.. Aku.. Aku.. Nggaak kkuaat.. Aaakhh” rintih Douna.

“Aku juga Doun.. Oohh.. Doouuunn” aku merintih.

“crut.. Crut.. Crut..” spermaku muncrat membanjiri kemaluan Douna.

Karena begitu banyaknya spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah kemaluan Douna. Setelah beberapa saat kemudian Douna membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku.

“Daniel ternyata Dista memang benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa” kata Douna merintih.

“Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja” kataku merendah.

“Kamu luar biasa..” Douna tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu.

Tanpa terasa kami berdua sudah naik di dalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air di pancuran shower membuat tubuh Douna yang molek seperti bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, aku menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya Douna. Aku mnggosok-gosokkan sabun ke seluruh tubuh Douna, sesekali jariku yang nakal memilin punting Douna.

“Ughh.. Daniiieelll..” Douna merintih dan bergetar saat aku permainkan puntingnya yang memerah.

Untuk yang kesekian kalinya, kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali Douna seorang wanita yang sedang butuh kehangatan mendapatkan puncak kenikmatan. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berdua memburu birahinya yang tidak pernah kenyang.

Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 wib, dimana aku harus segera balik kerumah karena celullerku berapa kali tadi berbunyi.

Aku meninggalkan Hotel E.. Sambil menikmati sisa-sisa kenimatan yang sudah di tinggalkan oleh permainan tadi.

 

*****

Cerita bokep, cerita bokep terbaru, cerita bokep 2016, cerita bokep terbaik, cerita bokep terbaru terbaik, ceita bokep 2016 terbaik, cerita bokep juli 2016,

E N D

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.