Vimax cerita ngentot Cerita Dewasa Cerita Sex Terbaru
Breaking News
cerita dewasa Cerita Mesum Cerita Mesum Cerita Dewasa Cerita Sex cerita dewasa terbaru

Disodok Enak Part 2 (tamat)

Vimax

Cerita Mesum Terbaru 2016. Yuk Kita lanjutin kisah hot di episode Disodok-Sodok Enak. Aku tadinya tak menyangka sedikitpun kalau kemaluan Ernest yang begitu besar mulai bisa dengan lancar menerobos lubang kemaluanku yang sempit dan sepertinya belum siap menerima hunjaman kemaluan dengan ukuran sedemikian besar itu. Terasa bibir kemaluanku sampai terkuak-kuak lebar dan seakan-akan tidak muat untuk menelan besar dan panjangnya kemaluan Ernest. .

kisah hot 2016, kisah hot terbaru, kisah hot, kisah sange 2016, kisah sange terbaru, kisah sange, kisah lucah 2016, kisah lucah terbaru, kisah lucah,

 

”Ooukkhhss.. sshhh.. Nneest ..! Terrruusshh.. terrusshh.. Nneest… mmmmhhhh…!” rintihku merasakan kenikmatan yang semakin lama semakin hebat dikemaluanku.

”Hhhmmh.. kemaluanmu.. niikmaat.. sekalii.. Mmiiaaa.. uukkhh.. uukkhh..” Ernest mulai mengeluarkan kata-kata vulgar yang malah menambah nafsu birahiku mendengarnya.

Gejolak birahi Ernest ternyata makin menguasai tubuhnya dan tanpa canggung lagi ia terus menghunjam hunjamkan kemaluannya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepadaku. Untuk tambah memuaskanku dan dirinya juga, batang kemaluan Ernest terus menyusupi lubang kemaluanku sehingga akhirnya betul-betul amblas semuanya.

”Aarrggccchhhhhh…!!” aku melenguh panjang, kurasakan badanku merinding hebat, wajahku panas dan mungkin berwarna merah merona.

Mataku memandang Ernest dengan pandangan sayu penuh arti meminta sesuatu, yaitu meminta diberi rasa nikmat yang sebesar-besarnya.

Ernest kelihatan betul-betul terpana melihat wajahku yang diliputi ekspresi sensasional itu. Kemudian Ernest tambah aktif lagi bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, sehingga dinding kemaluanku yang sudah dilumuri cairan kawin itu terasa tambah banjir dan licin.

Wajahku semakin lepas mengekspresikan rasa sensasi yang luar biasa yang tidak pernah aku perkirakan sebegitu nikmatnya. Saking begitu nikmatnya perasaan maupun kemaluanku disetubuhi oleh Ernest, tanpa kusadari aku mulai berceloteh di luar sadarku,

”Ohhss.. sshhh.. enaakk.. sseekalii… kkemaluanmu Nneest…!! Oougghh.. terusshh…. teerruusshh..!!! Aku mendesah, merintih dan mengerang sepuas-puasnya. Aku sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhiku bukanlah suamiku sendiri. Yang ada di benakku hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan.

Dengan penuh nafsu kami saling berpelukan sambil berciuman. Nafas kami saling memburu kencang, lidah kami saling mengait dan saling menyErnestt, saling bergumul.

Ernest mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkanganku yang semakin terbuka lebar, akupun mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sambil kutekuk dan kusampirkan ke pundaknya.

Pantatku kuangkat untuk lebih memudahkan batang kemaluan Ernest masuk seluruhnya dan menggesek syaraf-syaraf kenikmatan di rongga kemaluanku, akibatnya Ernestpun semakin mudah menyodokkan kemaluannya yang panjang, besar dan keras itu keluar masuk sampai ke pangkal kemaluannya hingga mengeluarkan suara berdecak-decak crot… crot… seperti suara bebek menyosor lumpur seiring dengan keluar masuknya kemaluan itu di dalam kemaluanku

Ernest melihat ke arah selangkanganku, kemaluanku mencengkeram kemaluannya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan kemaluanku, yang semakin basah membanjir penuh dengan lendir pelumas putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutku yang tidak terlalu lebat maupun bulu-bulu jembutnya itu dan sekaligus juga batang kemaluannya yang semakin tambah mengeras.

Ernest mendengus-dengus bagai harimau terluka, genjotannya makin ganas saja. Mata Ernest terlihat lapar menatap susuku yang putih montok dikelilingi bulatan coklat muda di tengahnya dan pentilku yang besar dan sudah begitu mengeras karena birahiku yang sudah demikian memuncak, maka tanpa menyia-nyiakan kesempatan Ernest langsung menyErnestt pentil susuku yang begitu menantang itu.

Tubuhku menggelinjang hebat. Dan susukupun makin kubusungkan bahkan dadaku kugerakkan ke kiri dan ke kanan supaya kedua pentil susuku yang makin gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya.

Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Ernest yang basah dan agak kasar itu menggesek pentil susuku yang peka.

Ernest begitu bergairah menjilati dan menghisap susu dan pentilku di sela-sela desah dan rintihanku yang sedang menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini.

”Oouugghhss.. oouugghhss.. sshhhh… tteerruss Nneest…” aku makin meracau tidak karuan, pikiranku sudah tidak jernih lagi, terombang ambing di dalam pusaran kenikmatan, terseret di dalam pergumulan persetubuhan dengan Ernest, tubuh telanjangku serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.

Aku merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun terutama sekali di sekitar kemaluanku.

Tubuhku akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Ernest erat sekali sambil menjerit-jerit kecil tanpa sadar.

”Aaaaccchhh…… Nneest… mmmmmhhhhhh… konntolmmmuuu… aakkkuu…… kkeeelluuaaarrrr……” jeritku keenakan.

Badan telanjangku terasa berputar-putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme.

kemaluan Ernest masih terus menggenjot lubang kemaluanku, dan aku hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Ernest menyetubuhiku tanpa henti, aku makin lama makin terseret di dalam kenikmatan pergumulan persetubuhan yang belum pernah kurasakan.

Tubuhku akhirnya melemas setelah aku menyemburkan lagi cairan kawinku untuk kesekian kalinya bersamaan dengan Ernest yang juga rupanya sudah tidak tahan lagi dan……

”Aaacchhh….. oooccchhh… Anitaaa… teemmpiikkmmuuu…… nniikkkmaattttt… sseekkalliiii… adduuhhh…… aaakkuu.. kkekkeeeluaarrr…” erangnya sambil menyemburkan pejunya di dalam kemaluanku

Kemudian untuk beberapa saat Ernest masih membiarkan kemaluannya menancap di dalam kemaluanku.

Akupun tidak mencoba untuk melepas kemaluan itu dari kemaluanku.

Setelah agak beberapa lama, Ernest mengeluarkan kemaluannya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang kemaluanku. Walaupun kemaluannya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya

Ernest menghentikan persetubuhan ini karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku. Kini ganti dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat.

Suamiku dengan segera menggantikan Ernest dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan kemaluannya yang kecil itu ke dalam lubang kemaluanku.

Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Ernest, maka ketika suamiku menghunjamkan kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, kurasakan kemaluan suamiku itu kini terasa hambar.

Kurasakan otot-otot lubang kemaluanku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit kemaluan suamiku sebagaimana ketika kemaluan Ernest yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar lubang kemaluanku. kemaluan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam lubang kemaluanku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam lubang kemaluanku yang barusan diterobos oleh kemaluan yang begitu besar dan panjang.

Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat.

Malahan karena kemaluan suamiku tidak berada dalam lubang kemaluanku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh pejunya agak di luar lubang kemaluanku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela paha dan jembutku basah kuyup dengan peju suamiku.

Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku. Sementara itu, karena aku pasif saja waktu disetubuhi suamiku, dan membayangkan kemaluan Ernest yang luar biasa itu, maka aku sama sekali tidak kelelahan, malah nafsuku kembali memuncak.Cerpen Sex

Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku ingin mengalami puncak orgasme lagi dengan disetubuhi oleh Ernest. Tapi yang disampingku kini suamiku, yang telah lemas dan tak berdaya sama sekali.

Oleh karena itu dengan perasaan kecewa berat aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat hendak menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamar tidur untuk membersihkan cairan-cairan bekas persenggamaan yang melumuri selangkangan dan tubuhku.

Namun untunglah, seperti mengerti perasaanku, tiba-tiba Ernest yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat dan ngaceng kemaluannya itu memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang. Aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Ernest menusukkan kemaluannya ke dalam kemaluanku dari belakang dengan garangnya.

Karena posisiku menungging, aku jadi lebih leluasa menggoyang-goyangkan pantatku, yang tentu saja kemaluanku juga ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Hal ini membuat Ernest semakin bernafsu menghujam-hujamkan kemaluannya ke dalam kemaluanku sehingga dengan cepat tubuhku kembali seperti melayang-layang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini.

Tak berapa lama tubuhku mengejang dan…

”Nneest…… oooccchhhh… aacchhh… Nneest… akk… aakkuu… mmaaauu… kkkeelluuuaaaarrrrrr……” rintihku sambil mencengkeram pinggir ranjang, aku telah mencapai puncak persetubuhan terlebih dahulu.

Begitu aku sedang mengalami puncak orgasme, Ernest menarik kemaluannya dari lubang kemaluanku, sehingga seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan lubang kemaluanku berdenyut agak aneh dalam suatu denyutan yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami.

Namun walaupun sudah orgasme, aku masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan persetubuhan ini. Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Ernest yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku.

Bagaikan kerbau dicocok hidung, aku mengikuti Ernest ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.

Kemudian Ernest melepaskan pelukannya dan menelentangkan diriku lalu dengan bernafsu menciumi susuku dan menyErnestt-nyErnestt pentilnya yang mancung itu sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.

Kali ini rupanya Ernest ingin mengajakku bersetubuh dengan cara yang lain. Mula-mula Ernest membalikkan tubuhku sehingga posisiku kini berada di atas tubuhnya.

Selanjutnya dengan spontan kuraih kemaluan Ernest dan memandunya ke arah lubang kemaluanku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Ernest dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya.

Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil, ”Occhhh… oocchhh… acchhh… sssshhhh…” desahku dibuai kenikmatan.

Sementara itu Ernest dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil, ”Oocchhh… oocchhh… Mmiiaaaa… ttteeemmpppiikkmuuu… mmmhhhhh…”

Akupun semakin cepat menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Ernest dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku.

Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat.

”Ooooccchhhhh…… mmmmhhhhhh… ooocccchhhh…… mmmmhhhhhh……” pekikku keenakan dan tubuhkupun langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Ernest.

Tapi ternyata Ernest belum sampai pada puncaknya. Maka tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga lubang kemaluanku yang telah basah kuyup oleh lendir kawin tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar.

Selanjutnya Ernest mengacungkan kemaluannya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah lubang kemaluanku dan menghunjamkan kembali kemaluannya tersebut ke lubang kemaluanku dengan garang.

Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika kemaluan Ernest mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam lubang kemaluanku.

Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya kemaluan Ernest yang semakin lama semakin cepat merojok-rojokkan kemaluan besarnya ke lubang kemaluanku.

Aku merasakan betapa lubang kemaluanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap kemaluan Ernest yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.

Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena kemaluan Ernest yang tegar dan perkasa itu menggesek bagian paling dalam kemaluanku (mungkin titik itu yang dinamakan G-Spot atau titik gairah seksual tertinggi wanita)

Akhirnya, bersamaan dengan orgasmeku yang entah ke berapa kali aku tak ingat lagi, kulihat Ernest tiba juga pada puncaknya.

”Mmmiiiaaaa… ooocchhh…………… ooocccchhhhhh… Mmmiiiiaaaaaaaa…………………… ttteeemmmppikkkmmmuuu… ooccchhhsss… aakkkuu… kkkellluuaaarrrrrr……” rintihnya dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia menyebut-nyebut namaku sambil mengeluarkan kata-kata vulgarnya lagi dan melepaskan puncak ejakulasinya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh pejunya di dalam kemaluanku dalam waktu yang amat panjang.

Sementara itu kemaluannya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di lubang kemaluanku sehingga seluruh pejunya terhisap dalam kemaluanku sampai titik penghabisan.

Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, kemaluan Ernest masih tetap terbenam dalam kemaluanku, dan aku pun memang tetap berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.

Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Ernest mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan.

Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya.

Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali.

Kulihat kemaluan Ernest mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Ernest segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluanku kembali. Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar.

Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya.

Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Ernest sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali dan kubisikkan padanya bahwa ada bagian tertentu di dalam kemaluanku yang kalau tersentuh kemaluannya, dapat menghasilkan rasa nikmat yang amat sangat.

Ernestpun kelihatannya mengerti dan berusaha menyentuh bagian itu dengan kemaluannya. Keadaan ini berakhir dengan tibanya kembali puncak persenggamaan kami secara bersamaan. Inilah yang belum pernah kualami, bahkan kuimpikanpun belum pernah. Mengalami orgasme secara bersama-sama dengan pasangan bersetubuh!

Rasanya tak bisa kulukiskan dengan kata kata. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.

Semenjak pengalaman kami malam itu, aku selalu terbayang-bayang kehebatan Ernest. Tetapi entah kenapa suamiku malah tidak pernah membicarakan lagi soal angan-angan seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu.

Padahal aku malah ingin mengulanginya lagi. Karena apa yang kurasakan bersama suamiku sama sekali tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Ernest. Kuakui malam itu Ernest memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku.

Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan persetubuhan yang luar biasa hebatnya yang belum pernah aku alami selama ini. Bahkan dengan Ki Jadokarsopun tidak sehebat ini, karena dengan Ernest aku merasakan orgasme berkali-kali, sedang dengan Ki Jadokarso cuma sekali.

Dan walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Ernest masih tetap saja kelihatan bugar. kemaluannya pun masih tetap ngaceng dan berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk lubang kemaluanku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan.

Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun kemaluan Ernest masih tetap ngaceng bertahan. Inilah yang membuatku terkagum-kagum.

Terus terang kuakui bahwa selama melakukan persetubuhan dengan suamiku, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu.Cerpen Sex

Sehingga, karena desakan birahi yang selalu datang tiap hari, dengan diam-diam aku masih menjalin hubungan dengan Ernest tanpa sepengetahuan suamiku. Awalnya di suatu pagi Ernest berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta kepadaku untuk mau disetubuhi.

Mulanya aku pura-pura ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi karena aku memang mengharapkan, akhirnya aku menyetujui permintaan tersebut. Apalagi kebetulan anakku juga lagi ke sekolah diantar pembantuku. Sehingga kubiarkan saja dia menyetubuhiku di rumahku sendiri.

Hubungan sembunyi-sembunyi itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Misalnya ketika kami bersetubuh secara terburu-buru di ruang tamu yang terbuka, kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan.

Keadaan ini membawa hubunganku dan Ernest semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Ernest sering melakukan persetubuhan tanpa diketahui oleh suamiku.

Pernah kami melakukan persetubuhan yang liar di luar rumah, yaitu di taman dibelakang rumah, sambil menatap awan-awan yang berarak, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri dan kenikmatan yang ambooii.

”Mestinya pemerintah memperbolehkan rakyatnya melakukan persetubuhan di tempat terbuka, asal tidak terdapat unsur paksaan!” anganku saat itu.

Aku berpikir, kalau melakukan persetubuhan di tempat terbuka dengan disaksikan oleh orang lain, pasti lebih nikmat lagi deh!

Sampai di suatu hari, Ernest membisikkan rencananya kepadaku bahwa ia ingin bercinta secara three in one, tetapi bukan satu cewek dua cowok, tetapi satu cowok dua cewek. Maksudnya dia minta aku melibatkan satu orang temen cewekku untuk bersetubuh bersama.

Mula-mula aku agak kaget dibuatnya, tetapi aku pikir-pikir boleh juga ya, hitung-hitung buat menambah pengalaman dalam bersetubuh.

”Wuih, pasti lebih seru nih” pikirku dalam hati sambil membayangkan kenikmatan di kemaluanku, apalagi sambil melihat juga Ernest bersetubuh dengan cewek lain.

”Eh, tapi.. aku cemburu nggak ya? Tapi biarlah, ini kan suatu sensasi lain yang belum pernah kualami” pikirku lagi.

Aku malah menambahkan usul kepada Ernest, bagaimana kalau dilakukan di taman belakang rumah, habis asik sih! Lagipula aku memang punya temen (namanya Lina) yang ketika aku ceritain soal pengalamanku dengan Ki Jadokarso maupun dengan Ernest, keliatannya dia bernafsu banget dan pengin ikut-ikutan menikmati, boleh secara three in one ataupun sendiri sendiri, katanya.

Soalnya kemaluan suaminya memang berukuran kecil dan pendek, apalagi suaminya sekarang lagi bertugas ke luar negeri dalam waktu yang lama, sehingga dia selalu kesepian di rumahnya yang besar itu.

Ketika hal itu aku katakan pada Ernest, dia langsung setuju dan menanyakan kapan hal itu akan dilaksanakan?

Tentu saja aku jawab secepatnya. Keesokan harinya, sehabis berbelanja di salah satu mall aku mampir ke rumah Lina dan menceriterakan tentang rencanaku tersebut.

Tentu saja dia sangat setuju dan antusias sekali mendengarnya, tetapi dia mengajukan sebuah syarat, yaitu itu dilakukan di taman di tepi kolam renang di belakang rumahnya.

TAMAT.

kisah hot 2016, kisah hot terbaru, kisah hot, kisah sange 2016, kisah sange terbaru, kisah sange, kisah lucah 2016, kisah lucah terbaru, kisah lucah,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.