Cerita Sex cerita ngentot Cerita Dewasa thor hammer Cerita Sex cerita dewasa terbaru
Cerita Bokep, Cerita Bokep Terbaru
Breaking News
cerita dewasa Cerita Mesum Cerita Mesum Cerita Dewasa Cerita Sex

Memori Dan Fakta

Cerita Ngentot

Entah suamiku itu tahu atau tidak, karena sejak kami membina hubungan sebatas teman tetapi layaknya orang yang berpacaran, aku sering kali tertangkap basah sedang melamun sambil memegangi kalung tersebut, bahkan hingga saat ini dan aku simpulkan bahwa Suamiku tahu itu tetapi tidak menanyakan lebih lanjut untuk membahasnya, karena dia juga pernah bilang, sebuah kenangan bisa terlahir dari kejadian yang menyakitkan, dan tidak usah dihapuskan, karena hal itu pastilah indah, hanya pemilik kenanganlah yang merasakan keindahannya, dan dia sangat berhak untuk menikmatinya, tetapi yang tak kalah penting bahwa, kita jangan terlarut terus di dalamnya, jalanilah kehidupan ini dengan penuh resiko dan tanggung jawab sebagaimana mestinya. Begitulah nasihatnya padaku, dan kata-kata itu seringkali dia lontarkan, setelah itu juga aku akan merengut manja dan memeluk sayang ke dadanya yang bidang. Diapun pasti membalas pelukan sambil mengecup Cinta di sekitar kening dengan penuh kasih sayang.

“Cekreett !!”

Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, dimana seseorang berwajah tampan tersenyum dibaliknya, suamiku…Bang Fakhrudin !!

“Halo cantik…Istriku sayang…sudah siap ?? aku, mamah dan yang lain tinggal nungguin kamu loh..”kata suamiku tersenyum hangat.

“Iya Sayang…bentar lagi yah…tinggal pake sepatu kok”kataku tersenyum manis, masih memegangi kalung tersebut, dia melihat tanganku yang menjawabnya sambil memegang kalung itu, dan memperlihatkan mimic wajah “Gotcha…!! Busted deh gw…^ ^”, akupun langsung reflex melepas peganganku pada kalung itu dan langsung menyengir tanda tak enak seolah-olah meminta maaf.

“Ya sudah…jangan lama-lama ya kalo ngelamun hehehe”tawanya meledek, Aku hanya menjulurkan lidah sedikit karena malu tertangkap basah olehnya.

“Iya Sayang…maaf yah…”balasku dengan pipi merona karena malu.

Setelah pintu tertutup, aku kembali merias diri dengan cepat, akhirnya selesai dan turun menuju ruang makan. Menyantap makan malam bersama suami beserta segenap famili.

Aku sesekali menyuapi suami tercinta dan langsung banyak kata-kata godaan dari orang sekitar mengenai pengantin baru dsbnya, terutama dari adik wanitanya Bang Fakhrudin, sebagai pasangan baru tentu kami begitu hangat dan mesra, Ibu mertuaku juga sudah memaaafkan aku, dia sudah mengerti bahwa siapa sesungguhnya yang menjadi korban.

“Gimana sayang…enak ‘gak ayam kremesnya..??” tanya Bang Fakhrudin sambil menyeka sisa-sisa makanan di sekitar mulutku dengan selembar tissue.

“Hhmm…enak..enak banget…apalagi kalo desert-nya ciuman kamu” kataku dengan mengecup tangannya merespon kasih sayangnya.

Bang Fakhrudin mengecup kening-ku dan semua tersenyum karena melihat kami berdua begitu mesra. Setelah selesai makan malam kami berpamitan hendak kembali ke kamar, kebetulan beberapa teman Bang Fakhrudin juga ikut dalam perayaan besar-besaran ini, tapi teman-temanku tidak, teman-teman Bang Fakhrudin lebih dekat dengan keluarga Bang Fakhrudin karena sering menginap bermain gitar Akustik di rumahnya.

“Fakh…Istri sih istri…tapi inget anak orang jangan kasar-kasar hehehe..”ledek Didi salah satu teman Bang Fakhrudin.

“Hehehe sialan luh…”jawab Bang Fakhrudin sambil menyikut perut temannya itu.

Mendengar suamiku diledek teman-temannya, aku langsung menggelayut manja pada lengan Bang Fakhrudin yang macho itu karena dia seorang pecinta Karate, untuk membuat teman-temannya iri padanya. Setelah itu kami berlalu meninggalkan mereka, di depan tangga Bang Fakhrudin tiba-tiba mengangkat tubuhku yang mungil jika dibandingkan dengan tubuhnya itu, pria normal pun kecil jika disejajarkan dengan dia, aku hanya menjerit kecil sambil memukul manja dadanya dan kuakhiri dengan tersenyum semanis mungkin, kedua tanganku bergelayut ke lehernya, menandakan sebuah kepasrahan dari seorang wanita pada lelakinya, betina ke pejantannya, istri terhadap suaminya.

Menuju ke pintu kami beradu mulut dengan mesra, sampailah kami di depan pintu, aku bertugas membuka pintu yang masih terkunci itu, tiba-tiba,

“Aaawh…iih Abang Iiiihh…Haawh”kataku manja karena dia sengaja menurunkan tubuh pada bagian leher seakan-akan menginginkan aku jatuh, walaupun aku tahu bahwa itu tak mungkin. Dia hanya tertawa senang karena berhasil meledekku.

Kami masuk ke kamar untuk melakukan ritual malam pertama, Bang Fakhrudin menaruhku di sisi ranjang, setelah itu dia berlutut di depanku dan mengambil sesuatu dari kantong jas hitamnya, yang berupa kotak perhiasan, bentuknya panjang dan sebagai wanita aku tahu bahwa itu adalah sebuah kalung. Aku terima pemberiannya dan kubuka, ternyata betul sebuah kalung, jauh lebih indah dari yang kukenakan saat ini, dan pasti jauh lebih mahal karena memang Bang Fakhrudin seorang eksekutif muda yang sukses, manager keuangan muda, tampaknya secara tak langsung dia ingin aku untuk melupakan semua kenangan, melepas dan menggantinya dengan sebuah lembaran yang baru, lembaran kehidupan yang putih bersih, dimana pada sampulnya tertulis namaku dan namanya. Itu harus dipaksakan, sebagaimana jika kita ingin mengajari anak, jika tidak bisa dengan cara halus, maka harus dengan cara kasar untuk mencambuknya, karena hidup memang keras, dan semua itu bertujuan untuk kebaikannya kelak.

Begitu juga saat ini, maka aku yang langsung mengerti bergerak mencopot kalung lamaku, kalung yang diberikan oleh Mas SuDarminto…yah, itulah namanya, kekasih masa SMU-ku, cinta pertamaku, lelaki yang pertama kali melindungiku bahkan mempertaruhkan nyawanya untukku. Aku menaruh kalung itu di meja, Bang Fakhrudin dengan gentle memakaikan kalungnya ke leher jenjangku yang berkulit putih dan mengakhiri dengan mengecup leherku penuh cinta, aku sangat menyukai pemberian Bang Fakhrudin suamiku, tetapi kalau boleh jujur saat itu aku masih tak rela melepas kalung Mas Darminto, walaupun aku juga tak menolak pemberian kalung dari suamiku tercinta, hanya saja aku belum siap untuk betul-betul melupakan semua.

“Naaahh…kan kamu lebih cantik sayang !!”godanya,

Aku hanya menggigit bibir bawah dan tersenyum semanis mungkin ke arahnya, senang akan pemberian sang Suami, aku mengecup kening Suamiku, aku ingin dia tidak merasa resah dan khawatir bahwa aku masih mencintai lelaki lain dan kurang mencintainya, itu salah. Aku hanya belum siap untuk memilih antara kenangan dan kenyataan. Kami bergenggaman tangan, aku memajukan bibir menantang, dan kami pun berpagutan dengan panas, saling menelanjangi satu sama lain, ranjang pun bergoyang bagai ombak di lautan yang diterpa badai, suara kami bergemuruh menambah ramainya kamar pengantin bertebar bunga itu, Aku beruntung sekali mendapatkannya…Bang Fakhrudin seorang perjaka!! Pria yang selalu mengenakan jas layaknya eksekutif, tampan, kaya raya, pekerja mapan, baik hati, lemah lembut tutur katanya dan selalu mengalah padaku yang egois ini ternyata seorang perjaka, sebuah keberuntungan cinta yang luar biasa!! Aku yang malah merasa tidak enak terhadapnya, aku merasa tidak pantas untuknya, pria sepertinya pantas mendapatkan seorang perawan tulen yang cantik dan tak kalah mapan, baik itu harta maupun jabatan, tetapi itulah suatu bentuk keadilan Tuhan, ketetapannya tidak pernah kita ketahui sebagai manusia, aku hanya bisa bersyukur. Tidak ada tes memang untuk keperjakaan itu, tetapi aku tahu dari gerakan sex-nya yang sangat kaku, justru aku yang mengatur tempo, dia hanya tinggal menyerang secara alami dan diapun lama kelamaan terbiasa. Tetapi kuputuskan memakai gaya konvensional saja, agar prosesi persetubuhan kami lebih mudah, kuselipkan sebuah bantal di pantatku dan diapun langsung pintar menyambutnya. Malam pertamaku bersama Bang Fakhrudin sangatlah terasa singkat, tak terasa waktu telah menginjak tengah malam, dimana matahari malam tersenyum bulat lebar.

Aku terbangun di saat malam hendak meninggalkan gelapnya menuju cerahnya sinar pagi, mendekati waktu subuh, aku menatap sesaat ke arah Bang Fakhrudin yang tampak masih kelelahan, walaupun dia seorang pemula dalam hal sex, tetapi tenaganya sangat bisa menguras tenagaku dari bertahan, bahkan mampu membuatku orgasme beberapa kali, mungkin dikarenakan badannya yang tegap, jantan dan suka berolah raga kasar itu. Aku membelai sayang rambutnya, hingga pandanganku tertuju pada suatu benda di atas meja, yang tadi kutaruh saat memakai pemberian Bang Fakhrudin, kalung Mas Darminto!! Aku mengambil kalung itu dan menggenggamnya, aku melihat kembali suamiku dan akan kuputuskan sesuatu hal yang seharusnya kuputuskan dari dulu disaat aku mengenal Bang Fakhrudin, yaitu meninggalkan pahitnya sebuah KENANGAN.

Kuambil kimono putih hotel dan berjalan keluar, beberapa teman Bang Fakhrudin ternyata bergadang, mereka menyapa dan sempat meledek menggodaku mengenai asiknya malam pertama kami, aku hanya tertawa dan melayani obrolan mereka dengan singkat. Akhirnya aku berhasil keluar menuju sisi pantai, mereka sempat menanyakan aku mau kemana namun aku hanya menjawab ada perlu sedikit di lobby hotel. Aku berdiri di sebuah tembikar, menatap kosong ke gumpalan buih dilautan, aku kembali teringat seluruh kisah hidupku yang penuh lika-liku, pelik namun banyak sekali hal yang bisa dipetik. Semua hal itu yang dinamakan bumbu kehidupan, pengalaman yang bisa diajarkan kelak ke anak cucu kita sekalian, dimana isinya Suka Duka Benci Cinta Dendam Rindu Pahit Manis Hitam Putih dsb. Kalung itu kupandang di genggaman tangan kananku, Akupun melamun teringat semua kenangan, saat itu….Dimulai saat aku masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

# Started with a Broken Heart,

“Tik…cowo lu Tik…kesini lu…dari tadi gua udah curiga !!”kata Murti sahabatku,

“Ada apaan sih…ngagetin aja..gua lagi baca !!”kataku protes, Karena sedang bersiap-siap untuk ulangan mendadak.

“Sini ah…!!”katanya menarik lenganku paksa,

Akupun mengikuti ajakan sahabatku itu, menuju kantin terus berjalan ke belakang, di sana

 

ada sebuah ruangan kecil untuk menaruh obat-obatan yang dipakai ekskul palang merah, karena sedikit sekali peminat ekskulnya ruangan itu menjadi kosong, sebenarnya hanya bisa dikatakan gudang. Salah seorang sahabatku yang lain, sudah berada di depan pintu ruangan itu yang sedikit terbuka, gadis itu bernama Joana, mulutnya meruncing sambil menunjuk-nunjuk ke arah ruangan itu, semakin kuayunkan langkah kakiku dan semakin dekat ke ruangan itu, jantungku semakin berdegup cepat, Deg…!! Aku melihat seorang pria berpakaian basket sedang mencium seorang gadis, yang kutahu mereka adalah Ebrin pacarku dan Tika adik kelas, teman-temanku akhir-akhir ini sudah sering memberi peringatan atas kelakuan Ebrin, hanya saja saat itu aku belum melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, bukan aku tak percaya oleh para sahabatku.

“Eh Gila…!!”kataku dengan nada galak dan to the point.

Sontak mereka berdua kaget mendengar suaraku, tambah lagi bukan hanya ada aku,

(Damn…ketahuan gw) dari mimik wajah Ebrin. Wajah Tika ketakutan melihat wajah marah kakak-kakak kelasnya yang terkenal sangar itu ke arahnya, dia berani menyambut ajakan Ebrin karena memang Ebrin salah seorang siswa yang berprestasi dalam basket, kakak kelas tampan pujaan wanita saat itu.

Sebagai gadis yang pada dasarnya feminim, Aku tak lama menatap marah pada mereka, aku langsung lari menuju kelas diikuti para sahabat-sahabatku yang tahu bahwa aku akan menumpahkan air mata kekecewaan Cinta, kecewa sekali aku pada Ebrin mantan pacarku, kesucianku kuserahkan padanya, memang itu kesalahan gadis remaja masa kini, tetapi sebagai wanita aku selalu bermimpi dia akan selalu setia padaku selama-lamanya, buaya itu malah mencampakkanku mentah-mentah, dan dalam waktu yang singkat. Teman-temanku mencoba menenangkanku karena bel istirahat hendak berbunyi,

Betul saja, Teng !! Teng !! Teng !! Bel pun berdentang. Aku mencoba menghapus semua cairan yang membasahi sekujur wajahku, karena bukan hanya ada lelehan air mata yang mengalir. Teman-temanku juga berebutan memberikan aku tissue dan sejenisnya, Guru sempat menanyakan karena wajahku Jukik belur, aku hanya bisa berdalih tidak sehat, dan saat itu juga aku diijinkan pulang sekolah, syukurlah karena saat itu ingin ulangan, bisa-bisa jeblok nilaiku gara-gara hal yang tak bisa diputar balik. Menurut khabar, para sahabatku mendatangi kelas Tika saat pulang sekolah, menerornya habis-habisan hingga dia juga menangis, sejak itu pula tidak ada yang berani memacari Ebrin mantanku, dia mencari gadis lain di luar sekolah.Gairah Sex

********************************

# Ended to be a broken bitches,

Sejak saat itu aku berubah, di antara kedua sahabatku ini yang paling badung sebenarnya Joana, kami bertiga bertemu saat kelas 1 dan terus menjadi sahabat hingga kelas 3, bukan karena wajah kami bertiga blasteran, kami hanya nyambung dan cocok saja saat bercanda ria. Joana sudah merokok saat itu, kami berdua hanya meledek dengan batuk-batuk jika si Joana baru saja mengambil Zippo dari tasnya, dan dia hanya protes,

“Belum juga dinyalain..!!”omelnya pada kami sambil tersenyum, tahu bahwa sahabatnya sedang meledeknya karena tidak suka dengan asap rokoknya, setelah itu dia tetap akan menyalakan, menghisap dan menghembuskannya sengaja ke arah aku dan Murti.

Kejadian itu merubah perangaiku, aku juga ikut merokok bahkan Murti pun juga, karena merasa se-geng otomatis pergaulan menyeretnya. Bahkan yang tadinya aku ini dikenal dikelas dengan siswi berprestasi, dengan berlalunya waktu merasakan patah hati semua itu luntur. Ibuku sempat memarahi perubahan itu, dia mengomel-omel dengan keluhan mencari uang susah, uang bayaran sekolah sekarang mahal, dsb. Saat itu aku belum tahu bagaimana perjuangan keras orang tuaku dalam menghidupi kami, yang hutang sana hutang sini untuk mencari sesuap nasi dan uang sekolahku, pada saat itu persis setahun setelah krisis moneter pertama sekitar tahun ‘98, dimana banyak Perusahaan besar yang bangkrut, PHK dimana-mana, hingga usaha kecil seperti papa-ku pun gulung tikar. Aku malah berpaling dan mementingkan hal yang sama sekali tidak perlu. Aku berbincang sambil menghisap rokok bersama kedua sahabatku di bagian belakang sekolah,

“Nov..lu ga bisa lah begini terus…mending lu luapin aja ke suatu hal”kata Joana.

“Suatu hal gimana Huff…”jawabku sambil meniupkan asap rokok hingga mengepul.

“Ya kaya gua aja hehehe jadi lega loh…”saran Joana.

“Gila lu Jo…”kata Murti yang tahu maksudnya,.

Joana pernah mengalami masa patah hati sepertiku saat ini sekitar 2 tahun yang lalu, saat ini kami kelas 3 SMU, dia lebih dulu mengalami hal ini, dan waktu itu kami berdua yang menghiburnya, hal yang serupa juga dialami Murti setahun setelahnya. Mereka berdua meluapkan masalah mereka pada sex bebas, Joana saat itu menghampiri Pak Marjuki satpam sekolah dan bercinta habis-habisan, satpam sekolah itu tentu ho-oh saja diajak bugil dan fly to the sky oleh gadis SMP blasteran macam Joana yang cantik Indo, dan sejak saat itu pula hingga kini mereka masih sering melakukan hal itu kapanpun dan dimanapun.

Begitu pula Murti dengan Pak Slamet tukang sapu sekolah kami yang juga mengurusi kebun, tidak jarang aku atau Joana menangkap basahnya sedang meng-oral Pak Slamet, tukang kebun itu sangat menyukai sekali dengan keahlian Murti yang satu itu, short time sex mereka pasti hal ini. Murti memang terkenal dengan wajah manis dan bibir tipis seksinya yang seringkali dihiasi lipgloss pink, sebab itulah Pak Slamet seringkali sange berat dengan sepongan mulut ajaib Murti. Tadinya Murti yang dengan nakal menggoda Pak Slamet, tetapi sekarang malah jadi dia yang sering diseret Pak Slamet untuk menghisap kejantanannya hingga disuruh menelan spermanya, agar beliau terasa lebih muda dan gagah katanya berdalih mesum.

“Hhmmh…boleh juga tuh Jo..bener juga sih Ti”kataku pada Murti,

yang sebenarnya tidak ingin kalau aku mengikuti jejak pelacur mereka, karena dari awal memang mereka berdualah yang nakal, meskipun harus kuakui juga bahwa aku bukanlah wanita yang lurus karena juga sudah melakukan sex di masa belia, hanya saja belum seliar yang dilakukan kedua sahabatku itu.

“Seru kalee…!!”tambah Joana.

“Iya tapi sama siapa yah…??”tanyaku pada mereka.

“Hhmm itutuh…nganggur Bandot !!”sahut Joana menunjuk ke arah Mang Roudeng.

Pria berumur 50-an, hitam legam, berkumis tipis, badan sedang dalam artian tidak gendut seperti Pak Slamet gaco’an Murti, tetapi juga tidak segagah Pak Marjuki satpam gebetan Joana itu. Pak Slamet berumur 45-an sementara Pak Marjuki atau Juki berumur 40-an. Joana blasteran U.K England, ayahnya yang sering pulang pergi itu jarang mengawasi anak gadisnya, sementara ibunya sibuk arisan dan suka main gigolo, bisa dibilang Joana gadis broken home, kedua orang tuanya sudah jarang berbicara walaupun bergelimangan harta benda, itulah yang membuatnya menjadi gadis nakal, sedangkan Murti blasteran Kanada, orang tuanya tak jauh beda dengan Joana, hanya saja ayah Murti tidak sering pulang pergi, tetapi seringkali ribut dan bertengkar dari sebuah hal yang tidak perlu, jika aku dan Joana main ke rumahnya, pasti hal ini kami temui. Keadaan kami hampir sama.

Sedangkan aku yang bernama Tika Andhiny seorang gadis pribumi, ibuku asli Bogor, setelah dinikahi ayahku yang asli Jakarta, mereka pindah dan menetap di Jakarta ini, dari darah ibukulah yang membuat aku memiliki kulit putih, jadi kami adalah 3 gadis berkulit putih, walaupun kulit putih kami bertiga memiliki tipe yang berbeda, kalau aku putih Asia, Joana putih khas Eropa dan Murti putih khas Amerika. Mang Roudeng tersenyum saja melihat kami bertiga melempar pandangan ke arahnya, dia sedang memegang tempat sampah untuk memenuhi pekerjaannya sebagai pembersih WC dan tukang sampah.

“Eh eh…taruhan yuk..siapa yang bisa bikin si Roudeng itu paling sange..dia pantes ditraktir dinner sama clubbing !!”kata Joana jalang.

“Ok…siapa takut…tapi ntar kalo dia udah sange gimana??”tanya Murti.

“Yee kan tanggungan si Tika dong…kan emang Roudeng buat Tika…kitakan udah ada!!” jawab Joana.

“Iya Nov ya…Deal nih ?!”tanya Murti tegas.

“Oke…siapa takut !!”jawabku yang ingin segera menghilangkan stress karena cinta itu.

Joana yang paling jalang diantara kami itu langsung mulai menggoda Mamang dengan menumpukkan kedua kaki jenjangnya seperti para pelacur yang hendak menawarkan diri, rok biru SMP-nya yang pendek itu menambah pemandangan paha Joana, beruntungnya Mang Roudeng, kali ini para pelacurnya tidak menuntut sesenpun darinya, hanya berniat mengosongkan kantung spermanya yang geleber-geleber karena berumur itu. Mang Roudeng langsung menelan ludah melihat betis Joana yang mulus itu, Roudeng Jr. yang berada di selangkangan Mang Roudeng langsung bangun tanpa weker, celana Mang Roudeng menonjol dibagian itu, kami sebenarnya geli sekali membuatnya mupeng seperti itu, tapi mengasyikan kadang berbuat jalang seperti ini, melupakan sejenak masalah hidup.

Murti yang tak mau kalah, berpura-pura menggaruk-garuk pahanya,

“Aduuh..kok gatel sih…” katanya sambil menahan tawa melihat Mang Roudeng mulai ngos-ngosan nepsong berat.

“Sruukk..!!,” tiba-tiba Murti gadis manis hypersex itu menarik ke atas rok pendek di atas lututnya hingga terlihat dua buah batang paha putih mulus milik gadis remaja, dan celana dalam yang berwarna hitam tipis menerawang tanda wanita sedang horny berat.

“Edededeh…”kata Mang Roudeng langsung melepas satu tangan berpegangan pada tiang di situ agar tidak jatuh, tangan satunya masih memegangi tempat sampah.

Murti belaga blo’on menggaruk-garuk paha putihnya itu, seolah-olah tidak ada orang, si Joana dan aku hanya kembali menahan tawa.

(Wah giliran gue nih…gimana yah??)”pikirku dalam hati,

“Eleh eleh…lo juga gatel Ti ?kataku sengaja mengeraskan suara.

“Iya nih..”sahut Murti juga keras, masih sambil menggaruk kedua paha putihnya.Gairah Sex

“Kalo gua disini…”kataku, membalikkan badan, menungging dan menarik rokku ke atas, sambil berpura-pura menggaruk pantatku yang putih padat itu, Gumprang !!

“Adaawh…!!”teriak Mang Roudeng, karena kakinya kejatuhan tempat sampah dari besi itu dan berputar-putar memegangi sebelah kakinya yang kesakitan, sampah pun langsung berserakan. Pegangannya pada tempat sampah langsung lepas karena lemas melihat aku menungging dan membuka rok untuk memamerkan body yang kupunya.

“Ha ha ha ha…”tawa kami bertiga penuh kegelian.

Kami langsung toss five menandakan kekompakkan kejalangan kami, sukses besar yang membuat mupeng makhluk yang dinamakan pria.

Mang Roudeng langsung jatuh kelelahan karena terus berjingkrakan, aku kasihan juga pada dia dan langsung mendekatinya, kedua sahabatku malah meledekiku,

“Cie ileh…yang pedekate hahahaha”tawa Joana meledek, dan Murti juga menyambutnya dengan tawa manisnya.

Aku hanya berbalik ke arah mereka sambil merengut tersenyum kecil,

“Aduh Mang maaf yah…sakit gak ??”tanyaku berjongkok di dekat kakinya,

Sehingga rok-ku tersingkap dan otomatis paha putihku langsung dipelototinya.

“Aduuuhh…Neng Tika dehh…kalo becanda jangan keterlaluan dongh !”katanya sambil melirik ke dalam rok-ku, melihat celana dalam hitam super tipisku.

Dia protes tapi tidak menunjukkan kemarahannya, mungkin karena dikasih pemandangan gratis yang membuat Roudeng Jr. berdiri tegak siap lari marathon itu.

“Iya Mang maafin kita yah…”kataku memohon sambil memijiti kakinya yang tertimpa tempat sampah itu. Dia menelan ludah menikmati pijitan tangan putih halusku.

“Ya udah..tapi Mamang nanya…buat apaan sih pada kaya gitu…bikin nanggung …sabun Mamang pan abis !!”katanya protes, dikiranya kami hanya ingin membuatnya onani saja.

“Hhmmm…ok deh…kalo Mamang pengen tahu…”kataku mengerlingkan mata genit.

“Jo…Ti…sini lu…!!”panggilku pada mereka.

Sahabatku itu berjalan dengan nakalnya mendekati kami, melenggak-lenggokkan pantat bagaikan seorang pelacur high class.

“Apaan Nov…kan ini jatah lu..!!”kata Joana meledek.

“Begituannya iya ntar gue sendiri…tapi Mamang pengen kita bertiga minta maaf bukan gue sendiri”kataku.

“Ooohh…ok deh kalo gitu”jawab Joana mengerti langsung berjongkok disampingku.

“Mang bangun Mang..!”perintah Joana galak.

“Hah…ma..mau pada ngapain Neng ?”tanya Mamang bingung-bingung tapi horny,

Pikirannya pasti ngeres melihat kami berdua jongkok dihadapannya, dua gadis blasteran yang terkenal cantik dan seksi berlutut di hadapannya belum ditambah Murti, walaupun dia belum tahu akan di eksekusi dengan kenikmatan seperti apa oleh kami.

kisah bokep 2016, kisah bokep terbaru, kisah bokep, kisah ngentot 2016, kisah ngentot terbaru, kisah ngentot,

“Udah ah…diri cepet…mau dikasih enak gak lu…?!”sahut Joana galak-galak nafsuin.

Membuat Mang Roudeng dikirimkan CD demo berjudul “Mari Bercinta” oleh Roudeng Jr. di selangkangan karena nepsong abis, hingga membuat antrian panjang berjuta-juta sperma di penisnya yang sudah mengambil nomor urut seperti antri beras saja.

Mamang berdiri disusul Murti berjongkok, kini aku ditengah, disebelah kiri Joana dan di sebelah kanan Murti, tonjolan Mang Roudeng tepat dihadapanku, tanganku membuka kait celana lusuhnya, setelah terlihat reseletingnya, dengan bitchy kugigit reseleting itu dan menariknya turun, kreeett !!

Jdugg…!! “Mmph…!!” penis Mang Roudeng yang sudah mengeras itu langsung keluar sangkar ingin berkenalan dengan alam barunya dan menampar wajahku. Sontak aku kaget dan menjerit kecil tetapi teredam karena masih menggigit reseleting celananya yang membuat si Joana dan Murti tertawa, aku langsung mencubit pantat kedua sahabatku itu karena malu, meraka hanya mengaduh. Aku menarik wajah kedua sahabatku melalui jambakan lembut pada rambut mereka, aku menarik lebih turun celana Mang Roudeng beserta celana dalamnya yang bermerk “Hings”, Murti yang menggemari oral sex itu, mendahului kami dengan meraih penis Mamang untuk mengocoknya, Joana berinisiatif menggelitik buah zakar Mamang, aku memuntir kepala penisnya sambil memijit-mijitnya dengan jari jempol dan telunjukku.

Lengkaplah sudah, Mang Roudeng bagaikan raja minyak yang sedang dilayani para selir-selirnya, Joana kadang-kadang meminta bagian untuk mengocok-ngocok batang Mamang dengan gencar, Mang Roudeng blingsatan dengan kocokan Joana yang tak kalah ahli pada Murti, malah Joana terkesan menunjukkan keahliannya. Kami bertiga memulai dengan menjilatinya dari buah zakar, pangkal hingga kepala penis, lidah kami bertiga menjilati masing-masing area, Mang Roudeng yang mendongak keenakan sesekali menatap kebawah melihat kenakalan remaja SMP masa kini, dia memandangi wajah kami satu persatu. Kami membalas tatapannya dengan mengerlingkan mata genit, dia hanya menelan ludah dan kami spontan tertawa kecil sambil terus menjilat, bahkan ditatap Mang Roudeng, Joana langsung menjilat lidah Murti diseberangnya, bertukar ludah bahkan mencucup pangkal penis Mamang kiri dan kanan berbarengan sambil menatap nakal ke arah Mang Roudeng.

Sementara aku tetap focus mengemut dan menghisap kepala penisnya,

“Sruuph…!” Hisapku kuat-kuat pada kepala penis hitamnya yang lonjong,

“Oookhh…”lenguh Mang Roudeng keras,

Kepalanya mendongak keatas, penisnya mengacung tinggi dan tubuhnya bergetar nikmat.

Kami bertiga memundurkan kepala berbarengan, lalu meludahi penisnya, Cuuh…!!

Dengan horny kami bergantian mengocoknya, Mang Roudeng menjulurkan lidah keenakan dan penis itu kutangkap dengan mulutku, kini batang itu kukuasai sendiri, aku memaju mundurkan mulut sambil mengocok-ngocok memutar pada pangkal batangnya seperti pemain blue film saja, lalu penis yang masih dimulut itu kuoper ke mulut Murti yang langsung disambutnya dengan mulut terbuka, lalu dia oper lagi ke aku dan kuoper ke Joana, terus begitu, dan terakhir karena mendengar lenguhan Mang Roudeng yang sudah berat, tanda spermanya sudah antri di kepala penisnya, aku kuasai sendirian, kedua sahabatku hanya menjulurkan lidah untuk membantunya membangkitkan gairah nafsu Mamang dengan mendesah seksi bersamaan dan memusiki kocokan tanganku pada penisnya, aku juga menjulurkan lidah di depan Mang Roudeng siap dicumshot (semprot sperma) di wajahku bersama kedua sahabat cantik-ku.

Mang Roudeng ingin mengambil alih penisnya dengan mengocoknya sendiri, tetapi Joana dan Murti tampak tidak mengizinkan, bagaimanapun ini hukuman berupa kenikmatan, si Joana memegangi tangan kanan Mamang dengan tangan kirinya, dan Murti sebaliknya. Beberapa detik kemudian, ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilati penisnya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, mulut hitam Mamang menceracau keenakan,

“Eeengghh..Nengh…bapakh..keluaaarhh..!!”

“Leeehh….”dengan Horny kami bertiga menjulurkan lidah sambil mendesah nikmat dan,

CROOOTTT…!! JRUOOTT !! BLAARR !! CROTT !! Cairan putih kental dan berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami dalam kocokanku, baju sekolah kami juga otomatis kecipratan.

Kami mendesah seksi dan mengerang mengiringi erangan nikmat Mamang di setiap semburan spermanya, seakan-akan kami juga merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh Mamang saat itu, penisnya kupompa dengan meremasnya kencang dalam genggamanku agar semua tabungan spermanya kosong, bahkan Joana dan Murti juga ikut-ikutan mengocok penis Mamang. Joana malah memencet gemas kepala penis yang sedang sensitif-sensitifnya memuncrati sperma itu. Mang Roudeng nampak mendesah-desah keenakan dan kelabakan. Setelah tidak ada yang keluar lagi, kami saling menjilati sperma yang membanjiri wajah, beradegan lesbian dengan beradu mulut panas, Mang Roudeng yang masih kelelahan hanya menatap kami kembali bergairah, tangan kananku masih mengocok-ngocok kecil pada batang penisnya yang semakin layu itu.

“Weleh weleh…ngentot ga ngajak-ngajak lo Deng”kata pria bertubuh gempal, yang tidak lain adalah Pak Slamet.

“Wah…Non Joana kemana aja…Bapak cariin dari tadi juga”kata pria berpakaian satpam, yang tak lain adalah Juki atau Pak Marjuki.

“Pintu gerbang udah lo kunci Ki..??”tanya Pak Slamet pada Pak Marjuki, agar situasi aman dalam sekolah.

“Udah ko…bisa pesta kita..wah nambah pasangan nih Met..!!”sahut Juki.

“Iya gapapa…kecuali kalo nambah Roudeng doang…rugi atuh hehehe !!”kata Pak Slamet.

Mereka berdua menghampiri kami, Pak Slamet masih memegang sapu lidi di tangannya, dia sehabis menyapu di pekarangan depan karena kami saat itu berada di belakang dekat kantin sekolah,

“Eh…elu pade…gua juga baru mulai nih…!!”sahut Mang Roudeng.

Pak Juki dan Pak Slamet yang telah terbiasa melakukan hal ini pada kedua sahabatku itu, langsung menurunkan celananya untuk memulai sex party dengan oral,

“Ba…gua pinjem mulut lonte lu ya…?” kata Pak Slamet kurang ajar, mengacungkan penis pada Joana.

Murti

“Ooohh…sama-sama dah yak!!” sahut Juki yang juga mengacungkan penis pada Murti.

Teman-temanku yang cantik namun hypersex itu, sudah biasa di lecehkan seperti itu, dan langsung menyambut dengan oral sex pada pria buruk muka di depannya.

“Weleh…Neng Joana lonte lu Ba…?? sialan lu ga pernah ngajak-ngajak pada..!!”protes si Roudeng.

“Hehehe sorry Bos…masalah laen bagi-bagi…masalah duit sama meki…nehi !!”jawab si gendut Slamet.

Sambil di oral oleh Joana, Pak Slamet membuka kancing baju sekolahnya dari atas hingga bawah dan memelorotkannya lewat atas, sehingga tubuh Joana yang seksi itu menjadi bahan bakar bagi nafsu birahi Mang Roudeng yang baru pertama kali mengalami sex secara beramai-ramai ini. Begitu juga Murti yang sedang di oral dan kemudian ditelanjangi Pak Juki. Mang Roudeng kemudian melihat ke arahku, saking nafsunya, dia melepas celana dan baju yang ia kenakan di depan kami semua, Pak Slamet dan Pak Juki hanya tertawa maklum. Mang Roudeng menaruh pakaiannya sembarangan di tempat biasanya anak-anak sekolah menongkrong dan bergosip setelah makan di kantin. Sambil bugil dia langsung menyeretku ke arah sebuah kelas yang tidak jauh dari situ dan tentunya sudah kosong, dia menuntunku dari belakang, sambil berjalan dia menyingkap rok-ku dari belakang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tangan hitamnya itu langsung jahil menggerayangi paha belakang dan meremas pantatku, Cuuph…!!, Sesekali tukang sampah sekolahku itu menciumnya, hingga membuatku terangsang juga dan bersedia untuk digarap sepuas-puasnya. Sesampai di kelas, aku menuju meja belajar terdekat dan menelungkup, menunggingkan pantatku tinggi-tinggi dengan seksi untuk memancing kembali birahinya yang tadi sudah tersalur melalui ejakulasinya yang pertama, Mang Roudeng menyingkap naik rok-ku hingga keatas pinggang, dia melepitnya agar tidak turun saat aku tersodok-sodok, dan langsung menarik lepas celana dalamku, tukang sampah sekolahku itu meremas dan mengecup gemas pantatku memberi peringatan berupa rangsangan.

Celana dalamku direngkuhnya, Mang Roudeng mencium bagian dalam celana dalamku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir kemaluanku akibat horny. Aku semakin terangsang dengan tingkah udiknya itu, aku dan Mang Roudeng sama-sama baru pertama kali mengalami sex liar ini,

“Wangi banget Neng Tika…enyak !! baru lendirnya aja udah enak, apalagi memeknya” puji si buaya berumur itu. Dia memakai celana dalamku di kepalanya sebagai topi.

(Oh Yess…!!) kagumku padanya dalam hati,

Melihat ke belakang ke arah penisnya yang belum lama menyemprotkan spermanya itu dan sekarang kembali mengacung tegak siap menembak. Saat itu aku merasa seksi sekali, aku menggerakkan kedua tanganku ke belakang, kedua jari tengahku yang lentik karena memakai kutek hitam, aku posisikan di bibir vaginaku, membuka lebar-lebar dan sengaja memamerkan padanya liang vagina yang merekah berwarna merah muda, Glekk…!!suara Mang Roudeng menenggak ludah terdengar olehku dan semakin membuatku merasa seksi.

“Aaannghh…!!”desahku reflex, karena Mang Roudeng tidak tahan dan menusuk vaginaku dengan jari tengah kirinya hingga masuk semua.

Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang vaginaku, jariku yang tadi membuka vaginaku langsung berpindah meremas ke pinggiran meja belajar sekolah itu. Mang Roudeng mendekatkan wajahnya yang terlihat penuh nafsu itu ke pantatku yang menungging, tangan kanan hitamnya mengelus dan meremas pantat sebelah kananku, dengus nafas beratnya terasa di area selangkanganku. Dengusannya pindah ke bongkahan pantat kiriku, Leeph…!!

“Aauuhh…!”desahku saat di menjilati salah satu daerah sensitive wanita itu.

Tubuhku terasa panas dingin dibuatnya, dengan jilatan di pantat dan korekan jarinya yang nakal itu di vaginaku, jari itu seakan-akan ingin mengetahui apa saja isi di dalamnya.

Disapukannya dengan telak lidah kasarnya pada kulit pantat putih sekalku itu, diciumi, bahkan digigit kecil sehingga aku menjerit menerima rangsangan erotis Mang Roudeng.

Dia ingin menarik lepas jarinya dari vaginaku, jari yang terdiri dari 3 (tiga) buku-buku itu mulai terlepas satu-persatu, Satu..Dua.., saat menuju ketiga, vaginaku reflex tidak rela dan menjepitnya,

“Whuuaa…!”reaksinya norak, merasa jarinya terjepit kencang vaginaku yang liat namun basah itu. Aku tarik-tarikan dengannya, namun…Jleebbh…!!

“Aaannggh…!!”desahku, karena Mang Roudeng mengerjaiku dengan mencoblos vaginaku dalam-dalam.

“Hak hak hak hak…”tawanya mesum karena berhasil mengerjaiku.

(Ehhm..Shiit !! si tua bangka ini pandai membangkitkan gairah…)keluhku dalam hati.

Dia mengulangi lagi dengan menarik kembali jari tengahnya, Satu..!! Dua..!! saat menuju ketiga, vaginaku kembali reflex tidak rela dan menjepitnya, Aku yang kini tengah horny bersiap-siap untuk menerima tusukannya, namun…Plooph…!!

“Aauuhh…”desahku,

Sial, Mang Roudeng menarik kasar jarinya tiba-tiba sehingga membuatku tidak sanggup menahan derita birahi ini ditambah sedang horny-hornynya. Dia menghirup jarinya yang sudah berselimut lendir vaginaku.

“Hhmmh…wangi tenaaan..!!”katanya.

“Mmmhh…Enyaak..gurih rek memek Neng Tika !!”komentarnya,

Sambil mengulum jari tengahnya yang belepotan lendirku, aku balik menatapnya.

Ooh…ini sex liar pertamaku, aku baru pernah merasa seksi seperti ini, kedua sahabatku berhasil menggali bakat hypersex-ku, menanamnya bersama dalam diriku dan merubah kehidupan sex-ku seperti mereka. Bahkan Ebrin mantanku pun tidak bisa membuatku melayang, bersamanya aku memang merasa cantik karena mendapatkan salah satu cowok paling keren di sekolah, tetapi tidak membuatku merasa seksi seperti perlakuan Mang Roudeng padaku. Mamang memposisikan kedua tangannya pada kedua sisi pinggangku, matanya menatap nanar pada vaginaku yang terpampang jelas, seolah-olah ingin menelannya, reflex kakiku merentang lebar siap menerima serangan mesumnya, nafas dan degup jantungku seirama semakin cepat, ketika aku melihat wajah Mang Roudeng yang sama sekali tidak tampan itu mendekati vaginaku, 30 cm..20 cm..10 cm..5 cm, Hap…Nyam !!

“Iyaaaahhh….”desahku, saat dia melahap bibir vaginaku dengan ganas.

“Clek..clek..clek..clek..!!”

Lidah kasar Mamang keluar masuk vaginaku, aku hanya bisa mendesah dan mendesah menerima serangan birahinya. Lidahnya nakal sekali menyentil-nyentil itil-ku, mulutnya yang hitam itu mengemut vaginaku dengan penuh nafsu hewani.

Tak lama kemudian kurasakan tubuhku terbakar, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan mengerang sejadi-jadinya menggeliat sambil memeluk meja erat-erat.

“Iyaaahh…!!”eranganku saat mencapai orgasme.

“Crreett…Cret…Seerr…Crrt !!” Erangan panjangku itu menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya lendir cinta dari selangkanganku. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sampai terdengar suara menyeruputnya, aku mengejat-ngejat di atas meja belajar itu.

“Neng Tika…jangan tidur dulu…kontol Mamang belum ngerasain memek Neng Tika pan..!”katanya ditelingaku.

Aku merasakan penisnya di bibir vaginaku, Aaahh…tubuhku masih merasa lelah sekali sehabis orgasme barusan, dia baru ingin menyentakku lagi.

Zrreeekk…!!

“Aaaukkh…”erang kami saat penisnya menyeruak masuk vaginaku.

Mang Roudeng menekan masuk penisnya paksa sehingga aku merasakan vaginaku seperti tersobek, tubuhku terbelah dua. Kepalaku yang tadinya tergeletak menyamping, langsung reflex meringis ke depan, mulutku membentuk huruf U tetapi tubuhku masih tengkurap tiduran di atas meja. Mang Roudeng langsung bergerak brutal menyetubuhiku, tampaknya dia tidak perduli dengan kelelahan tubuh yang kuderita, dia ingin menggapai klimaksnya.

“Eengghh…busyeet…seret tenan memek Neng Tika…Hhuuunngghh…!!”kejannya.

“Iyyaaahh…!!”desahku, saat Mang Roudeng menghentak kasar masuk penisnya.

Sambil menyentak, dia menyibak seragam belakangku hingga punggung putihku terlihat olehnya dan langsung dijilatnya, Bra-ku tidak dilepasnya agar aku tidak merasakan sakit pada payudara karena tidur bergesekan dengan meja. Jilatannya sampai kurasakan pada leher jenjangku hingga akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu.

Huueeekk…!!bau nafasnya sungguh tidak sedap, entah makan apa Mamang tadi pagi, tetapi lidahku tetap mengikuti permainannya dengan liar sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir. Dia berpegangan pada sisi meja depan dekat wajahku, sementara aku berpegangan di sisi belakang meja dimana bertepukan dengan paha hitam berbulunya yang penuh dengan peluh di sekujur permukaannya. Mang Roudeng nampak mendekati ejakulasinya, mulutnya menceracau sambil menyentakku kasar terpental-pental hingga meja belajar yang kutiduri bergeser searah dengan sentakannya, terlihat sekali Mang Roudeng ini ingin membalaskan dendam birahinya, karena tadi kakinya kubuat memar tertimpa tempat sampah, sentakan penisnya itu seolah-olah menginginkan vaginaku juga memar,

“Aaaannghh…Aaaannghh…Maanngh…Ampuunnhh…IyYaAaaAahHh…!!”

“Gila memek lu…gilaa memek luu…gilaa memek luuh…HuUuunngghh !!”lenguhnya,

Tak lama kemudian kurasakan beberapa semburan cairan kental hangat yang membanjiri liang vaginaku, yang diikuti oleh meledaknya cairan orgasmeku, Mang Roudeng menikmati sisa-sisa klimaks sambil memelukku, kami berkelojotan berdua bersama-sama dibarengi dengan kejangan-kejangan di vagina dan penis masing-masing. Sisi meja pada bagian dekat vaginaku banjir sudah, lelehan lendir cinta orgasmeku dan sperma Mang Roudeng membanjirinya, setelahnya Mang Roudeng duduk di bangku sebelah dekat mejaku, tiba-tiba, Braaakk…!!, pintu terbuka,

“Aaahh…Aaahh…Yeesss…Fuck me…Deepeer…!!”desah Murti,Gairah Sex

Dia sedang digarap Pak Juki dengan gaya monyet memanjat pohon kelapa, tentu dengan postur satpamnya yang tegap kekar itu, bukan suatu hal yang sulit untuk mengangkat atau menaik turunkan tubuh Murti, walaupun tubuh Murti tergolong tinggi karena blasteran. Karena ini hal yang baru buatku melihat kegilaan kedua sahabatku ini, maka kupaksakan sedikit tenagaku untuk menoleh melihat kegiatan seks mereka, Pak Marjuki dan Murti melakukan posisi seks itu sambil berjalan mendekati bangku guru.

Tidak jauh dari pintu kRoudengar erangan Joana dan lenguhan nikmat Pak Slamet, kulempar padangan dan betul saja, Pak Slamet sedang asyik men-doggy Joana, gadis cantik Indo-Euro se-profile dengan Nadine Chandrawinata itu dijambak rambutnya oleh tukang sapu dan kebun sekolah itu, tangan kiri Pak Slamet menampar-nampar pantatnya yang putih sekal, wajah cantik Joana merigis setiap kali tangan gempal Pak Slamet mendarat di bongkahan padat nan montok Joana. Tangan kirinya sesekali juga membetot pundak Joana kebelakang berlawanan dengan hentakan penisnya ke depan. Pak Slamet menyeringai mesum saat mata kami bertemu pandang, dia seolah-olah bangga bisa menggarap sahabat cantikku itu di depanku, memang sahabatku Joana itu salah satu gadis incaran para cowok, hanya patah hatinyalah yang membuatnya tidak ingin memiliki pacar lagi sejak kelas 2. Pak Marjuki tiba-tiba melenguh keras seperti kerbau, Murti menjadi semakin menjerit-jerit karena vaginanya ditumbuk paksa dalam-dalam agar menjepit dan memberikannya kenikmatan, tiba-tiba Pak Marjuki mendudukkan diri sehingga penisnya menghentak dalam-dalam vagina Murti, Jleeegg…!!!

“Aaaakkhh….!!!”erangan nikmat mereka berdua,

CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Pak Marjuki mencapai klimaksnya bersamaan dengan Murti, cairan mereka meluber dari vagina Murti, gairahsex.com mereka mengejat-ngejat nikmat sambil berpelukan dan bertatap-tatapan, setelahnya Pak Juki mendudukkan Murti pada meja guru, Murti yang merasa kelelahan langsung menyenderkan diri di dinding, duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang memar kemerahan namun dipenuhi gumpalan cairan kental putih pekat yang masih meneretes keluar, Pak Juki yang masih mengenakan baju satpam tanpa celana sepotong pun juga, mengambil rokok dari kantung baju satpamnya, menyalakan dan menawarkan ke Murti yang disambutnya, si cantik blasteran Kanada itu menaruh rokok di mulut tipis seksinya, dan Juki menyalakan api untuknya, mereka menghisap rokok dan berbincang yang aku tak dengar, Murti mengerlingkan mata kirinya dengan genit ke arahku karena aku melihat ke vaginanya yang Jukik belur karena ulah penis Pak Marjuki.

Kami mempertemukan senyum karena keadaan kami sama-sama porak poranda akibat oknum petugas sekolah bejat, tidak lama aku mendengar Pak Slamet menggeram seperti seekor kerbau,

“Huuunngghh….!!” Tukang sapu berbadan gemuk itu mencapai ejakulasi dengan menyentak kasar sahabatku Joana yang cantik itu dari posisi menungging doggy style hingga jatuh tengkurap ditindih tubuh gendutnya itu, Joana hanya menjerit-jerit pasrah dengan rambut merahnya yang dijambak Pak Slamet, pantatnya yang sekal itu melekat ketat dengan perut bagian bawah Pak Slamet yang dipenuhi bulu, buah zakarnya bertemu sapa dengan bibir vagina, tukang sapu gemuk itu mengejat-ngejat keenakan, bisa dilihat dari wajahnya, kaki Joana sampai menekuk dan menendang-nendang punggung berlemak tukang sapu tua itu.

Dia terus menekan penis itu di masa ejakulasinya, Pak Slamet terus saja menggenjotkan penisnya di liang kewanitaan Joana, dibenamkan penis gemuknya itu dalam-dalam untuk menuntaskan ejakulasinya, sambil memutar-mutar kepalanya seperti orang gila. Tukang sapu sekolah itu sampai bergidik nikmat menuntaskan ejakulasinya meneteskan sisa-sisa spermanya di dalam vagina Joana sebelum terkapar lemas dan menindih Joana. Tak lama kemudian, Pak Slamet pun bangkit meninggalkan Joana sahabat cantikku yang masih terkapar, kulihat penisnya masih lemas diselimuti lendir sperma menjijikkannya yang putih pekat dan kental,

“Woi Deng…nyobain memek Tika dong…!!”kata Pak Slamet asal pada Mang Roudeng.

(Ooh Crap…bakal tuker pasangan sampe kelenger nih gue ‘n temen-temen Damn..!),

Keluhku dalam hati,

“Woi woi…ntar dulu Met..lo entotin cewe lo dulu nih, Tika gue duluan si Roudeng Joana, baru elo Tika, gue Joana, si Roudeng Murti..!!”protes Pak Marjuki mengatur.

“Oh iya ya…ok deh..!!”sahut Pak Slamet mudah, tidak memikirkan kondisi tubuh kami.

“Siap Bos…asyiik !”kata Mang Roudeng semangat sambil hormat, dia berlari menuju pintu luar ke arah Joana yang terkapar, dan membangunkannya untuk dibuatnya lagi pingsan.

Pak Slamet meninggalkanku mendekati Murti dan Pak Juki,

“Sana Ba…garap Tika…gantian…gua udah kaga sabar pengen ngentotin dia !” kata si gendut Slamet.

“Set dah…nafsu bener kagak sabar…!! Entot aja dulu nih cewe luh…enak banget lo Met memeknya..pantes lu doyan bener !!”sahut Pak Juki.

“Iya tuh Pak…si gembrot ini doyan banget ngentotin gue ampe kelenger kaya Joana tuh!” tunjuk Murti pada Pak Juki keluar. Dimana Joana masih terkapar dan sedang disadarkan Mang Roudeng. Pak Juki hanya tertawa melihat ke arah luar.

“Ya iyalah…Neng Murti ini kan udah cantik memeknya seret lagi !!”pujinya mesum.

Murti hanya tersenyum sambil menghembuskan asap rokok ke arah Pak Slamet, dan Pak Slamet hanya menyeringai dan melirik ke selangkangan Murti yang terbuka lebar.

“Waduuh…gile lu Ba…memek Neng Murti ampe Jukik belur gini !!”protes Pak Slamet.

“Ehehehe…nyori…abis enak pisan sih…”sahut Pak Juki enteng.

“Weleeh…mana banyak pejunya lagi !!”omelnya lagi.

“Ha ha ha ha…yahh..si Joana sama Tika juga paling sama keadaannya..”kata Pak Juki membela diri.

“Ya udah…kita bersihin dulu aja ya biasa..!!”usul Pak Slamet.

“Ok deh…gua bangunin Tika dulu…!!”jawab Pak Juki.

Pak Marjuki membangunkan tubuhku yang masih terasa sedikit lemas, dia memapahku untuk menuju keluar kelas, yang entah untuk apa aku tak tahu menahu, dan kemudian di dudukannya aku di lantai sebelah Joana yang sudah pulih duduk. Kami melihat ke dalam kelas. “Yuk Neng…sini !!”. Sreet…!! tarik Pak Slamet kasar pada pergelangan kaki Murti yang mengangkang.

“Hmmph…savar Vak !!”kata Murti tak jelas kata-katanya, karena di bibir tipis seksinya masih terdapat rokok A Mild yang mengepul. Setelah sampai di sisi meja guru, tukang sapu sekolah itu juga memapah Murti, tangan gempal si gendut itu memapah Murti pada bagian paha dan melingkari punggung menangkup payudaranya. Mereka bertatap-tatapan seperti pasangan bulan madu saja, Murti memberikan rokok yang ditangannya untuk dihisap Pak Slamet, setelah itu mereka berpagutan sampai keluar kelas.

“Yak okey…langsung nih ya !!”kata Pak Slamet.

“Ok Bos…!!”jawab Pak Juki. Aku dan Mang Roudeng belum mengerti benar maksudnya.

Pak Slamet menurunkan Murti dan berlalu meninggalkan kami, tak lama dia mengambil ember berisi air, dan menaruhnya dekat selokan (saluran air dari genteng sekolah jikalau hujan), juga botol cairan yang kutahu milik Murti untuk pembersih kewanitaannya agar vaginanya selalu bersih dan wangi.

“Ayo lonte-lonte…!!”kata Pak Slamet dan Pak Marjuki sambil menepuk tangan.

Seperti pelacur saja, Joana dan Murti bangun dan menyeretku, aku bingung apa maksud mereka, (Ooh Shiit !!), dalam hatiku. Murti dan Joana berjongkok seperti mau pipis di kamar mandi saja, mereka seperti mengambil jarak, mata jelita Joana mengedipiku agar aku juga berposisi sama dengan mereka. Untuk solidaritas akupun mengikutinya, lalu Pak

Slamet dan Pak Juki mengambil posisi berjongkok juga di depanku dan Murti.

“Deng…itutuh…si Joana..lu mau gak ??”ancam Pak Slamet rakus.

“Oyaya…hehehe maklum belum mRoudeng (nyambung) aku…”jawab Mamang.

Pak Slamet dan Pak Juki mengambil air bergantian, membasuh vaginaku dari panasnya gesekan penis Mamang tadi, Pak Slamet juga membersihkan vagina Murti dan kadang-kadang jari gemuknya ditusukkan ke dalam vagina Murti hingga si manis itu mendesah seksi. gairahsex.com Begitu juga Pak Juki melakukannya padaku, aku dan Murti yang berpegangan di bahu mereka, hanya bisa mendesah sambil mencakar atau menancapkan kuku-kuku jari kami yang lentik ke bahu mereka, jika tusukan jari mereka terlalu dalam. Mang Roudeng mengangguk-angguk tanda konek, dia juga mengambil gayung dan hendak disiramkan ke vagina Joana yang memar dan belepotan sperma menjijikkan hasil karya Pak Slamet, namun Joana mencegahnya, Mang Roudeng bingung, dia melihat wajah Joana mengejan cantik dan, Cuuuuurr….!! Pissing, Joana pipis di depan Mang Roudeng, tukang sampah itu hampir pingsan melihat gadis SMP, berwajah Indo, berambut sedikit pirang, cantik jelita, berkulit putih berbody aduhai, pipis di depan matanya, Jelegeerr…!! Bagaikan disambar geledek, akupun belum pernah lihat langsung, secara walaupun kami sesama wanita, Mang Roudeng melotot tajam penuh nafsu, dia yang juga sudah bugil dan juga sudah mulai konak sedari tadi melihat para gadis-gadis cantik itu berjongkok, penis itu semakin mengacung tinggi.

“Huak hak hak…ajiiib…baru pernah gua liat cewek kencing…cantik pula orangnya !!” komentarnya senang mendapat pengalaman baru. Setelah selesai dia membasuhnya dan membilasnya dengan sabun pembersih kewanitaan milik Murti yang diambil Joana.

Para pria berumur itu tampak senang sekali memandikan vagina kami, cukup lama juga mereka membersihkannya. Mang Roudeng yang baru pertama kali paling tidak tahan, dia terkadang mengangkat pinggang Joana lalu melahap vaginanya hingga air basuhan yang ada di vaginanya kering kerontang, malah lendir vagina yang terproduksi. Selanjutnya dia menyeret Joana ke dalam kelas untuk disetubuhinya, menyeret Joana pun masih dengan wajahnya yang terbenam di selangkangan Joana. Pak Slamet dan Pak Juki juga menyeret aku dan Murti untuk kembali disetubuhi, karena masih lemas kami bertiga diposisikan menungging oleh mereka, Joana di meja pertama dekat pintu kelas, aku ditempatku tadi deret kedua, dan si manis Murti di deret ketiga di sebelah deretan meja guru.

Aku dan teman-temanku hanya bisa mengerang-erang tak berdaya, para pejantan buruk rupa itu seperti berlomba-lomba layaknya pacuan kuda saja, vaginaku terasa dirobek oleh penis Pak Marjuki, penisnya panjang sekali menyodok-nyodok vaginaku, sodokannya itu seperti ingin membelah tubuhku melalui media vagina, keadaanku ini kurasa sama dirasa oleh para sahabatku. Kami bertiga berteriak seperti orang gila, bahkan Joana dan Murti yang telah terbiasa dengan sex bebas seperti ini dengan mereka, tak mampu jua melayani para petugas sekolah rendahan yang haus seks itu, mereka menggebrak-gebrak meja kelas yang ditidurinya, hingga menimbulkan suara gaduh dan menggema, meramaikan suasana persengamaan kami. Rasa frustasi karena Cinta dan jengahnya kehidupan di rumah, kami lampiaskan dengan kehancuran diri, kami tidak berfikir lagi untuk masa depan, kemaluan yang seharusnya kami jaga untuk pasangan hidup terCinta kelak tak terpikirkan, semakin hancur tubuh yang kami rasakan semakin lega perasaan, hancur ya hancur, hanya kata-kata itu yang ada di benak kami, kami telah bulat, Ended to be a Broken Bitches.

“HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngGghh !!!”geram mereka, menyentak masuk penis sekuat tenaga, aku sudah tak kuat, kami saling menoleh melihat keadaan masing-masing sahabat, mata kami sudah sayu seksi, menuju klimaks seks, meja yang kami tiduri pun terdorong ke depan bersamaan hingga porak poranda sebagaimana vagina kami, tamparan demi tamparan keras kami terima di pantat, tidak kuat lagi maka akupun berteriak menuju orgasme, diikuti Murti dan Joana tak lama.Gairah Sex

“Iyaaaahhh…Paaaakkhh….Aaaaaaaaaaakkhhhhh……!!!”erang kami lantang.

“Uwooooooooookkhhhh……!!!”Pak Slamet, Pak Juki dan Mang Roudeng juga mengejang.

CROOOOTTTTS !!! CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Dan mereka bertiga pun juga menyusul ejakulasi hampir bersamaan, tubuh kami berenam mengejat-ngejat nikmat, penis dan vagina kami mengejang-ngejang, cairan lengket dan kental itu bertemu, pertemuan antara lendir vagina dan sperma, vaginaku ngilu sekali saat disembur sperma Pak Marjuki yang semprotannya kencang seperti semprotan pemadam kebakaran itu. Penis itupun tak lama berhenti berkedut-kedut berhenti memancarkan spermanya, para petugas sekolah itu akhirnya menarik lepas penisnya dan duduk berselonjoran di lantai kelas, meninggalkan kami dalam keadaan porak poranda di selangkangan dengan posisi menungging, vagina memar lebam dan penuh sperma menjijikkan. Mereka bertiga betul-betul memperlakukan kami seperti pelacurnya saja. Berbicara tak senonoh dengan kata-kata yang jorok tentang enaknya memek kami dsb. Setelah cukup tenaga, mereka bangkit dan hendak bertukar pasangan.

“Naaahh…dari tadi Bapak mau nyobain memek Neng Tika ini hak hak hak…”tawa Pak Slamet mesum. (Oooohh…crap !! ancur memek gue hari ini !!), keluhku dalam hati.

Plaaaakk…!! Plaaaakk…!!, tangan gempalnya menampari pantat sekal putihku.

Pak Slamet memasukkan paksa penisnya yang gemuk itu ke liang vaginaku, sekarang aku merasakan sesak yang dialami oleh Joana dan Murti tadi. Si tua gembrot itu juga tampak sesak nafas penisnya terjepit vaginaku yang katanya legit. Dia menyodokku sambil meremas pantatku dengan gemas, yang sesekali ditamparnya kasar hingga menimbulkan bercak merah bergambar telapak tangan, sementara diriku masih berpegangan pada sisi meja, dimana mejaku sudah mendorong habis meja di depannya hingga mentok ke dinding, jadi saat disodok gahar Pak Slamet menimbulkan bunyi gaduh,

“Jduk…jduk..!!”.

Kami pun kembali bersenggama bersama-sama, lagi dan terus dan terus, menjadi objek pembuangan sperma, setelah keluar sperma, mereka mencabut penis dan beristirahat, lalu bertukar pasangan lagi, aku dan para sahabatku hanya pasrah menungging menjadi media pengosongan kantung sperma dan pelampiasan nafsu hewani mereka.

Pokoknya hari itu hingga sore hari dimana mentari hendak menyembunyikan senyumnya, kami berenam ngeseks tanpa mengenal waktu dan rasa lelah, vagina kami bertiga digarap hingga terasa perih karena terus menerus dipaksa menjepit dan menggesek penis mereka, punwalau pada akhirnya disembur cairan hangat dan kental sehingga membasuh lecetnya dinding vagina kami, keluar ruangan keadaan kami seperti sebuah benteng yang dirudal, berantakan dan awut-awutan, jalan kami bertiga menyeret karena perih di selangkangan, sedangkan para petugas bejat itu tertawa-tawa melihat keadaan kami, Joana yang paling malang karena dengan keadaan itu dia harus mengantar kami pulang dengan mobilnya. Kejadian itu terus terjadi setiap hari, di samping kami juga menyukai hal itu, jadi baik itu setiap pulang sekolah, hari libur tanggal merah maupun minggu, kami selalu sex party bertiga, berpindah-pindah lokasi jika kami ingin mengganti suasana, misal : Villa Murti, sekitar puncak Bogor, Dago Bandung, penginapan mewah Joana di Pulau Bidadari dsb.

Kenangan pertama itulah yang terngiang-ngiang di kepalaku.

(Miss U Friend…Where are U…? Need U Now !!) keluhku dalam hati ke arah lautan.

Wajah para sahabat-ku terbayang melayang di atas langit hitam bertebar bintang.

cerita panas 2016, cerita panas terbaru, cerita panas, cerita syur 2016, cerita syur terbaru, cerita syur, cerita lucah 2016, cerita lucah terbaru, cerita lucah,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.