Vimax cerita ngentot Cerita Dewasa Cerita Sex Terbaru
Breaking News
cerita dewasa Cerita Mesum Cerita Mesum Cerita Dewasa Cerita Sex cerita dewasa terbaru

Cerita Lucah, Mrs Sex And Friend 1

Vimax

cerita panas 2016, cerita panas terbaru, cerita panas, cerita syur 2016, cerita syur terbaru, cerita syur, cerita lucah 2016, cerita lucah terbaru, cerita lucah, Namaku Trimin Anwar, aku bekerja sebagai sopir sekaligus tukang kebun dikeluarga Chinese yang tergolong kaya raya, kerjaku tergolong mudah yaitu mengantar putri tunggal mereka, Morine, ke sekolah. Morine memiliki wajah yang cantik, agak nakal, genit dan galak, ia mempunyai dua orang teman akrab yang satu bernama Nia, ia bertubuh langsing dan pemalu dan yang satunya bernama Sandy yang sifatnya periang dan suka bercanda. Mereka juga cantik-cantik, putih dan mulus. Tadinya aku bersikap acuh terhadap kegiatan mereka bertiga namun lama kelamaan aku menjadi penasaran apa saja yang mereka bertiga lakukan di halaman belakang yang dengan kerasnya dilarang dimasuki olehku, rasa penasaran setiap hari semakin membesar dan aku berniat mengintip apa saja yang mereka bertiga lakukan.

Pada Tanggal 2 Februari Nia dan Sandy bermain kerumah dan seperti biasanya mereka bermain dihalaman belakang rumah. Dengan hati-hati aku membuka pintu menuju halaman belakang dan melihat sesuatu yang menggetarkan seluruh jiwaku.

kisah sex 2016, kisah sex terbaru, kisah sex, kisah seks 2016, kisah seks terbaru, kisah seks, Gelora birahi, kisah dewasa 2016, kisah dewasa terbaru, kisah dewasa, kisah mesum 2016, kisah mesum terbaru,kisah mesum,

Bagaikan tersambar petir disiang hari aku melihat Morine, Nia dan Sandy sedang asik saling meraba dan berciuman satu sama lain, pakaian renang melekat ditubuh mereka. Otakku langsung menyala membara dengan nafsu yang bergejolak, rupanya ini yang selalu disembunyikan oleh mereka bertiga, entah sudah berapa lama mereka berdua menyimpan rahasia besar dihadapanku, namun dilihat dari cara mereka berciuman dan meraba sepertinya masih amatiran, pikiran kotorku langsung bekerja.

“Ehmmmm-ehem!” dengan sengaja aku muncul dan mengagetkan mereka bertiga.

“Awwww!!” ketiganya sangat terkejut,

“Mang Trimin ngapain sihhhh… kan udah dibilang ngak boleh masuk!” Morine tampak kesal dan cemberut.

“Gimana non enak yahhhh???”Aku dengan santai menghampiri mereka.

Morine sepertinya akan membentakku lagi namun Sandy tiba-tiba menarik Morine dan berbisik sesuatu ditelinga Morine,

“ihhhhhh ngakkk ahhh…” Morine sepertinya keberatan entah apa yang dibisikkan ditelinganya. Sandy berbisik sesuatu lagi ditelinga Morine. Kemarahan Morine tiba-tiba seperti menghilang kini ia memandangiku dengan tatapan yang nakal.

“Iya juga…. Hmmmm” Morine seperti menimbang-nimbang sesuatu, kemudian ia mengangguk pada Sandy yang tersenyum dengan ceria. Sandy menghampiriku dan kemudian ia berkata

“Karena mang Trimin sudah mengintip maka mang Trimin harus dihukum…” Sandy terkekeh-kekeh.

“Dihukumm ?” Aku bertanya tidak mengerti.

“Iya.. mulai sekarang Mang Trimin harus mau jadi boneka.. buat kami…”jawab Morine.

Aku memandang tidak mengerti namun dengan memberanikan diri, Sandy menjelaskan kepadaku tentang keingintahuan mereka terhadap anatomi laki-laki, sekata demi sekata diucapkan dengan terbata-bata.

“Hmmm maksudnya ingin lihat kemaluan pria begitu…?”Aku tersenyum , melihat wajah ketiga gadis Chinese dihadapanku merona merah.

Tanpa banyak berkata-kata aku segera mebuka baju dan celanaku dan terakhir kulepaskan celana dalamku dan kata-kata seperti

“Wahh…..,Uhhhhh….dan Ihhhh” terdengar dari mulut ketia gadis Chinese dihadapanku yang memandangi kemaluanku sambil melotot. Oh iya aku lupa menyebutkan jati diriku , aku asli orang Sunda, Usiaku 54 tahun, tinggi tubuhku 1,87 meter dan tubuhku gemuk dan besar, kulitku hitam legam dan rambutku ikal dan beruban, wajahku tadinya rada ganteng namun menjadi rusak tidak karuan karena terbakar demikian juga bagian tubuhku yang lain penuh dengan bekas luka bakar, Untungnya kemaluanku tidak ikut terbakar. Panjang kemaluanku 19.4 cm dengan dihiasi oleh otot-otot yang melingkar, makanya para amoy dihadapanku melotot melihat kemaluanku yang besar dan panjang.

“Mmmhhh Mang Trimin sekarang harus duduk disono…” Morine mundur dan tampak gugup ketika kuhampiri.

Aku tersenyum , aku menuruti kemauannya dan duduk dikursi sofa.

“Nahhh… sekarang terserah kalian ingin ngapain saya terima”Aku mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar. Sandy mendorong Morine sambil berkata

“Morine maju gihhhh !! kan sopir kamu tuh….”, Morine bertahan tidak mau maju sambil memandangi risih kemaluanku

“Ehhh ngakkk ahhh kamu dulu gihhh….” Morine malah mandorong tubuh Sandy. Kedua gadis itu sibuk saling mendorong sambil tertawa-tawa kecil, namun kemudian mereka terdiam sambil memandangi Nia.

“Kalo gitu si nia aja duluan… serbuuuuuuu” Morine memberikan perintah dan mereka berdua mendorong Nia yang tampak gugup dan terkejut.

“Ehhhhh lohhhh ??? ngakkk akkhhhh duhhhh Morine… Sandy” Nia Protes, ia tampak ketakutan dan menghindar dari kedua temannnya. Kini Aku mengocok-ngocok kemaluanku sambil memandangi wilayah terpenting Sandy.

“Ngapain sihhhh….” Sandy memandangiku dengan curiga, aku hanya tersenyum-senyum.

“Yang ini lebih enak ketimbang ciuman.. he he he” Aku terus mengocok-ngocok kemaluanku. Morine kini berusaha mendekatiku dan ia duduk bersujud sambil memperhatikanku yang sedang asik mengocok-ngocok kemaluanku. Sandy ikut bersujud didekat Morine sedangkan Nia dengan malu-malu hanya berdiri disamping kedua temannya.

“Emangnya dikocok-kocok gitu kayak apa enaknya sih?” Morine bertanya sambil memperhatikan tanganku yang sedang mengocok-ngocok kemaluanku.

“Wah yang pasti asik banget non… pokoknya sulit deh ngejelasinnya tapi kalo Non Morine mau nyoba ngocok-ngocok penis pasti ketagihan….soalnya asik berat deh”Aku mulai memasang jaring beracunku agar ketiga gadis dihadapanku mau mencoba memainkan kemaluanku.

“Nihhhh cobainn….”Aku menggeser tubuhku sambil menyodorkan kemaluanku.

“Eehhhh ngak… ngakkkk……” Morine malah mundur, aku jadi kecewa namun…

“Ehhh……”Aku sempat tersentak ternyata Nia yang tadinya pendiam kini ikut bersujud dan tanpa ragu-ragu berani mengelus batang kemaluanku bahkan ia berani menggenggamnya. Ternyata….hmmm…entah apa yang dikatakan Nia, tapi yang pasti ia meremas-remas batang kemaluanku.

“Efuhh…. Niaaaaa….”Sandy tampak kaget dengan keberanian Nia, sedangkan Morine malah bertanya penuh selidik

“Gimana ??”tampaknya Morine penasaran.

“Hangat…. Trusss kadang-kadang berdenyut-denyut… kayak hidup….” Nia menjelaskan.

Kini Sandy mulai mengelus-ngelus batang kemaluanku

“Besar amattttt…. Ihh urat-uratnya gede…” Sandy mengomentari kemaluanku. Jari telunjuk Morine kini menekan-nekan mulut kemaluanku sehingga kemaluanku berdenyut kencang, terlebih ketika Morine menarik-narik kepala kemaluanku sambil berkata

“hehehe kayak helm, cuma yang ini gak bisa dilepas”. Aku semakin mengangkangkan kedua kakiku agar tiga gadis Chinese yang bersujud dihadapanku dapat lebih leluasa memainkan kemaluanku. Hampir selama dua jam mereka bertiga mempermainkan kemaluanku , dan aku mulai merasakan tekanan yang besar di kepala kemaluanku dan

‘Crettt… Croottt’. Sesuatu tiba-tiba menyembur dengan kuat dari kepala kemaluanku.

“Aww…. Ikkkh…aduhhhhh apaaan nihhhh” Morine yang berada ditengah-tengah memekik karena bahunya tersemprot air maniku.

“Uhhh…. Lengkettt……bauuu” Tangannya berusaha membasuh air maniku yang sangat banyak berceceran dibahunya.

Sementara Sandy cekikikan mentertawakan Morine, Nia tersenyum-senyum kemudian menyusul tertawa terbahak-bahak. Semenjak hari itu aku memasuki sebuah masa yang sangat menyenangkan, aku menjadi mainan tiga orang gadis Chinese yang cantik dan mulus.

 

########################

 

Pada hari itu seperti biasa aku menunggu Morine dan teman-temannya ditempat parkir sekolah yang sepi, mataku sudah lima watt karena mengantuk tiba-tiba….

“Tok-tok-tokkkk…”Aku mendengar suara kaca mobil diketuk seseorang. Segera kubuka kunci pintu mobil dan Morine segera masuk kedalam.

“Mang buka cepet!” ia menyuruhku membuka celanaku.

“Hahhhh… nanti gimana kalau ketauan?” aku agak tidak leluasa bermain didalam mobil kijang.

“Ngak akan…. yang laen kan lagi jam isitirahat…ayo manggg buruan!” Morine tidak sabaran mengulurkan tangannya dan memaksa membuka resleting celanaku.

Aku membiarkannya melakukan keinginannya dan mengeluarkan kemaluanku.

“Ayooo manggg keluarin yang putihnya….aku pengen liat lagi” tangan Morine mengocok-ngocok kemaluanku, aku mengerti rupanya ia ingin agar aku mengeluarkan air maniku, otakku berpikir dengan cepat.

“Aduh… susahh Non, kecuali kalau mau membantu dengan….”aku tidak melanjutkan kata-kataku

“Dengan apa mang?” Morine tidak mengerti dengan maksudku.

“Diisep Nonn… pake mulut.” aku memandanginya dengan tatapan meyakinkan.

Morine menghentikan kegiatan mengocok-ngocok kemaluanku wajahnya merah padam namun bukan marah tapi malu. Aku mencoba mengambil inisiatif, tanganku bergerak kebelakang kepalanya dan aku menarik dan menekan kepala Morine kearah kemaluanku,

“buka mulutnya Non!” aku memerintahkan Morine, entah kenapa Morine yang biasanya agak nakal dan galak ini tiba-tiba berubah menjadi penurut.

“Hhmmmm…” Morine hendak menarik mulutnya ketika kepala kemaluanku mulai masuk kedalam mulutnya tapi aku menekan kepalanya lebih keras sehingga kemaluanku masuk lebih dalam kedalam mulut Morine.

“Sedot Non… Ayoooo!” aku membujuk Morine agar mau menyedot kemaluanku.

“Mmmmmmhhh… Mmmmmmmm” Morine mulai melakukan sedotan-sedotannya. Aku membelai-belai rambutnya kemudian belaianku turun kepundaknya Morine dan perlahan-lahan turun mengelus-ngelus pinggul Morine, gelorabirahi.com aku tersenyum senang karena biasanya Morine tidak mengizinkan Aku untuk menyentuh tubuhnya namun kini tanganku merayap perlahan-lahan ditubuhnya. Morine mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya, matanya memandangi kepala kemaluanku dan

“Ihhhh asinnn…”namun kemudian dengan lahapnya Morine mengemut kepala kemaluanku, dikeluarkan dan kemudian diemutnya lagi berkali-kali.

“Tenggg… tenggg… tenggg!!” tiba-tiba bel berdentang sangat keras tanda jam istirahat sudah usai. Morine mendesah panjang sepertinya ia kecewa

“Sudah nanti kita lanjutkan di rumah…. Pasti lebih asoyyy… dan kalau mau nanti mang ajarkan yang lebih seru.”Aku menarik pinggangnya dan

“Hmmmm… mhhh” Morine sedikit berontak ketika aku tiba-tiba mengulum bibirnya namun perlawanannya perlahan-lahan sirna dan

“Auffff…. Sudah manggg aku sudah terlambatt…” Morine mendorong bahuku kuat-kuat, kemudian ia keluar dari mobil dan berlari kecil menuju kelasnya. Aku tersenyum senang , dengan bersemangat aku menunggu Morine dan teman-temannya sampai mereka selesai sekolah dan kemudian dengan mengebut aku menuju rumah Morine.

Para gadis itu masuk kedalam, sedangkan aku buru-buru memarkir mobil kemudian menyusul masuk kedalam rumah dan menuju halaman belakang tempat dimana ketiganya sudah menungguku. Tanpa basa-basi aku melepaskan pakaian dan celana panjangku, kemudian duduk dibangku favoritku sedangkan mereka duduk bersujud dihadapanku, seperti biasa mereka berebutan mengelus-ngelus dan mengocok-ngocok kemaluanku.

“Morine mau ngemut lagi kayak di lapangan parkir tadi nggak?” aku mulai memasang siasat baru.

“Ehhhh…. ” Morine tampak terkejut dan terpaku diam sedangkan Sandy malah bertanya dengan polos, “Ngemut apaan Fei?” sedangkan Nia memandangi temannya, sepertinya ia masih tidak mengerti.

“Tadi Non Morine di lapangan parkir ngemutin penis Mang Trimin” aku menjelaskan.pada kedua temannya apa yang terjadi tadi sewaktu jam istirahat dilapangan parkirr.

“Haaahhh!” suara itu keluar hampir bersamaan dari mulut Nia dan Sandy. “Gilaaaa… lo Feii…. Ehhh rasanya gimana…..” Sandy bertanya pada temannya. “Ehhhh… it-ituu….” Morine kesulitan menjawab.

Aku langsung memanas-manasi, “Kata Morine siang tadi sih, rasanya enak bangett… trusss katanya mau dilanjutkan dirumah, malahan minta diajari berciuman dll…dan juga minta dijilati dirumah, terus diremas dan dielus juga teteknya” kusebutkan semua jenis pelajaran ngeres yang ada diotakku.

Morine hanya menatapku, dia tidak tahu harus berkata apa tapi dia juga tidak membantah perkataanku.

“Ihhhh…Mang Trimin curang!” Sandy tiba-tiba ngambek.

“Lohhhh curang bagaimana Non?” aku tidak mengerti.

“Iyalah curang masak Morine doang yang diajarin?” Nia yang agak pemalu membuka suara.

“Jadi…. Non Sandy dan Non Nia juga mau diajari sama mang Trimin?” aku tersenyum lebar.

“Tapi apa beneran enak?” Nia bertanya dengan ragu-ragu.

“Sini…. Huppppp!” kuraih tubuh Nia dan mendudukkannya dipahaku.

Nia berontak namun kutahan, kupeluk pinggangnya dan kusergap buah dadanya. “Ahhhh… ehhhhhh….. Mangggg” Nia merapatkan kedua kakinya ketika tanganku menyusup masuk kebalik rok seragam sekolahnya, namun itu semua tidak menjadi halangan bagiku untuk dapat menikmati kehalusan paha Nia. Ciuman-ciumanku mendarat dilehernya, pipinya dan juga dibibirnya yang lembut.

“Hmm…mhhh” kukulum bibir Nia sedangkan kedua tanganku kini dengan aktif meremas-remas lembut kedua buah dadanya yang masih ketakutan bersembunyi dibalik baju seragam sekolahnya.

“Whowwwww……. Wahhhh” Sandy memandangi temannya yang merem melek karena kuremas-remas buah dadanya.

“Jangannn ahhhh….” Nia mencegah tanganku yang hendak membuka kancing baju seragamnya

“Nggak apa-apa Non, lagian Non Morine juga tadi kubuka baju seragamnya…..betul nggak Non Morine? hehehe” aku berusaha menenangkan Nia.

Nia memandangi Morine seolah-olah menanti jawaban, namun Morine malah memandangi dengan tatapan kebingungan, pada saat itulah aku mengambil kesempatan emas, dengan cekatan aku membukai kancing baju seragam Nia kemudian bra putihnya juga aku lepaskan.

“Mang Trimin….aahhh!” Nia agak protes ketika aku dengan kasar meloloskan bra putihnya.

Kedua tangan Nia berusaha menutupi kedua buah dadanya dari tatapan mataku, ambil mengelus-ngelus pahanya aku melanjutkan permainanku, kujilati lehernya yang jenjang. Aku menarik tubuh Nia sehingga buah dadanya sejajar dengan mulutku kemudian kusibakkan rok seragamnya, jari tanganku mulai berkeliaran didaerah seputar selangkangannya.

“Uhhhh……” ia tersentak secara reflek kedua tangannya memegangi tangan kananku yang menyusup masuk kedalam celana dalamnya.

“Sssshhh…aahh….” Nia mendesah ketika tanganku menggesek-gesek bibir vaginanya.

Perlahan-halan kedua kakinya semakin mengangkang ketika aku semakin aktif menggesek-gesek bibir vaginanya dengan lembut.

“Aowww…akhh…Mang Trimin!” mata Nia sampai terpejam-pejam ketika aku memadukan seranganku dengan jilatan dan emutan dibuah dadanya yang ranum.

“Achhhh Crrrt…cccrrrttt!” tubuh Nia mengejang, kemudian tanganku yang masih asik menggesek-gesek bibir vaginanya merasakan ada sesuatu yang meleleh dan terasa sangat hangat membasahi tanganku.

“Basahhh non… dibuka aja yahh….”Aku berusaha menarik celana dalam itu agar terlepas namun kedua tangan Nia mempertahankan celana dalamnya, wajahnya seperti ketakutan, kukecup bibirnya yang setengah terbuka.

“Gimana Nia enak?” Morine bertanya pada temannya, sedangkan Sandy yang tadinya ceria kini tertegun memandangiku.

Aku bangkit berdiri dan kemudian menarik tubuh Morine agar duduk diatas sofa disebelah Nia dan berkata

“lebih baik Non Morine merasakannya sendiri daripada harus bertanya-tanya” Akupun berjongkok dihadapan nona majikanku itu.

Tanganku berusaha menyentuh bagian dada Morine yang masih tertutup rapi oleh seragam sekolahnya namun kedua tangannya berkali-kali menepiskan kedua tanganku. Aku tersenyum kini wajahku yang mendekat kewajah Morine.

“Kalau ciuman kayak tadi siang boleh kan Non?” aku berusaha mengingatkan Morine pada kejadian tadi dilapangan parkir.

Dari tatapan matanya sepertinya ia sedang bimbang, dalam kamusku kebimbangan berarti kesempatan emas. Aku langsung mengulum bibirnya yang tipis itu.

“Hmmmm… Mmmmm” suara erangan tertahan Morine, kedua tangannya kini melingkar ke leherku.

Tanganku bergerak perlahan-lahan, menyusup mengelus paha mulusnya, perlahan-lahan sambil terus berciuman aku menyibakkan seragam sekolahnya keatas sehingga kini kedua tanganku dapat bergerak lebih leluasa menikmati kemulusan dan kehangatan pahanya. Kedua tanganku bergerak dan kini sedikit demi sedikit celana dalam Morine kutarik turun, dengan sekali sentakan kutarik celana dalam itu sampai merosot turun.

“Ihhhh!” kedua tangannya serentak mendorong bahuku sehingga ciuman kami lepas.

Morine hendak mempertahankan celana dalamnya namun nafsuku sudah meledak-ledak, dengan kasar kutekan bahunya sedangkan tangan yang satunya menyentakkan celana dalam Morine sampai robek

“Brtttt…. Owww…. Plak!” Morine kaget setengah mati ketika celana dalamnya kurengut dengan paksa sehingga ia menamparku dengan keras.

Aku hanya tertawa kecil, kedua tanganku kini menangkap kaki kanan dan kaki kirinya, kuangkat dan kudorong kedua kaki mulus itu sampai tertekuk mengangkang, kemudian mulutku segera menciumi selangkangannya.

“Uhhhhh… heiiii Mang akkkhhh! ” Morine menjambak rambutku dan mencakar-cakar namun itu semua tidak kupedulikan, lidahku bergerak liar menjilati bibir vagina yang merekah itu. Kedua temannya seperti terhipnotis hanya melihat saja, mereka tertegun kaget.

“Rida… Nia…to…tolong…aww!” Morine memekik kecil ketika aku mengecup-necup kasar bibir vaginanya.

Kedua temannya seperti tersadar kemudian mereka berdua berusaha membantunya.

“Manggg Trimin sadarrr…mangggg! ” Sandy berusaha menarik bahuku.

“Morinennn… aduhhhhh….. gimana ini?” Nia kebingungan karena keganasanku.

Walaupun Nia dan Sandy berusaha keras namun apalah artinya tenaga dua orang gadis muda dalam melawan nafsuku, perlawanan Morine yang terus menjambak dan mencakariku walaupun terasa sakit namun terobati karena aku dapat melampiaskan keinginanku. Aku melumat kuat-kuat bibir vagina nona majikanku, lidahku bergerak liar mengorek-ngorek sela-sela diantara bibir vaginanya, kemudian kujulurkan lidahku semakin dalam berusaha menerobos celah-celah diantara bibir vagina dan kukait-kait daging yang ada didalamnya.

“Achhhh… Mangggg Triminiii…jangan!” Morine kini bersandar pasrah, kedua tangannya tidak lagi menjambak dan mencakariku. Kedua tangan itu kini meremas-remas kepalaku, ia tampak pasrah.

Nia kini tidak menarik-narik bahuku lagi, demikian juga Sandy, keduanya saling bengong kebingungan. Aku melepaskan kedua kaki Morine, kini tanganku terjulur, satu persatu kulepaskan kancing baju seragamnya, kedua matanya hanya dapat terpejam rapat ketika aku menarik cup branya sebelah kini dan mulutku mendekati buah dadanya yang kini terpampang begitu ranum dan segar dihadapan mulutku.

“Slllppppp…slllpphh…” kujilati bulatan buah dada Morine.

Ia merintih kecil ketika lidahku menjilati puting susunya yang mulai mengeras. Kini cup bra sebelah kanan kutarik turun sehingga tersembullah buah dada sebelah kanannya. Dengan rakus kuhisapi buah dada itu sambil meremas-remas yang satunya secara bergantian. Setelah puas menciumi buah dadanya, ciumanku merambat turun, keperut dan kemudian sambil menghirup dalam-dalam aroma vagina Morine aku menjilati vaginanya kembali.

Kedua tanganku bagaikan capit kepiting meremas-remas buah dada Morine, sedangkan mulutku melumat dan lidahku menjilati lubang vaginanya.

“Akhhh…mmhh…nggghhh!” Morine mengejang dan tubuhnya bergetar hebat, aku yang sudah tahu gejala ini menhisap kuat-kuat lubang vaginanya dan

“Awww!!” SSrrrrrrr…cairan orgasme Morine yang gurih tumpah kedalam mulutku, tanpa merasa jijik kutelan cairan bening itu, bahkan sisa dari cairan gurih itu aku jilati dan aku telan dengan rakus. Mataku memandangi Sandy, satu-satunya dari ketiga gadis itu yang masih berpakaian utuh.

“Ehhh… Oww!!” Sandy menghindar ketika aku akan menangkapnya, ia berlari ketakutan, kukejar dia. Sandy mencapai pintu dan akan keluar dari halaman belakang namun sayang sekali

“Aduhh lepasss…. Tidak!!” tangan kirinya berhasil kutangkap dan segera kupinting dan kutarik kembali ke halaman belakang, kuseret ia kehadapan Morine dan Nia yang memandangi Sandy tanpa mampu berbuat apapun, rupanya mereka masih shock dengan apa yang kulakukan terhadap diri mereka. Kutekan bahu Sandy sambil terus memiting tangan kirinya, ia bersujud dengan gaya doggy style, tangannya yang satu menempel dilantai untuk menopang berat tubuhnya.

“Aduhhh mangg Trimin sakittt!” Sandy mengaduh, tapi aku tidak mempedulikannya.

Tangan kananku bergerak menyibakkan rok seragamnya dan kutarik turun celana dalam putih Sandy sampai sebatas lutut, tangan kananku meremas-remas dan mengelus-ngelus buah pantatnya dengan lembut. Tangan kananku kini bergerak melucuti kancing baju seragam Sandy. Dalam posisi dipiting tangannya Sandy tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya dapat memohon kepadaku agar melepaskannya.

“unngghhh!” mulutnya melenguh ketika tangan kananku menysup masuk kebalik branya.Cerpen Sex Aku memiting tangannya lebih kuat dan

“Aduhh ampunnn manggg! Aahhh!” Sandy kesakitan.

“Asal Non janji tidak lari aku akan melepaskan Non…gimana?” aku berbisik ditelinganya.

Sandy mengangguk, kemudian kulepaskan tangan kiri Sandy kini kedua tangan Sandy bertumpu dilantai, ia masih tidak berani bergerak, aku bergerak dibelakangnya , kugesek-gesekkan kemaluanku diantara sela-sela pantatnya yang terasa lembut dan hangat, masih dalam posisi doggy style kutarik pinggangnya sehingga posisinya lebih dekat dengan tubuhku, tanganku bergerak menelanjangi pakaian seragamnya dan juga melepaskan branya, dari belakang aku meraih kedua payudara montok itu. Sandy kemudian sambil bergerak maju mundur menggesek-gesekkan kemaluanku pada sela-sela pantatnya, aku meremas-remas lembut buah dadanya.

“Hhhhssshhh… Hhhhh….” nafas Sandy terdengar memburu.

Cukup lama aku memperlakukan Sandy seperti itu, kemudian kepalaku mendekati buah pantatnya yang sedang menungging, kuciumi pahanya dan terus naik keselangkangannya dari belakang mulutku menjilati vagina Sandy yang sesekali kulanjutkan dengan menjilati lubang anusnya, bahkan sesekali lubang anus Sandy aku emut-emut.

“Ahhhh manggg….”rintihan demi rintihan keluar dari dalam mulutnya.

Sandy tersungkur lemas ketika kenikmatan itu melanda dirinya. Telapak tangan kiriku bersiap-siap tepat dibawah vagina Sandy menerima lelehan air lengket yang hangat, dengan tangan kananku kukorek sisa-sisa air yang meleleh itu kemudian aku menumpahkan cairan lengket dan licin itu tepat disela-sela pantat Sandy.

“Ehhhhh…Mang!” Sandy yang masih menungging menengok kebelakang.

Aku tersenyum kemudian kuletakkan kepala kemaluanku diantara sela-sela pantat Sandy dan kugesek-gesekkan kepala kemaluanku diantara sela-sela pantat Sandy yang sudah banjir oleh cairan orgasmenya sendiri, sesekali kutekankan kuat-kuat kepala kemaluanku disela-sela pantat Sandy. Sehingga dirinya tersungkur,

“Owwww duhhhhh…apa ituuuu kecrotttttt crooooootttt” Sandy merangkak menjauh kemudian ia membalikkan tubuhnya sambil duduk agak mengangkang diatas lantai, ia memandangi diriku, tangannya berusaha melap sesuatu milikku yang kini meleleh sangat banyak dari sela-sela pantatnya, kemudian Sandy merangkak lagi dan naik keatas sofa, ia duduk disebelah Morine. Ketiga gadis Chinese itu kini memandangiku, aku balas memandangi mereka, entah berapa lama kami saling berpandangan tanpa bicara satu sama lain. Entah apa yang dipikirkan oleh ketiga gadis Chinese yang kini sudah bugil dihadapanku, sedangkan aku sudah pasti menikmati indahnya lekuk liku tubuh ketiganya. Aku kini bangkit dan menghampiri mereka.

“Mangg Triminii….diam ahh!!” Sandy menepiskan tanganku yang akan meraih buah dadanya. Aku kini bersujud dihadapan mereka

“Gimana…. Pelajaran dari mang Trimin? Asik kan.?” aku tersenyum.

“nanti kita belajar lagiii… mang Trimin jamin bakal lebih asikkk!” aku memutuskan secara sepihak.

“Tapiii…jangan kayak tadi ahhhh….Kan takuttt” Nia protes

“Iya tanganku juga sakitkan manggg….dipelintir kaya gitu!” Sandy ikut protes, yang tidak protes Cuma Morine.

“Iyaaa… nanti caranya agak beda… asal nurut… jangan lari.. apalagi melawan…he he” kupandangi ketiga pasang buah dada yang ranum dan segar dihadapanku.

“Plakkkkk!” aku tersentak ketika tiba-tiba Morine menamparku, aku tidak mengerti megapa tiba-tiba ia melakukannya.

“Dasar brengsek!! Jangan kurang ngajar maen paksa segala….keluar sana!!” sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dengan hati yang pedih aku keluar dari halaman belakang

“Morinen udah dong ahh… koq kasar gitu sih!!” terdengar suara Sandy dan Nia yang mengasihani diriku.

Hari itu merupakan sebuah kebahagiaan sekaligus sebuah kepedihan yang mendalam dihatiku. Harga diriku sebagai laki-laki sudah dicoreng oleh Morine, namun ada kebahagiaan diantara kepedihan karena aku dapat menikmati kehangatan dan kemulusan tubuh ketiga gadis Chinese walaupun tidak sampai melakukan persetubuhan.

Kali ini Aku dan tiga gadis Chinese berada diruangan keluarga,

“Cuppp…. Cupp Cuppp”aku sedang asik menciumi Sandy, mereka bertiga masih berpakaian lengkap duduk dihadapanku, sedangkan aku bersujud dibawah kaki mereka. Sandy menggelinjang dan merintih lirih ketika ciumanku semakin turun kebawah dan mengendus-ngendus juga mengigit-gigit kecil bagian dadanya ang masih rapi terbungkus seragam sekolahnya, lidahku menyelinap liar dari sela-sela seragam sekolah Sandy   .

“hmmm errrhh… Sandy semakin legit deh..”Aku memujinya.

“Legitt ? emangnya ketan… he he he”Sandy terkekeh-kekeh, tangannya membelai kepalaku yang masih asik menggeluti bagian dada Sandy dengan lembut.

“Morine… titit mang Trimin berdiri tuhhh….  Kasiann sendirian berdirinya kayak lagi nunggu Angkot”Sandy tersenyum genit. Morine cekikikan sedangkan Nia tertunduk malu dan pura-pura tidak melihat kemaluanku. Aku berdiri dihadapan Tiga Gadis Chinese, tanpa harus diperintah Sandy yang berada ditengah langsung menjilati kepala kemaluanku, Morine dan Nina menciumi batang kemaluanku, Batang kemaluanku seperti piala bergilir , sebentar ditarik oleh Sandy, sebentar kemudian sudah ditarik kekanan Oleh  Morine dan sebentar lagi ditarik kekiri dibelai-belai oleh  Nia, Sambil menciumi dan menjilati Kemaluanku ketiga  Gadis Chinese sesekali bercanda , tawa mereka berderai merdu, semakin lama nafsuku semakin naik keubun-ubun, aku kembali bersujud dihadapan ketiga  Chinese , kudorong bahu  Morine agar ia bersandar kebelakang, Tanganku kini menyibakkan rok seragam  Morine sehingga pahanya yang kuning langsat kini terpampang dihadapanku.

Aku memandangi wajah  Morine, aku berusaha menarik turun celana dalam putihnya,  Morine  hanya tertawa lepas sambil menepiskan kedua tanganku.

“Mau ngapain hayooo… he he he” Sandy tertawa , suaranya terdengar begitu merdu dan menggoda.

“Ngak boleh ahhh… Sono gih berobah dulu jadi si Bleki…..Ayo menggongong….” Morine menyuruhku. Terus terang aku sering tersinggung dengan permintaan  Morine yang aneh-aneh dan berulang kali menyakiti perasaanku sebagai laki-laki, namun demi sedikit kenikmatan aku terpaksa mengorbankan harga diriku. Dengan menahan rasa sakit hati aku berusaha mengikuti permintaannya , aku merangkak dan menggongong

“Guk… Gukkkk Grrrhh…..”Aku menggeram-geram dan menggongong layaknya seekor Anjing,  Morine tertawa terbahak-bahak , Sedangkan kedua  Chinese Lainnya tampak prihatin dengan keadaanku.

“Heh… sini… jilati nih!!!” Morine memerintahku Sambil merangkak aku menghampiri kaki  Morine aku menciumi dan menjilati betisnya , jilatanku terus naik-naik dan naik ,  Morine mengangkangkan kedua kakinya seolah – olah memberi jalan bagiku. Tanpa membuang banyak waktu aku mengendus-ngendus selangkangan  Morine.

“Good Boyyy…. “tangan  Morine menepuk-nepuk kepalaku, kedua kakinya naik kebahuku namun kemudian dengan kasar menendang bahuku sehingga aku terjengkang

“Aduh…” Aku terjengkang kebelakang, aku semakin geram dengan perlakuan  Morine yang semena-mena .

“Morine jangan gitu donggg kan kasihan Mang Trimin….” Nia membelaku.

“Iya ihhh… koqq kamu tega… sihhh…” Sandy juga ikut membelaku,  Sandy dan  Nia memang baik hati berbeda sekali dengan  Morine, Gadis Chinese yang satu ini memang bandel, genit, nakal, dan galak.

“Biar aja!!!! ” Morine mendengus kesal kemudian ia duduk bersandar disofa.  Sandy dan  Nia membantuku berdiri

“Mang Trimin ngak apa-apa kan ?” Nia bertanya dengan lembut.

“Jangan dimasukkan dihati mang, Morine memang seperti itu orangnya…. Nanti aku kasih yang lebih asik yah…” Sandy berbisik ditelingaku. Aku menelan ludahku ketika  Sandy menyuruhku agar menelanjanginya, namun aku ragu, aku hanya berdiri mematung menatap mata  Sandy.

“Waduhhh tititnya Mang Trimin Koqq kempes kayak balon panjang  aja….. kena paku ya mang….? Kudu ditambal donggg supaya he he he he” Sandy mengodaku, terus terang aku masih geram dengan perlakuan  Morine sehingga nafsu seksku turun.  Sandy meraih tanganku dan meletakkan tanganku pada buah dadanya

“Terserah mang Trimin mau ngapain…..” Sandy memandangiku dengan tatapan matanya yang menggoda, aku seperti api yang hampir padam terkena guyuran minyak , kedua tanganku kini meremas-remas buah dada  Sandy, aku membalikkan tubuh  Sandy dan memeluknya dari belakang  Sandy…

Aku meremas-remas kedua dada  Sandy, sambil melakukan remasan-remasan tanganku melepaskan kancing baju seragam  Sandy, setelah selesai melepaskan pakaian seragam  Sandy , aku melepaskan pengait bra dan kemudian kuloloskan bra putih  Sandy. Kedua tanganku kini mengusap-ngusap dan meremas lembut buah dada bagian bawah yang sangat halus dan lembut.. Aku melirik  Nia, hatiku merasa tersentuh karena  Nia yang baik seperti kebingungan , aku menarik tangannya dan juga membalikkan tubuhnya kemudian melepaskan pakaian seragam sekolah  Nia dan juga Bra warna pink yang dikenakannya.

“Ihhhhhh mang Trimin serakah amattt he he he Hmm Mmmmm” Sandy berkomentar, namun mulutnya kusekap dengan bibirku. Tanganku yang satu bergerilya meremas-remas buah dada  Nia sedangkan yang satunya asik meremas-remas buah dada  Sandy.  Sandy menarik wajahnya sehingga ciumanku terlepas, kedua tangannya kini menarik kepala kemaluanku, diselipkannya kepala kemaluanku pada sela-sela pantatnya yang hangat, kemudian  Sandy menggoyang-goyangkan pantatnya.

“Uhhhh… belajar dari mana Non ? ” Aku bertanya pada  Sandy.  Sandy tidak menjawabku ia hanya tersenyum, kadang-kadang aku meringis kegelian karena himpitan buah pantat  Sandy.

“Mang Trimin sendiri belajar dari mana ?” Sandy malah balik bertanya padaku.

 

***************

Lima belas tahun yang lalu

“Diam kau gadis tengik…..ha ha ha” Aku menodongkan pisau pada seorang gadis cantik, si cantik ketakutan, tanganku bergerak menjamahi buah dadanya dan kemudian..

“Jangan Bang ampunnn….”Sicantik memelas memohon kepadaku ketika aku meremas-remas buah dadanya, airmata mulai meleleh dari matanya yang indah

“Brak…… hajar…. Siram!!!! Bakar…”Aku dikejutkan ketika pintu tiba-tiba didobrak dari luar , segerombolan orang menyerbu masuk, mereka menghajarku, menyeretku kesuatu tempat, beberapa temanku sudah banjir darah babak-belur dihajar massa . Seseorang mengguyurku dengan bensin…. Dan…

 

**************

“Lohhh….ditanya koq bengong sih mang ? “suara  Sandy tiba-tiba menyadarkan lamunanku. Aku mengecup bibir  Sandy,  Nia menggeliat melepaskan tubuhnya dari pelukanku, kemudian  Nia bersujud dihadapan  Sandy dan…

“Uchhhh Niaaa….. enakk…”tubuh  Sandy menggelepar hebat ketika  Nia menjilati bibir Vagina  Sandy. Kedua tanganku mencengkram pinggul  Sandy kemudian aku menekan-nekankan kemaluanku dengan lembut, tubuh  Sandy bergerak terdorong perlahan kadang-kadang ia terdorong dengan kuat ketika aku melakukan tekanan yang kuat pada belahan pantatnya. Serangan  Nia dan seranganku membuat  Sandy meringis-ringis dan

“Aaaa Ahh… Crrrr” tubuh  Sandy mengeliat indah dan terkulai lemas dalam pelukanku, setelah menciuminya dengan lembut Aku melepaskan  Sandy. Aku tidak dapat menahan nafsuku ketika melihat  Nia yang masih asik menjilati vagina  Sandy, Aku mengangkat tubuh  Nia, kudorong tubuhnya agar berpelukan dengan  Sandy dan mereka berciuman dengan lembut. Aku bersujud dihadapan buah pantat  Nia, tanganku meremas-remas buah pantatnya yang padat dan kencang kemudian lidahku terjulur memoles-moles sela-sela pantat  Nia,  Nia menggoyang-goyangkan pantatnya , gelorabirahi.com rupanya dia kegelian. Aku menekan buah pantat  Nia dan kemudian lidahku menggeliat-geliat, lidahku semakin kuat menggeliat kedalam anus  Nia.

“Auhhhh…. Mang Trimini….”  Nia menarik pantatnya dan menepiskan tanganku yang mencengkram pinggulnya.

“Ehhhh kenapa ?”  Sandy bertanya karena tiba-tiba ciumannya yang lagi hot-hotnya dengan Nia jadi terganggu.

“Lidah mang Trimin… Euh.. “  Nia tidak melanjutkan kata-katanya, wajahnya merah padam. Aku merangkak dan menghampiri  Nia, lidahku terjulur menjilati Vagina  Nia, tubuh  Nia bergetar hebat, rintihan-rintihan  Nia. Membuatku ingin melakukan aktivitas yang lebih mengasikkan

 

“Non.. kalau dicelup gimana…? Mau ?” Aku bertanya pada  Nia.  Nia memandangiku tidak mengerti.

“Maksud mang Trimin……….”  Nia tidak melanjutkan kata-katanya sepertinya dia baru tersadar maksudku.

“Tapi… aku masih perawan manggg..” Nia tampak keberatan.

“Ya ngak masalah… kan Cuma maen diluar aja…. Tapi nikmatnya wahhhh… 1000 x lebih nikmat ketimbang dijilat…..”kataku ambil mengusap-ngusap kedua pahanya, tanpa menunggu jawabannya aku menidurkan Nia diatas permadani bermotif bunga matahari .

“Tapi…. Mang Trimin yakin… ngak akan sampai itu…” Nia menggeser pantatnya ketika aku mencoba menggesekkan kepala kemaluanku menjilati Bagian bibir vaginanya .

”Saya yakin Non… keperawanan letaknya kan didalam… jadi kalo sebatas kepala kemaluan sih masih aman-aman saja koqq”Aku menjawab keraguannya.

“Hmmm berarti.. beneran yah yang ada dibuku pelajaran biologi….” Sandy memandangiku, aku hanya tersenyum sambil menangkap kedua kaki  Nia. Nafas  Nia terdengar sangat berat ketika aku mulai menggesek-gesekkan kepala kemaluanku pada gundukan mungilnya.

“Hmmhh… “pinggangnya melenting keatas ketika aku berusaha mencelupkan kepala kemaluanku pada belahan diantara bibir Vaginanya. Aku menekan berkali-kali berusaha memelarkan bibir Vagina yang masih peret akhirnya menekan sekali lagi kali ini dengan disertai sentakan yang kuat dan

“Crebbbb Slepppsss” kepala kemaluanku seperti melesat dan dijepit oleh bibir Vagina  Nia.

“Akssssshhhh….. ” Nia terkejut dan mulutnya terbuka seperti huruf O, tubuhnya melenting-lenting berusaha melepaskan diri namun aku mencengkram pinggulnya kuat-kuat.

“Hahhhhh gilaaa… Nia.. Mang Trimin aduhhhh….!!!”  Sandy terkejut, sementara nafas  Nia yang tadinya tersenggal-senggal kini mulai dapat mengatur nafasnya , keringat – keringat nakal mulai membasahi tubuhnya yang putih dan mulus. Tangan kirinya meraba-raba gundukan Vaginanya , matanya mulai berair

“Mang Trimin… Hhhh… Hhhhhh”  Nia agak terisak, aku kebingungan,  Nia menjelaskan sambil terisak rupanya ia takut keperawanannya terrengut olehku.

”Tenang…kan ngak ngerasain sakit…itu artinya keperawanan masih aman…”Aku menjelaskan padanya, setelah kujelaskan secara rinci dan teliti  Nia berhenti terisak-isak. Aku memegang Batang kemaluanku, sesekali kugerakkan kemaluanku berputar dan sesekali kugoyangkan ke kanan dan ke kini, Bibir Vagina  Nia yang masih mengemut kepala kemaluanku juga ikut monyong keana kemari mengikuti gerakanku. Mata  Nia terpejam-pejam, bibirnya mendesah-desah ketika aku menggoyang kepala kemaluanku kekiri dan kekanan.

“Achhhh… Unghh……..Crrrrrrttt ” Nia melenguh panjang, tubuhnya menggeliat dalam gerakan yang fantastis dan gemulai, keringat nakal tambah banyak dan kini menetes deras membasahi tubuhnya yang menggairahkan.

“Aku mangg….” Sandy berbaring disisi  Nia dan ia mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar. Aku meneduhi tubuhnya dan menciumi buah dada  Sandy, aku senang banget sama Dada  Sandy karena dadanya lebih gede dibandingkan kedua temannya, ciumanku merambat turun, turun dan turun sampai hinggap digundukan mungil diantara selangkangannya, lidahku menggeliat-geliat liar , menyelinap diantara belahan bibir vagina  Sandy,  Sandy menekan-nekan kepalaku sambil sesekali mengangkat-angkat pinggulnya.

cerita hot 2016, cerita hot terbaru, cerita hot, cerita sange 2016, cerita sange terbaru, cerita sange, cerita panas 2016, cerita panas terbaru, cerita panas, cerita syur 2016, cerita syur terbaru, cerita syur, cerita lucah 2016, cerita lucah terbaru, cerita lucah, gelora birahi

Aku mulai mengambil posisi, kutempelkan kepala kemaluanku pada Bibir Vaginanya, terus aku mulai mencongkel-congkel sampai  Sandy mendesis-desis dan merintih panjang.

“Manggg…..” Sandy menarik pinggulnya sambil menutupi bagian Vaginanya dengan kedua belah tangannya, ia menarik pinggulnya kebelakang ketika kepala kemaluanku mulai mendesak bibir vaginanya rupanya ia ragu-ragu. Aku menyingkirkan kedua tangan  Sandy, dan sekali lagi kembali kutempelkan kepala kemaluanku pada bibir Vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku lalu ku tekan kepala kemaluanku perlahan-lahan dan

“Akhhhhhh Mangg…!!! ” Sandy menjerit kaget ketika kepala kemaluanku melesat masuk,  Sandy terkulai lemas, nafasnya memburu kencang, sesekali ia merintih keras ketika aku menggoyang kepala kemaluanku dengan liar.

“Owww rrcckkk Crrrrr” Sandy memejamkan matanya rapat-rapat menikmati kenikmatan yang datang menerpanya.  Morine menghampiriku namun aku tidak mempedulikannya , aku malahan  asik memainkan buah dada  Nia yang kini kembali mendesah-desah, sambil mendengus kesal  Morine meninggalkan kami bertiga.

“Sudah- sudah…. Sudah sore…..udah mau hujan…..” Morine cemberut,  Nia dan  Sandy terkekeh-kekeh kemudian mereka berdua menolak keinginanku untuk melanjutkan permainan lebih lama lagi, aku kemudian mengantarkan  Nia dan  Sandy pulang.

cerita,sex,seks,dewasa,mesum,bokep,ngentot,hot,sange,telanjang,panas,syur,lesby,

gay,homo,bugil,telanjang,tante,bispak,kontol,memek,vagina,lendir,

onani,masturbasi,anal,kimcil,xxx,bondage,perkosaan,cabul,skandal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.