Vimax
Breaking News

Pamela, Hasrat Terpendam

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Hari yang cerah. matahari yang indah. Melengkapi Resepsi peresmian perusahaan yang berlangsung meriah. Banyak karangan bunga terpampang di sana-sini yang dikirim oleh orang-orang penting. Semua tamu berpakaian rapi dan necis. Selain kerabat-kerabat, turut diundang pula sejumlah rekan bisnis, staf-staf, pejabat pemerintah setempat, dan tamu-tamu penting lainnya. Bahkan ada pula beberapa orang wartawan yang datang meliput. Kini tiba saatnya acara simbolis peresmian itu yaitu pemotongan pita. Saat itu seluruh pandangan mata tertuju ke arah seorang pria setengah baya yang tampan, rapi dan sukses yang sedang berbicara. Ia adalah pemilik perusahaan tersebut.

Dengan wajah ceria ia berkata,

”Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran bapak-bapak dan ibu-ibu disini. Untuk pemotongan pita ini, saya akan diwakili oleh putri saya yang cantik, yaitu Pamela!”

Di tengah-tengah tepuk tangan orang-orang itu, majulah seorang gadis muda dan cantik ke depan. Ia mengenakan gaun pesta warna merah jambu yang sungguh ideal di tubuhnya. Dengan senyum mengembang di wajah, tangannya yang mungil menggerakkan gunting itu untuk memotong pita tersebut. Para juru foto tak melewatkan kesempatan itu untukmengambil momen peresmian melalui aksi potong pita. Sekali lagi, terdengar tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Entah apa yang ada di benak para juru foto itu saat mereka sibuk memotret. Apakah mereka memotret melulu untuk upacara pemotongan pita itu, ataukah juga karena kecantikan gadis muda itu. Ah.. sudahlah.

Ya, gadis itu adalah Pamela. Ia menghadiri upacara pembukaan anak perusahaan milik Ayahnya. Penampilannya sangat menarik dengan gaun pesta merah jambu tanpa lengan itu. Selain karena wajahnya yang sudah cakep dari sononya, apalagi dengan make up dan dandanannya malam itu, membuatnya tak kalah cantik dan menarik dibanding bintang film Hongkong. Ditambah Juga kulitnya putih bersih. Usianya masih muda,17 tahun lewat hampir 18 tahun. Bodi menarik kalau tak boleh dikatakan menggiurkan (terutama untuk para mupengers). Apalagi gaun pesta mahal dengan kualitas kain sangat bagus yang dikenakannya begitu pas menempel di tubuhnya. Nampak terlihat lekuk liku body curve yang nyaris sempurna di balik gaun mahal yang dikenakannya. Pinggangnya ramping, pinggulnya menonjol.

Dadanya juga nampak menonjol dan berisi. Sementara potongan gaunnya berleher agak rendah yang memperlihatkan sebagian kecil belahan payudaranya. Membuat penasaran para lelaki yang ingin melihat lebih banyak lagi. Upacara peresmian malam itu berlangsung dengan sukses. Sementara kehadiran Pamela malam itu berhasil mencuri perhatian banyak orang. Banyak yang mengaguminya, karena kecantikannya, penampilannya, kepercayaan dirinya, maupun juga prestasinya di sekolah, dan lain-lainnya. Banyak orang yang tahu bahwa ia adalah siswi berprestasi di sekolah favorit di kota itu. Banyak pula orang tua yang diam-diam iri karena anak mereka kalah segalanya dari Pamela.

Ada pula beberapa rekan bisnis Papinya yang ingin menjodohkan anaknya dengan Pamela.. Dan banyak pula cowok-cowok muda yang tertarik kepadanya. Namun juga diam-diam banyak lelaki – muda maupun tua – yang berpikiran kotor. Yah, namanya juga cowok. Dimana pun dan siapa pun sama saja kalo ngeliat cewek muda, cantik, dan sexy. Tapi tentu semua pikiran itu hanya disimpan di dalam hati masing-masing.

Keesokan harinya…

Pamela sedang asyik menonton tv dengan masih memakai seragam SMU putih abu-abunya. Memang ia baru pulang dari sekolahnya. Begitu selesai makan siang, ia langsung duduk di sofa sambil menonton tv. Wajahnya tampak segar. Mungkin karena hari itu jam pelajaran sekolah cuma 3 jam. Oleh karena paginya ada rapat yang melibatkan semua guru, maka jadwal sekolah dimulai lebih siang dari biasanya. Pamela, semenjak diperawani oleh Rido waktu itu, telah beberapa kali melakukan hal yang sama lagi. Meski sadar bahwa itu adalah perbuatan terlarang, namun tetap saja dilakukannya karena ia juga sangat menikmati. Apalagi melakukannya sambil sembunyi-sembunyi sehinga menambah sensasi  ketegangan dan tentu sebagai tambahan bumbu kenikmatan. Kini ia jadi semakin mahir dalam hal bercinta,gelorabirahi.com  mungkin karena memang pada dasarnya “punya bakat tinggi” dalam hal ini, ditambah lagi Rido yang memang lebih berpengalaman mengajaknya melakukan berbagai macam variasi.

Selain Rido dan Pamela sendiri, tidak ada orang lain yang tahu akan hal ini. Karena, ini hebatnya Pamela, ia tetap saja masih bisa mempertahankan prestasinya di sekolah (malah ranking-nya tambah naik). Sehingga tak ada orang yang menyangka atau merasakan adanya perubahan dalam diri Pamela. Sementara Rido sendiri juga bisa menjaga rahasia. Mungkin bagi dia yang lebih penting adalah asalkan Pamela mau melayaninya kapan pun ia mau. Untuk mencegah supaya tidak hamil, diam-diam Pamela menyimpan pil anti hamil yang mujarab. Ia berhasil mendapatkan informasi tentang itu dari GOOGLE. As you know Google is the best book.

Saat itu tiba-tiba ada sms masuk dari Rido yang bilang kalo sebentar lagi ia sampai kesana. Pamela langsung kaget karena saat itu Papinya lagi di rumah.. (Papinya punya kantor sendiri untuk usaha bisnisnya. Namun selain itu, ada satu kamar di rumah itu yang khusus dipakai sebagai kantor kerjanya. Letaknya di bagian belakang rumah. Sebagai gambaran, memang rumah Pamela ini cukup besar dan luas serta mempunyai beberapa kamar). Sehingga kadang Papinya kerja di rumah seperti hari ini. Karena takut ketahuan, ia langsung menelpon Rido memberitahu agar jangan datang saat itu. Namun rupanya Rido tak menggubrisnya karena tak lama kemudian ada sms masuk dari Rido yang isinya,

”Gue udah di depan pintu rumah loe!” Awalnya Pamela berniat menyuruhnya pergi. Namun dipikirnya lagi, biasanya Papinya kalo lagi kerja gitu bisa sampe sore di dalam ruangnya. Saat itu Rido tidak membawa motornya. Ia naik kendaraan umum. Akhirnya, tanpa sepengetahuan siapa pun, diajaknya Rido masuk ke dalam dan mereka duduk di sofa di ruang tamu depan yang jaraknya agak jauh dari ruang kerja Papinya. Begitu melihat Pamela yang masih memakai seragam dengan rapi, seketika Rido langsung terangsang. Terbayang-bayang tubuhnya yang putih mulus dan sexy yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya namun makin lama makin membuatnya ketagihan itu. Apalagi dengan memakai seragam SMU gini, Pamela makin kelihatan seperti cewek baik-baik dan innocent. Tentu enak sekali rasanya kalau bisa menikmati cewek kayak gini. Membuat Rido makin gemas dibuatnya.

Begitu duduk berdua di sofa, Rido segera memulai aksinya. Tangannya langsung menggerayangi tubuh Pamela. Diraba-rabanya dada Pamela dan disusupkannya tangannya di dalam rok abu-abunya. Lalu sejenak mereka berciuman bibir. Kemudian kedua tangannya mulai melucuti pakaian gadis itu.

Tak perlu waktu lama, pakaian seragam Pamela yang sebelumnya rapi jadi amburadul. Baju seragam dan branya masih menempel di tubuhnya, tapi sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya. seluruh kancing bajunya telah terlepas dan baju seragamnya terbuka lebar. Bra warna hijau muda yang harusnya berfungsi menutupi payudara gadis putih mulus itu malah telah terbuka kaitan depannya. Sehingga kini dadanya yang putih dan padat berisi terbuka telanjang di depan mata Rido. Kedua putingnya yang kemerahan nampak menonjol dan menggairahkan. Rok abu-abunya tersingkap keatas. Nampak pahanya yang putih mulus.

Hanya celana dalamnya saja, yang juga berwarna hijau muda, yang masih berada di posisi sebagaimana mestinya. Namun itu pun tak lama. Karena sesaat kemudian, Rido meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Kini Pamela dalam posisi duduk dengan sebagian besar pakaiannya masih menempel di ubuhnya, akan tetapi sudah tak berfungsi menutupi bagian-bagian tubuh seorang gadis yang seharusnya tidak diperlihatkan kepada cowok, apalagi cowok kelas rendahan seperti Rido gini. Kini nampak jelas bUlu-bulu vaginanya yang lebat dan hitam, kontras banget dengan kulit tubuhnya yang putih. Tak heran kalau Rido jadi bernapsu melihat Pamela dalam keadaan seperti itu. Segera diciuminya cewek putih itu dengan penuh napsu. Kedua tangannya yang hitam merengkuh dan meraba-raba payudaranya yang terbuka bebas. Ketika ia sedang asyik meraba-raba payudara Pamela dan memilin-milin kedua putingnya yang kemerahan itu dengan kedua jari telunjuknya, tiba-tiba:

“Pamela!,” terdengar suara Papinya memanggilnya. Bagi Pamela, suara itu bagaikan guntur yang menggelegar.

“Kamu dimana?” tanya Papinya dari kejauhan.

“Anu, Pamela di sofa ruang tamu depan, Pi,” kata Pamela agak lega karena dari jarak suaranya ternyata Papinya masih di dekat ruang kerjanya (sehingga masih jauh dari dirinya).

“Ngapain kamu disana?”

“Eh, anu, aku lagi tiduran disini,” katanya agak gelagapan karena pada saat itu payudaranya yang telanjang berada dalam genggaman Rido dan diremas-remasnya.

“Memang kenapa Pi?”

“Kamu mau sup jamur nggak? Papi mau nyuruh Bi Minah untuk masakin.”

“Nggak deh Pi. A-aku masih kenyang koq.”

“Beneran kamu nggak mau?”

“Beneran Pi. Nanti kalo aku mau, aku langsung kesana deh. Papi terusin aja kerjanya,” kata Pamela sementara payudaranya masih terus diremas-remas Rido.

“OK deh kalo gitu,” katanya sambil masuk ke ruangannya.

Setelah Papinya masuk ke ruang kerjanya kembali, mereka berdua jadi bebas merdeka. Kini Pamela dalam posisi menungging. Rido memasukkan kepalanya di dalam rok Pamela. Didalamnya, mulutnya sedang asyik menjilati dan menghisap-hisap vagina Pamela. Lidahnya menari-nari merangsang klitorisnya. Sementara kedua tangannya meraba-rabai sekujur tubuh Pamela.

“Ehhmm, ehmmmm, ehmmmm,” Pamela mulai mendesah-desah. Tak lama kemudian vaginanya mulai basah.

Kemudian ia melakukannya dengan berganti posisi. Pamela dalam posisi berdiri.. Rido berlutut di depannya. Kepalanya masuk di dalam rok abu-abunya. Dijilatinya bulu-bulu vagina serta vagina cewek itu dari depan. Vagina Pamela dibuat basah kuyup karenanya.

“Ooh…ohhh….ohhhhh,” Pamela mendesah-desah lirih.

Setelah itu gantian giliran Pamela membuka retsleting celana panjang Rido dan dibukanya celana berikut celana dalamnya. Batang penisnya yang hitam (lebih hitam dari kulitnya) menegang keras. Kepalanya besar telah basah karena cairan pre-cum yang keluar karena terangsang sejak ia menggrepe-grepe tubuh Pamela. Dengan bersimpuh di depan Rido yang sedang duduk, Pamela mendekatkan mulutnya diantara kedua paha Rido kemudian meng-oral penis hitam besar dan berurat milik Rido itu. Bagaikan gadis manis yang patuh, disepongnya penis Rido dengan konsentrasi penuh. Kini Pamela sudah lebih pandai dalam melakukan hal ini. Dikulum dan diemut-emutnya penis hitam berurat itu. Di dalam mulutnya, dimainkannya lidahnya terutama di bagian kepala dan leher penis Rido yang nampak Seperti jamur itu.

Rambut Pamela yang panjang agak keriting dan berwarna kecoklatan itu menyentuh dan menggelitik paha dan sebagian perut Rido, membuatnya makin keasyikan. Rido yang sedang duduk di sofa itu jadi keenakan menikmati penisnya disepong oleh Pamela. Betapa kontras dan kontradiktif pemandangan itu. Cowok yang hitam jelek dari kalangan rendahan duduk santai di sofa mahal sementara di depan kakinya duduk bersimpuh anak cewek dari keluarga kaya yang putih cakep dan sexy yang dengan asyiknya mengulum penisnya yang hitam besar dan berurat itu. Pamela, anak pengusaha kaya yang malam sebelumnya tampil mempesona seluruh tamu, kini dengan sukarela dan sepenuh hati melakukan pelayanan oral sex kepada Rido, cowok kelas rendahan! Kondisi pakaiannya pun juga amburadul. Dan hebatnya lagi, semua itu dilakukan dibalik punggung bokapnya yang sedang berada di dalam rumah itu juga.

Sungguh ini adalah peristiwa langka dan aneh! Beberapa saat kemudian Rido menghentikan aksi Pamela. Biarpun ia sangat menikmati kejadian kontradiktif itu, namun kalau begini terus-terusan nggak lama lagi bisa keluar spermanya. Rugi kalau belum menikmati tubuh cewek putih mulus itu. Setelah “cooling down” sejenak, segera diatur posisi tubuh Pamela supaya vaginanya di atas penisnya sendiri. Supaya bisa,

“bleesss”, masuklah penisnya yang hitam di dalam liang vagina Pamela. Berat tubuh Pamela membuat penis Rido jadi masuk seluruhnya ke dalam vagina gadis putih itu (hukum gravitasi, man!). Meski begitu, vaginanya masih sempit dan seret. Setelah itu Pamela menggerakkan dirinya naik turun, membuat penis Rido yang keras dan hangat menembusi dan mengocok-ngocok vaginanya.

Rido menjilati dan menyedot-nyedot kedua putingnya. Ekspresi wajah Pamela sungguh nampak kalau ia sangat menikmati itu. Apalagi ia juga mendesah-desah dengan erotis meski harus dengan menahan suaranya. Pada saat itu, terdengar suara pintu kamar kerja Papinya terbuka dan Papinya berkata,

“Pamela, sup jamurnya Papi taruh di meja makan. Nanti kalo kamu mau, langsung dimakan aja.”

“Ehmm, ehmm, OK deh, Pi,” kata Pamela sementara ia juga lagi asyik-asyiknya merasakan nikmatnya

“jamur” Rido mengocok vaginanya.

“Buruan lho makannya, ntar keburu dingin nggak enak.”

“Oh, oh, OK, OK, Pi,” kata Pamela agak terengah-engah sambil tetap meneruskan irama naik turun tubuhnya di atas penis Rido.

Pada saat Pamela berbicara itu, Rido kembali menjilati dan menghisap-hisap puting payudara Pamela. Matanya memandang ke wajah Pamela yang mengekspresikan kenikmatan luar biasa saat ia menggoyang tubuhnya sendiri di atas penis Rido, sambil sesekali menjawab pertanyaan Papinya.

“Oh ya, abis ini Papi mau telpon sama client, jadi kamu jangan masuk ke kamar Papi ya,” kata Papinya.

“Ok, OK,” katanya sambil tubuhnya terus bergoyang-goyang dan menatap Rido.

“Beneran lho. Papi nggak mau diskusi Papi diganggu.”

“Iya, Iya. Pi. Aku udah ngerti ga perlu diulang-ulang gitu. Udah sekarang Papi kerja aja lagi. Aku juga ga bisa konsentrasi kalo diganggu gini terus,” kata Pamela mulai kesal dengan terus menggoyang tubuhnya.

“Ooh, kamu lagi belajar tho. Ya udah Papi masuk dulu. Kamu terusin aja belajarnya,” katanya sambil masuk ke dalam ruang kerjanya.

Setelah itu mereka mengubah posisi ke doggy style, dimana penis Rido menyodok-nyodok vagina Pamela dari belakang. Sementara kedua tangannya menepuk-nepuk dan meremas-remas payudara Pamela yang tergantung bebas diantara baju seragamnya yang terbuka. Setelah itu mereka berganti beberapa posisi. Meski sempat terganggu beberapa kali, akhirnya Pamela bisa mendapatkan orgasme-nya saat Rido menyetubuhinya dalam posisi ia tiduran dan kedua kakinya ditekuk keatas (nggak tahu apa nama posisi ini).

Semuanya itu dilakukan dengan baju seragamnya masih melekat di tubuhnya. Ia sengaja tidak mau melepas baju seragamnya dari tubuhnya, supaya di saat emergency (apabila Papinya datang ke tempatnya), ia bisa langsung cepat membereskan pakaiannya. Sementara bagi Rido, hal ini membuat diri Pamela jadi semakin menggairahkan. Belum pernah sebelumnya ia menggarap cewek yang putih cakep dan sexy dengan masih memakai seragam sekolah. Sesaat setelah Pamela orgasme, Rido juga sudah ingin segera memuntahkan seluruh isi penisnya. Ia menidurkan Pamela di sofa empuk itu, membuka kedua pahanya lebar-lebar, lalu ia segera akan memasukkan penisnya ke dalam vagina Pamela, ketika tiba-tiba,

“Pamela!”

“Ada apa lagi sih, EHHH…Pi?” Pada saat Pamela mengeluarkan suara

“EHHH” itu adalah saat dimana Rido dengan tak sabar lagi memasukkan penisnya ke dalam vagina Pamela.

Pamela sedang menatap Rido yang mengocok penisnya di dalam vaginanya, ketika ia mendengar Papinya berkata,

”Ada yang mau Papi omongin ke kamu. Papi kesitu bentar ya.”

“Eh! Jangan Pi. EHHH. Aku aja yang ke tempat EHHH Papi. Tunggu bentar deh Pi EHHH,” kata Pamela panik mendengar Papinya akan kesana sementara itu Rido lagi asyiknya menggoyang tubuhnya.

Pamela memukul-mukul lengan Rido, memberi isyarat supaya menghentikan aksinya, namun Rido yang sudah hampir keluar ogah menghentikannya malah dengan cuek terus saja menggenjot dirinya.

“Nggak apa-apa Papi aja yang kesana. Cuman mau ngomong sebentar aja kok,” katanya sambil berjalan ke depan menuju ke sofa.

Pamela mulai panik ketika ia mendengar langkah kaki Papinya mendekati dirinya.

“Nanti aja, Pi.” (Cleeb, cleeeb, cleeeb, sementara penis Rido terus mengocok vaginanya)

Namun suara langkah kaki itu semakin mendekatinya…

Ah, sudah terlambat, pikirnya pasrah. Sekarang sudah tak sempat lagi beresin pakaian. Apalagi posisi dirinya yang “dikunci” oleh Rido seperti ini.

Mati deh, gue.

Udah deh pasrah nasib aja, batin Pamela dengan lemas.

Suara langkah Papinya semakin dekat aja…sementara penis Rido masih berada di dalam vaginanya dan menggenjotnya.

Persis pada saat Papinya hendak melangkah masuk ke ruang tamu itu dan Pamela sudah bisa melihat bayangan Papinya dari lantai…

Tiba-tiba,

“Kriiiinngg, Kriiinnngg,” telepon Papinya di ruang kerjanya berbunyi.

“Ah, itu pasti client Papi lagi. Sebentar ya Papi terima telpon dulu,” kata Papinya sambil setengah berlari berbalik ke ruang kerjanya.

Aduuuh, leganya, batin Pamela seolah terbebas dari himpitan beban puluhan ton. Sementara itu, Rido terus mengocok penisnya di dalam tubuh Pamela, sampai akhirnya memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina Pamela. Entah ikutan tegang atau exciting, ia mengeluarkan sperma dalam jumlah yang teramat banyak. Setelah mengeluarkan seluruhnya akhirnya melemaslah penis Rido dan dikeluarkannya dari vagina Pamela. Sementara itu Pamela merasakan vaginanya berdenyut-denyut rasanya karena masih fresh baru dikocok oleh Rido apalagi dikocok abis seperti itu.

Ia mendengar Papinya telah selesai bicara di telepon dan kembali berjalan menuju ke arahnya. Kali ini, tak mau ketangkap basah, buru-buru ia merapikan pakaiannya. Dikaitkannya kembali branya, dikancingkan seluruh kancing bajunya. Sebelum Papinya sampai ke tempatnya, ia cepat-cepat mendahului keluar dari ruang tamu itu. Ia sudah tak sempat lagi memakai celana dalamnya yang saat itu tergeletak di atas meja kecil di dekat sofa (yang biasanya untuk menaruh minuman buat tamu). Biarin aja nggak usah pake celana dalam. Kalo mesti pake celana dalam lagi, salah-salah entar ga keburu. Toh gini juga Papi nggak akan tahu kalau sekarang aku nggak pake celana dalam, pikirnya.

“Memang Papi mau ngomong aja sih ke Pamela,” tanya Pamela kepada Papinya yang seketika menghentikan langkahnya begitu melihat Pamela muncul. Hati Pamela deg-degan dan waswas kalau-kalau Papinya tahu apa yang baru dilakukannya. Tapi ia sok pede aja. Saat itu jarak diantara keduanya kira-kira 4 meter.

“Papi ada urusan bisnis mendadak dan harus keluar kota besok pagi-pagi. Papi perlu pergi kira-kira seminggu. Karena itu Papi minta Tante Fania untuk nenemin kamu selama Papi nggak ada. Nggak baik anak cewek ditinggal lama-lama cuma dengan pembantu. Jadi nanti kamu mesti nurut sama omongan Tante Fania, ok?

“OK, nggak masalah Pi,” kata Pamela tanpa berpikir banyak.

Sementara ia sedang berbicara itu, Pamela merasa vaginanya masih berdenyut-denyut mungkin akibat baru selesai dikocok habis-habisan oleh Rido. Oleh karena sperma yang dimuntahkan di dalam vaginanya cukup banyak, ia merasakan kalau vaginanya kini “dripping” yaitu mengeluarkan sebagian sperma di dalamnya seirama dengan denyutan-denyutan yang dirasakan di vaginanya itu. Apalagi dalam posisinya yang berdiri begini dan tidak memakai celana dalam. Ia merasakan ada lelehan sperma yang keluar dari vaginanya menetes turun ke bawah membentuk anak sungai mengalir ke bawah membasahi bagian dalam pahanya di balik rok abu-abunya, bahkan ada yang turun ke bawah sampai kakinya dan diresap oleh kaus kakinya.

cerita panas 2016, cerita panas terbaru, cerita panas, cerita syur 2016, cerita syur terbaru, cerita syur, cerita lucah 2016, cerita lucah terbaru, cerita lucah,

Karena takut Papinya memperhatikan adanya cairan yang mengalir dari selangkangannya itu, ia merapatkan kedua kakinya sehingga sperma yang selanjutnya keluar tertahan oleh pahanya. Ia menggunakan rok seragam abu-abunya untuk meresap cairan itu. Sehingga kini rok abu-abunya menjadi basah berlendir di bagian belakangnya. Namun rupanya Papinya tidak memperhatikan hal itu. Karena tak lama setelah itu, Papinya kembali masuk ke ruang kerjanya.

“Sialan lu! Lu bikin gue ketakutan setengah mati tadi. Udah tahu mau jalan kesini, bukannya berhenti malah sengaja diterusin,” kata Pamela sewot sambil memukul tubuh Rido dengan tangannya.

“Ya gimana ya, soalnya tanggung sih,” kata Rido cengengesan,

“Udah hampir keluar masak diputus di tengah jalan.”

“Untung tadi ada telpon, kalo sampe ketauan Papi gimana?,” kata Pamela masih sewot.

“Ga bakalan lah. Buktinya barusan ga ketauan khan?” kata Rido dengan enteng..

“Kacau dah lu. Lain kali jangan gitu deh.”

“Udaah, jangan marah terus. Khan sekarang udah aman. Lagian tadi gimana, enak khan?” kata Rido sambil senyum-senyum.

Pamela masih cemberut, di dalam hati mengakui kalau pengalaman barusan sungguh menegangkan dan menakjubkan.

“Jangan lupa, ini dipake lagi,” kata Rido sambil menyodorkan celana dalam hijau muda ke arah cewek itu,”Nanti kasihan tamu bokap lu jadi kaget ngeliat ada cd lu ketinggalan disini,” katanya cengengesan.

“Gokil deh lu,” kata Pamela sambil segera merebut celana dalam miliknya itu dari tangan cowok itu.

Tak lama kemudian Rido meninggalkan rumah itu. Sehingga tidak ada orang lain yang tahu selain mereka berdua kalau saat itu Rido menyusup masuk ke dalam rumah itu (dan juga menyusup masuk ke dalam vagina anak cewek penghuni rumah itu).

Beberapa hari kemudian

Malam itu Pamela sedang tiduran di atas ranjang. Ia memakai pakaian tidur warna merah muda. Baju tidurnya seperti hem tangan panjang yang tipis kainnya.. Ia tidak memakai rok atau celana bawahan. Bajunya cukup panjang untuk menutupi celana dalamnya, meski tak cukup panjang untuk menutupi pahanya yang putih mulus. Karena posisi tidurnya yang telungkup, sehingga lekukan pinggulnya tampak menonjol. Rambutnya yang panjang diikat dengan gelang rambut sehingga nampak jelas lehernya yang putih. Sebagian gundukan payudaranya terlihat di balik celah kerah bajunya dalam posisinya yang telungkup itu. Ia nampak asyik membaca majalah remaja dan membolak balik halamannya. Sesekali ia mengubah posisi tubuhnya dengan memiringkan tubuhnya sehingga sesekali nampak tonjolan putingnya di balik bajunya yang tipis.

Karena ia memang tidak memakai bra. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan ke meja riasnya. Payudaranya ikut bergerak-gerak di balik bajunya seiring dengan langkahnya. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Payudaranya nampak lebih jelas lagi di saat ia berdiri seperti ini. Setelah selesai minum ia menatap refleksi dirinya dari kaca meja riasnya. Ia melihat apakah ada jerawat di mukanya. Namun tidak ada dan mukanya sama sekali mulus. Lalu ia merapikan rambutnya. Di usianya yang hampir 18 tahun, ia benar-benar seorang gadis muda dengan daya tarik seksual yang tinggi. Wajahnya cantik dan putih bersih. Tubuhnya juga sexy. Makin nampak sexy aja dengan baju tidur yang tipis begini. Kainnya yang tipis mengikuti lekuk liku dan tonjolan payudaranya. Kedua putingnya tercetak cukup jelas. Kedua pahanya putih mulus. Dan pinggulnya menonjol di balik bajunya. Ia nampak santai dan cuek dengan pakaian seadanya seperti itu. Karena memang tidak ada orang lain di dalam kamarnya itu.

Pada saat ia sedang menatap dirinya di meja riasnya, tiba-tiba terdengar suara sms masuk. Segera ia mengambil handphone-nya dan melihat sms itu. Ternyata dari Rido. Bunyi pesannya,

”Gue pengin mampir kesana besok sore. Situasi aman?” Lalu ia membalas,

”Jangan!!! Disini lagi ada nenek sihir.” Nenek sihir yang dimaksud Pamela adalah Tante Fania, saudara sepupu Papinya. Ia adalah seorang perawan tua karena usianya sudah 45 tahun dan belum menikah. Tampangnya judes dan cara berbicaranya ketus. Ia selalu memakai kacamata berbingkai warna hitam. Ia tidak terlalu suka dengan tantenya ini karena orangnya kolot dan suka sok mengatur. Apalagi terhadap gadis muda seperti dirinya yang dianggapnya harus dikekang dan dimonitor terus. Ditambah lagi ia dianggapnya terlalu berani dalam hal cara berpakaian. Menurut tantenya, seorang wanita apalagi gadis muda seumur Pamela tidak seharusnya berpakaian dengan menampilkan daya tarik seksualnya. Sungguh sial bagi Pamela, kali ini ia harus tinggal bersama tantenya itu selama hampir seminggu. Papinya ada urusan bisnis yang mengharuskannya keluar kota selama seminggu. Oleh karena itu ia meminta Tante Fania untuk tinggal di rumah itu selama ia keluar kota. Supaya Pamela ada temannya dan tidak sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Namun hal itu malah menjadi siksaan bagi Pamela.

Karena tantenya itu selalu menasehatinya hal yang sama terus menerus. Dan tantenya ini selalu berkomentar negatif mengenai pakaian yang dipakainya. Bahkan baju seragamnya pun juga tak lepas dari kritik, menurutnya kain bajunya terlalu tipis dan roknya terlalu pendek. Namun apa daya, karena Papinya selalu mempercayai saudara sepupunya untuk mengawasinya. Mungkin karena Tante Fania adalah satu-satunya saudaranya yang single. Sehingga lebih mudah untuk diminta tinggal disana. Setelah membalas sms Rido, ia balik lagi meneruskan bacaannya sambil tiduran.

Beberapa saat kemudian, ia hendak mengambil sesuatu di luar. Ia tahu kalau tantenya melihatnya pasti pakaiannya dikomentarinya. Namun dilihatnya lampu di ruang tengah sudah gelap. Pertanda bahwa tantenya dan pembantunya telah masuk ke kamarnya. Lalu ia keluar dari kamarnya dengan cuek. Akan tetapi selagi ia sedang di ruang tengah, tiba-tiba tantenya keluar dan menyalakan lampu. Begitu melihat tantenya keluar, Pamela menyapanya,

“Eh, Tante belum tidur?”

Namun tantenya malah menguliahinya,

”Aduh Pamela. Sudah berapa kali tante bilang. Pakaian kamu itu lho. Nggak siang nggak malam sama aja. Masa anak gadis kok pakaiannya seperti itu.”

“Ya khan nggak apa-apa kalo di rumah sendiri, Tante.”

“Biarpun di rumah sendiri tetap aja nggak pantas, Pamela. Sebagai anak gadis kamu harus selalu berpakaian sopan dan tertutup biar pun didalam rumah sekalipun. Bukannya pamer paha pamer dada seperti sekarang ini. Kalo ada cowok yang ngintip gimana?”

“Memang siapa yang ngintip, tante? Disini khan cuman ada tante dan Bi Minah..”

“Ya bisa aja kacung di rumah sebelah ngintip dari atas tembok. Memang kamu mau diintip sama kacung atau sopir sebelah? Masa kamu nggak malu?”

“Iih, kok tante ngomongnya begitu sih.”

“Dan lagi kamu itu kalo Tante kasih nasihat selalu nggak digubris. Coba lihat pakaian kamu itu. Kayak hampir telanjang aja. Kalo nanti kepergok tukang sampah gimana? Apalagi kamu nggak pake bra gini. Senang ya kamu diliatin sama tukang sampah. Jangan-jangan kamu sekarang juga nggak pake celana dalam juga.”

“Tante kok jadi ngomongnya gitu sih. Khan Pamela memang juga sudah mau tidur.. Dan lagi juga nggak ada siapa-siapa disini selain tante dan Bi Minah. Kalo ada orang juga Pamela nggak akan keluar kamar pake pakaian kayak gini doang. Pamela juga ngerti tante.”

“Kamu dari dulu bisanya selalu membantah aja kalo dinasehati orang tua. Jangan-jangan kamu memang suka ya dilihat telanjang sama cowok? Iya?! Kalo memang gitu, kenapa nggak sekalian aja lepasin baju kamu semua lalu keluar di jalanan! Biar jadi tontonan hansip dan kuli bangunan!! Atau sekalian kamu pengin digilir rame-rame?!”

“Iiih. Tante kelewatan deh!” kata Pamela dengan mata memerah.

Demikianlah dua perempuan berbeda generasi itu bertengkar. Tak lama kemudian, masuklah tantenya ke dalam kamarnya dengan menutup pintunya dengan keras.. Pamela pun juga mengikuti langkahnya dengan masuk ke dalam kamar sendiri dan menutup pintunya dengan tak kalah kerasnya. Demikianlah Pamela dan tantenya yang tak pernah bisa akur dari sejak dulu dan terutama beberapa tahun terakhir ini. Sebenarnya tidak semua nasehat tantenya 100% salah. Namun Pamela sukar menerimanya karena tantenya terlalu mendikte dan otoriter. Dan, diam-diam ada rasa iri di dalam diri tantenya terhadap Pamela apalagi sejak Pamela menginjak masa remaja. Karena Pamela semakin tumbuh berkembang menjadi gadis yang cantik dan menarik, sementara ia sendiri semakin memasuki usia tua bagaikan bunga yang memasuki masa layu.

Padahal ia masih single. Oleh karena itu, ia berusaha meredam daya tarik kewanitaan Pamela. Ia tak suka kalau keponakannya itu menarik perhatian para cowok. Dan perasaan iri tantenya itu bisa dirasakan oleh Pamela. Ia menganggap kalau tantenya itu pura-pura bermaksud baik menasehatinya padahal sebenarnya ingin membuatnya mengikuti jejaknya, gelorabirahi.com yaitu menjadi perawan tua dengan sama sekali tak pernah berhubungan dengan pria. Selain itu juga ia nggak suka dengan kata-kata tantenya yang pedas dan kasar itu, seperti kalimatnya yang terakhir. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi bad girl, untuk melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang diajarkan keluarganya selama ini. Sejak kecil ia sering mendapat petuah-petuah maupun ajaran-ajaran dari orang tua maupun kerabat-kerabat dekat lainnya:

“Kamu harus begini.”

“Kamu tidak boleh begitu.”

“Kamu harus kesana.”

“Kamu tidak boleh kesitu.”

“Anak baik tidak melakukan itu.”

“Anak papi harus rajin belajar.”

“Kamu harus patuh terhadap orang tua.”

“Kalo kamu nggak berbuat begitu, Papi nggak sayang sama kamu.”

“Kamu harus sekolah di sekolah X dan harus berprestasi.”

dst, dst, dst.

Sejak kecil ia tumbuh dan dibentuk sesuai dengan keinginan orang tua dan kerabat dekatnya supaya mereka bisa menggunakannya sebagai sarana untuk membanggakan diri kepada teman-temannya. Sementara hal itu mengorbankan dirinya karena ia sama sekali tidak mendapatkan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau berekspresi sesuai dengan keinginannya. Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya yang menyebabkan ia menjadi bad girl adalah…KEMUNAFIKAN! Kebanyakan keluarga dan kerabatnya sering memberi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang bagus-bagus. Namun mereka sendiri tidak menjalankannya, malah melanggar kata-katanya sendiri. Contohnya yang paling jelas adalah Papinya sendiri.

Papinya sok moralis dalam hal memberi nasehat tapi ia sendiri malah diam-diam mempunyai istri simpanan, tidak hanya satu tapi beberapa. Dan banyak lagi contoh yang lain. Oleh karena hal seperti itu menumpuk terus menerus dari sejak kecil dan hanya bisa dipendam di dalam hatinya, akhirnya diam-diam timbul benih-benih pemberontakan di dalam dirinya. Itu sebabnya mengapa tak ada resistensi yang cukup berarti dari dirinya saat Rido ingin melaksanakan kehendaknya untuk memerawaninya. Perbuatannya dengan Rido itu sungguh merupakan cara pemberontakannya dengan skala yang hebat. Image-nya selama ini sebagai seorang gadis yang sopan, alim, cantik, pintar, menarik, dari keluarga terpandang, dll, dsb.

Cara terhebat untuk memberontak dari citra yang sedemikian tinggi adalah dengan menyerahkan kegadisan dan kehormatannya kepada cowok ugal-ugalan, apalagi yang berbeda jauh dan kelasnya jauh lebih rendah di bawah standar keluarganya. Demikianlah, meskipun dari luarnya Pamela nampak seperti memiliki segalanya, namun sebenarnya ia tidak mempunyai pegangan hidup. Kini jadilah ia sebagai seorang gadis dengan image begitu tinggi namun punya sisi lain kehidupan yang parahnya sungguh di luar batas imaginasi yang paling liar sekalipun. After all, ia hanya meng-copy kelakuan dan kemunafikan orang-orang dewasa di sekitarnya. Beruntunglah Rido yang mengenal Pamela disaat yang tepat sehingga ia menjadi cowok pertama yang beruntung bisa mencicipi kegadisannya dan selanjutnya menikmatinya lagi, lagi, dan lagi.

****

Untuk mengurangi waktunya di rumah, Pamela lebih banyak pergi dengan teman-teman cewek sekelasnyanya. Itupun juga tak lepas dari kritikan tantenya.

“Aduuh Pamela. Masa rok kamu sependek itu. Nanti kalo naik eskalator, celana dalam kamu bisa diliat orang. Atau, Baju kamu itu terlalu ketat dan sexy. Lehernya terlalu rendah. Lihat dadamu sampe keliatan gitu.”

dll, dll.

Saat itu ia ikut-ikutan temannya memotong rambutnya sampai pendek. Sehingga kini rambutnya pendek seperti cowok. Namun hal itu tak mengurangi daya tarik dan kecantikannya. Selama hampir seminggu Pamela tersiksa dengan kehadiran Tante Fania. Dan selama itu pula ia benar-benar melarang Rido untuk datang meskipun beberapa kali ia memaksa ingin datang. Ia tidak mau mengambil resiko karena Tante Fania orangnya lebih teliti dan lebih suka ngurusin bahkan dibanding Papinya sekalipun. Namun, akhirnya kesampaian juga niatnya mengelabui tantenya. Pada hari terakhir tantenya tidak enak badan dan ia banyak tiduran di kamarnya.

Melihat hal itu, Pamela nekat memperbolehkan Rido datang ke sana dan segera dimasukkan di dalam kamarnya. Bagi Rido tentu kebetulan karena sudah lama juga ia tak menikmati diri Pamela. Beruntunglah Pamela, karena saat Rido datang, tantenya masih tidur di dalam kamarnya. Diam-diam ia memasukkan Rido ke dalam kamarnya. Sehingga tanpa diketahui orang lain termasuk tantenya yang jeli, mereka berdua “adu gulat” dan bersenang-senang di atas ranjangnya di dalam kamarnya. Apalagi Rido, melihat Pamela sekarang berambut pendek, menjadi tambah bernafsu. Ia ingin mencicipi “rasanya” Pamela dengan rambut pendek dan membandingkannya dengan saat berambut panjang. Dan hasilnya ternyata nggak mengecewakan.

Malah kini ia bisa melihat lebih jelas bagian-bagian tertentu tubuhnya (leher, bahu, dan dadanya) yang sebelumnya tertutup rambutnya. Dan Pamela juga mendapatkan kepuasan tersendiri. Karena selain Rido (yang lagi-lagi) mampu membuatnya orgasme, pada akhirnya ia berhasil mengelabui tantenya. Saat itu sempat tantenya mengetuk kamarnya dan mengajaknya berbicara dari luar, yang dijawabnya dari dalam kamar. Padahal saat berbicara dengan tantenya itu, tangannya sedang mengocok penis Rido. Dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan payudaranya lagi diremas-remas oleh Rido. Dan tantenya sama sekali tidak tahu hal itu sampai akhirnya Rido meninggalkan rumahnya.

Masih gantung ya ceritanya… tunggu deh.. nanti kita lanjut lagi ya guys…. cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks,

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.